Surat Buat Sang Pengantin Teror

Salam berdarah (bukan maksudku, ketika basuhan air sudah tidak cukup lagi membersihkan luka-luka ini).

Bersama tetesan darah dan sisa-sisa kekuatan kutuliskan surat ini untukmu, saudaraku yang telah menyakitiku, membuatku cacat dan membunuh orang-orang yang kusayangi, dan kenapa aku tidak saat itu juga?

Saudaraku, apakah yang telah membuatmu menjadi sekarang ini? Jangan katakan urusan perut talah memaksamu, dan jangan katakan kamu melakukannya dengan kepastian teguh dari hati terdalammu. Lihat tanganku sobat, aku menulis dengan telunjuk yang hampir putus.

Apakah salahku yang tidak bisa kau maafkan? Jangan katakan, kesalahan-kesalahan yang kau sendiripun mungkin melakukannya. Lihat mataku ketika kau mengatakannya. Apakah dosaku, sehingga kau merasa berhak mewakili Sang pencipta menghakimiku? Jangan katakan dosa-dosa yang mungkin kau sendiripun melakukannya. Lihat mataku sobat.

Sahabatku, Jika kau adalah saudaraku yang berpijak di tanah Ibu Pertiwi yang sama, siapa yang memaksamu? Apa yang memaksamu? dan Kenapa kamu mau melakukannya? Kita lahir dari rahim yang sama, makan dari tanah yang sama, dan membusuk di tanah yang sama, tapi aku tak mengerti kenapa begitu mudah-nya kamu melakukan semua itu? Kamu meninggal dengan menyisakan tangis dan tanya teman. Lihat mataku sobat, air mataku telah habis untuk mengaisi bangkai-bangkai orang yang kusayangi.

Sahabatku, Jika kau adalah manusia yang lahir dari rahim seorang Ibu, dan menghirup udara yang sama, Kenapa Kamu melakukannya teman? Luka apa yang menguasaimu? Ajaran siapa yang mengendalikan otakmu? Aku tetap tidak akan mengerti bahkan ketika kamu dapat menjabarkannya dengan opini-opini yang masuk akal. Lihat mataku sobat, air mataku telah habis untuk membersihkan darah di hatiku.

Sahabatku, jika kamu adalah seorang yang ber-Tuhan, dan mengetahui bahwa damai adalah tujuan yang akan kamu capai, kenapa kamu melakukannya teman, sebab aku juga mencari perdamaian. Sahabatku, jika Tuhan-mu adalah pembunuh, maka aku adalah orang pertama yang akan mengutuknya dan jika Tuhan-ku adalah pembunuh maka aku adalah orang pertama yang akan meludahi-nya. Lihat mataku sobat, sudah memutih karena kbencian yang dalam akan perbuatanmu.

Kelak, jika kita bertemu dan kamu masih dicecari dengan otak penerormu itu, mohon peluklah aku untuk terakhir kalinya, katakan:

Aku minta maaf.”

Sebab saya tahu, kamu tidak menginginkan ini sungguh. Satu hal yang saya yakini, ketika kamu tertangkap, menyerahkan diri, dan di proses di negara hukum kita ini, saya adalah orang pertama, yag memastikan jasadmu akan utuh, tidak tercabik-cabik, dan wajahmu akan tetap dikenali, dan yang pasti, eksekusimupun akan mengalami pro-dan-kontra sebab kita manusia yang beradab.

Kami akan membunuhmu dengan cara yang lebih manusiawi, Paling tidak kamu akan tahu kapan, bagaimana, dan seperti apa kematianmu. Lihat mataku sobat, dendam ini tidak akan pernah terbalas.

Dari,
Saudaramu

 

 

Advertisements

About this entry