Tentang Tuhan

Jauh berjalan dalam relung-relung zaman, tiap era kehidupan mempertanyakan eksistensi “term” yang satu ini. Sehingga muncullah golongan “atheism” dan “theism”.
Siapa?
Apa?
Bagaimana?
Kenapa?
Untuk Apa?

Pertanyaan itu yang menjadi permasalahan tentang eksistensi “nya”. “siapa atau apa tuhan itu? bagaimana tuhan itu ada? kenapa tuhan itu ada? dan untuk apa tuhan itu ada?”
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas telah melahirkan dua golongan besar pola “ketuhanan” ; Percaya dan Tidak Percaya!
Yang menarik, di Indonesia, sesuai KBBI, masalah ketuhanan ini lebih dibawa kepada kadar “keimanan”. Indonesia berangkat dari “statement, bahwa Tuhan itu ada, dan permasalahannya sejauh mana orang-orang Indonesia mempercayainya, dalam kadar atau tingkat keimanannya. Sedangkan di negara lain (Inggris, semisalnya) masalah ketuhanan, ada dalam “Keadaan dan Ketiadaan Tuhan”, (berpikir ada Tuhan dan berpikir tidak ada Tuhan).

Ketuhanan kemudian direfleksikan manusia dalam “agama”. Kemudian lahirlah statement-statement yang berusaha mengingkari eksistensi ‘nya’.

“Agama adalah candu.”

“Tuhan telah mati, dan kita yang telah membunuhnya.”

“Tuhan yang baik tidak akan tinggal di surga, seperti kata nenek moyang saya, tetapi dia akan turun dan ada di sini di Bumi.” artinya kita sendiri bisa menjadi tuhan…

Evolusi Darwin menjadi tonggak rasionalitas manusia yang paling mengkritik eksistensi agama dan ketuhanan. Telah ditemukan sebuah Bumi baru, dalam tata surya kita yang disebut “Bumi Super”, karena ukurannya lebih besar dari Bumi dan mungkin ada tanda-tanda kehidupan.
Kembali eksistensi-Nya, akankah dipertanyakan ketika disana benar-benar ada kehidupan. Mungkin ratusan tahun atau ribuan tahun dari sekarang ketika Evolusi Darwin menemukan ‘mata rantainya’ yang hilang.

Advertisements

About this entry