Kick’S_Singapura (mungkinkah?)

“Indonesia…Merah darahku…Putih Tulangku…”.

Negara yang berdaulat adalah negara yang terdiri dari kesatuan wilayah, pemerintahan dan masyarakat yang hidup di teritorialnya. Wilayah adalah batas-batas ‘rumah’ yang dilindungi dengan pagar-pagar peraturan (International Law memegang fungsi penting disini). Pemerintahan yang berdaulat adalah pemerintahan yang mendapat pengakuan secara de facto dan de jure. Masyarakat atau warga negara adalah penghuni atau civilian yang menyerahkan sebagian haknya untuk di’harmoniskan dalam bingkai kenegaraan.
Ketika Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945 dengan Pancasila sebagai landasan ideologis. Para proklamator telah merumuskan “cara pandang” dalam lima sila yang menjadi ‘ruh’ kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tetapi dalam perkembangan dalam kehidupan sampai saat ini, bahkan dasar negara masih dipertanyakan “keampuhannya” dalam menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dimanakah hikmat kebijaksanaan ketika wilayah di’masuki’ tanpa izin? Dimanakah persatuan Indonesia ketika banyak daerah ingin melepaskan diri? dan dimanakah Ketuhanan dan Keadilan dan Kemanusiaan ketika putra-putri bangsa pulang dalam peti kayu “RIP” dan wajah hasil ‘permak’an manual dari negara tetangga dalam bingkai “taman internasional?”
Cerita duka tentang, anak Indonesia yang menjadi bangkai ataupun kompos di perut bumi setelah menyumbangkan devisa bagi negara tercinta adalah cerita klasik yang menjadi fokus tiap tahun. Media meliput dengan senyum sumringah dan para duta besar berbicara seperti “sang bijak” di depan kamera TV. Mereka selalu berkata : “Kita sudah berusaha…” (artinya klo mereka sudah berusaha dan tidak ada hasil, sebenarnya APA YANG TERJADI?).

Jika melihat sejarah sampai hari ini, kita melihat wibawa ‘manusia’ Indonesia telah ditempatkan dibawah kulit pisang yang dilemparkan bersama ke tempat sampah. Tidak ada penghargaan untuk warga negara negeri ‘kaya raya’ ini. Berkali-kali TKI pulang dengan nasib apes (jika kita harus menyalahkan nasib), dan pemerintah tercinta hanya terdiam dengan ‘bacot khas terpelajar’ , bahwa “ada hal-hal besar yang harus diutamakan”.
Sungguh yang tidak bisa kami mengerti, apakah yang lebih berharga dari nyawa kami? Bagaimana sebuah negara menyatakan “ada hal yang lebih besar, ketika unsur negara sebagai suatu kedaulatan di”negasikan” yaitu warga negaranya. LUAR BIASA!

Jika, mental seluruh penghuni negeri ini telah cacat, maka dapat dimengerti, bahwa Indonesia mungkin adalah Negara cacat, dengan pemerintahan yang cacat, warga yang cacat, walaupun wilayah yang sempurna. Sisa-sisa zaman Feodalisme, mental budak, ABS, penjilat, munafik, dan virus busuk lainnya yang seolah-olah telah menjadi suatu kesatuan DNA dalam setiap ‘personal’ penghuni negeri ini. Bagaimana Pemerintah yang sarat KKN memimpin negara ini, dan pasti akan membentuk rakyat yang menjadi ‘MINDER’ dalam percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Teman, kita adalah Bangsa yang besar yang lahir dalam kehancuran ‘penghargaan yang salah kaprah’. Pahlawan pembangunan kita adalah Penjahat yang harusnya ber-TJ atas kejadian yang menimpa kita sampai detik ini. Lucunya, kita dengan ‘rasionalitas’ kita (asumsi pengamat) memilih untuk melanjutkannya. Benarkah masyarakat sudah cerdas?

Sekarang, jika berbicara tentang martabat bangsa? Kita marah ketika bendera kita diinjak-injak, marah ketika kapal perang tetangga melintas tanpa izin, tapi tidakkah kita pantas bereaksi untuk “nasib” saudara-saudara kita di negeri seberang. Entah kapan mereka akan jadi prioritas. Semoga sebelum Indonesia bubar!

Fictitious

Advertisements

About this entry