Si pejuang hilang di rumah…

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

Ketika para pejuang negeri kita berjuang di ‘era kemerdekaan’, mereka dengan segala kemampuannya berusaha memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Mereka bertahan dari masa ke masa, dari era jajahan Hindia-Belanda yang menjadi cikal bakal negeri ini (yang melahirkan pahlawan nasional kedaerahan), sampai pejuang hari ini.

Tapi, siapakah pejuang hari ini? Apakah seorang pejuang bagi negara ini, adalah mereka yang harus menitikkan keringat melebihi air yang mereka minum, atau mereka yang harus terlebih dahulu berselimutkan tanah. Pejuang dalam ingatan saya masih mereka yang berusaha merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tapi. sayang mereka tidak mendapat gelar Pahlawan. Tidak cukup hidup dan menjadi rakyat atau pejuang sekalipun dalam era perjuangan, tapi anda harus menjadi seorang Jendral Soedirman, WR.Soepratman, dan tokoh cendekiawan lainnya. Lalu apakah sebutan mereka yang gugur di medan perang di garis depan? KORBAN? Hebat sekali, si perancang menjadi Pahlawan dan si korban adalah ‘kacung’, namamu tidak mentereng teman, tidurlah yang nyenyak di alam sana.

Dan pejuang-pejuang yang tinggal, karena kebaikan Sang pencipta, atau banyaknya antrean pejuang di akhirat sana, menjadi pesakitan di rumah yang mereka perjuangkan dulu. Masamu sudah berakhir ‘jompo-jompo tua’, pulanglah ke desa, dan semoga ada yang mengenalimu. (itu isyarat terbaik dari pemipin negara ini.)

Mereka tinggal di gubuk reyot, kosan negara, dan rumah potensi kena gusur. Tapi, pemimpin-pemimpin masih berani berkata atas nama rakyat Indonesia. Ironis…
Si pejuang mencari pemimpinnya dulu, yang mengatakan kemerdekaan adalah langkah awal menuju cita-cita nasional. Tapi, setelah merdeka, lagkah mereka sudah terhenti, mereka diingat hanya ketika musim kampanye presiden, dan terlupakan setelah hari kampanye selesai.

“Selalu ada Udang di balik Batu!”

Pejuang-pejuangku, semoga kamu masih tahu jalan pulang ke gubuk reyotmu, masih tahu warna bendera yang dulu kamu perjuangkan, dan tidak mengutuk anak-anak negeri ini, dan masih tahu bahwa anak-anak pewarismu ini hanya lupa, sebagai sifat dasar manusia.

Pejuangku, jika kelak kamu telah sampai de negeri jauh, katakan pada orang-orang di sana bahwa negara yang dulu saya perjuangkan akan menjadi lebih baik.
Apalah arti sebuah nama pejuang, bagiku anda tidak berbeda jauh dengan Pahlawan Dalam Buku Sejarah itu.
Anda adalah Pejuang…

Cukup sudah!!!

Advertisements

About this entry