Apakah mereka bilang “Sampai Jumpa…”

Teringat cerita tentang seorang sahabat yang telah kehilangan sahabat terbaiknya. Banyak hal yang memaksa mereka untuk mengingatnya kembali.

“Today it’s been 5 years my mom with GOD in heaven,I know she’s happy now,but I’ll always miss her all the way…until we meet again I know you allways be my angel…miss you…”

“is singing one of d’Ari Lasso’s, “aku menangis, mengenangmu, segala tentangmu, ku memanggilmu, dalam hati…lirih… ku kenang dirimu….”

Beugh…
Berat sekali menjadi orang yang ditinggalkan, (atau lebih berat meninggalkan?), tapi apakah itu hanya perasaan sesaat? Ketika masalah kembali dan kesibukan duniawi datang menghampiri, semua keangan-kenangan itu terhapuskan. Hal yang normal (begitulah ajaran itu masuk mendoktrin isi kepala) dalam perjalanan hidup ; lahir, bertumbuh, tua dan mati…
Si sahabat hanya menjadi potongan masa lalu yang akan kita ingat ketika kita menjauh sesaat dari rutinitas kehidupan. Bahkan ketika kita berada dalam kesedihan terdalam, ingatan tulisan nama sahabat di papan nisan, akan menjadi pengingat kita. Semua telah berlalu, surga perhentian terakhir semoga benar-benar ada untuk tempat sang sahabat. (Ketuhanan benar-benar membantu ketika sampai di tahap terakhir kehidupan duniawi ini).

Semakin kuberjalani melintasi ruang-ruang waktu ini, dari era ketika masa kecil sampai saat ini, banyak orang datang dan pergi, seperti dalam hotel, tapi disini, buku tamu ada di kepalaku, mereka datang dan kemudian pergi, dan saya tidak pernah benar-benar tahu kemana mereka berangkat dan dari mana mereka datang. Saya menyadari keberadaan mereka ketika mereka benar-benar telah pergi. Mereka juga sepertinya berpikiran yang sama, tidak jauh berbeda dengan isi di kepalaku.
Tapi, menjadi hal yang lain cerita, dan perasaan sedih yang berbeda ketika si sahabat yang satu ini pergi, Dia datang pertama kali, ketika saya menangis “bising” di hari pertamaku melihat dunia. Dia orang yang pertama sekali mencium kepalaku ketika aku hanya sebentuk kepolosan tak bernoda, dan dia yang selalu mengatakan, ‘anakku sayang’, bahkan ketika saya membuatnya marah… Semua perasaan sakit hilang seketika saat berada dalam pelukannya. Sungguh tiada duanya…
Tapi, hari itu dia pergi tanpa meninggalkan salam, tanpa pesan hanya meninggalkan jasad yang akan membusuk. Dia tidak tersenyum, bibirnya terkunci rapat. Matanya tertutup ,mungkin jemu melihat busuknya dunia, dan alasan satu-satunya bertahan hidup dari dulu mungkin hanya untuk melihatku tersenyum. Saya yakin Tuhan ada, dan sebagai imbalan atas kepercayaan itu, saya yakin dia akan mendapatkan tempat terbaik di surga sana.
Sahabatku, jangan resah lagi dengan diriku di dunia ini, bercengkeramalah dengan orang-orang disana, biarkan saya disini, melanjutkan hidup, mencari hakekat hidup dan semoga, dulu…
Ciuman pertama itu, adalah ucapan “sampai jumpa…lagi” darimu…

Sampai jumpa lagi…

^_^

Advertisements

About this entry