Kuik Kaun = Quik Count

Hari ini,8 Juli 2009, kita melaksanakan “hak ataupun kewajiban kita sebagai WNI yang baik”. Dengan begitu banyaknya hambatan dan keraguan dan ketakutan, proses masih berjalan sampai dengan adanya putusaan dari KPU siapakah yang jadi pemenangnya dan sampai pelantikan sang pasangan presiden dan wakilnya 20 oktober 2009 nanti. Tapi, sebelum proses akhir yaitu pengumuman capres dan cawapres terpilih (real count), ternyata ada jurus jitu menhitung perolehan suara yang dilakukan oleh lembaga survey (yang katanya mereka independent, tapi dana dan tujuan utama mereka mungkin dapat dipertanyakan) yang difamiliarkan melalui media yakni “kuik kaun”, alias quik count.

Ada apa dibalik tujuan perhitungan cepat ini?
Jawaban paling netral tentu “penyemarak pemilu”, dan paling masuk akal (beginilah metode perkiraan mendekati para paranormal) untuk memprediksi sebelum hasil final keluar. Intinya masyarakat Indonesia sejak merdeka telah menjadi sebuah masyarakat yang menginginkan sesuatu yang tersaji dengan cepat dan proses itu urusan belakangan (apa ada fakta? nanti kita carikan!).
Isu, ada media yang dimonopoli atau memang digunakan oleh calon secara ‘tunggal’ untuk mencitrakan dan membuat pola atau cara untuk menarik pemilih, disini si media menjadi tidak netral (artinya jelas, segala perhitungan dan kegiatan adalah untuk mengangkat citra salah seorang calon dan menjatuhkan calon yang lain!). Meskipun demikian, kita dapat menerima cara itu sebagai penyemarak kegiatan pemilu tahun ini, dan lima tahun lalu.
Tetapi, pertanyaan muncul ketika ada pidato kemenangan dan program-program acara yang mendoktrin seolah-olah pemilu telah selesai dengan adanya “kuik kaun” tersebut. Hebat sekali jurus cepat saji ini. Si capres “kuik kaun” telah memberikan kata-kata manis, dan para jurnalistik menanyakan “apakah si presiden kuik kaun telah mendapat ucapan selamat dari yang dikalahkan versi quik count?”

Selebrasi yang aneh, dalam pertandingan sepak bola, pertandingan belum berakhir selama belum ada bunyi peluit tanda pertandingan berakhir. Tapi, disini wasitnya tidak sah, dan mengeluarka pernyataan pemenang, dan mereka berlagak sudah memenangkan pemilu. Ingat wasitnya adalah KPU! Jadi bagi para jurnalistik jangan bertanya kepada para kandidat yang dikalahkan dalam “kuik kaun” kalau “apakah anda masih optimis akan ada perubahan?” (Teman, itu pertanyaan yang aneh!).

Sebenarnya, jauh dari tujuan hingar-bingar pesta demokrasi ini, menurut saya “kuik kaun” lepas dari tingkat keakuratan ataupun independensinya telah mempengaruhi sedikit banyak persepsi masyarakat, dan faktanya apapun hasil metode ini sungguh tidak pantas direspon secara berlebihan karena tidak akan mempengaruhi hasil sesungguhnya. Sebab, harus kita percaya metode ilmiah pasti memiliki ‘sample error’.
Menurut beberapa pengamat, bahkan Taufik Ismail dalam puisinya mengungkapkan dalam perjalanannya pemilu masa ini adalah yang terburuk.
Sehingga saat ini kesempatan bagi KPU untuk menggenapi “asas pemilu yang LUBER” secara independen.

Akhirnya, biarkan KPU meniup peluit tanda pertandingan berakhir, apapun hasilnya harus akan kita hormati, entah dilanjutkan ke pertambahan waktu atau dengan pernyataan pemenangnya.

Myfictionwords…

Advertisements

About this entry