Humanisme… penawar culture attack…

“Jika semua hal telah berjalan sesuai isi kepala per-individu dan tak bertabrakan, maka individu-individu itu pasti berada di ruang yang berbeda”

Manusia adalah mahluk individu. Pernyataan para ahli seperti ini sepertinya adalah ekspresi untuk mencitrakan eksistensi manusia secara alamiah. Manusia secara alami adalah mahluk yang terpisah dan tidak membutuhkan manusia lain pada tingkat tertentu, pada tingkatan lainnya manusia menjadi mahluk sosial yang membutuhkan manusia lain untuk hidup atau melakukan kegiatan yang dalam perspektif peradaban disebut “mahluk sosial.” Manusia pada perkembangan peradaban bahkan masih menyakinkan bahwa manusia adalah mahluk yang egoistis. “Manusia adalah serigala pemangsa bagi yang lainnya”, hal ini dapat kita lihat dari berjuta banyak fakta bahwa manusia dalam tingkatan egoisme-nya telah menjadi pemangsa bagi sesamanya, peperangan adalah bukti paling sahih-nya.
Tetapi, sampai sejauh mana hakekat manusia sebagai individu yang tidak butuh manusia lainnya untuk ‘hidup’? Pertanyaan ini adalah hakekat inti yang harusnya dapat menjawab segala bentuk kegoisan yang menyesatkan. Paradigma berpikir bahwa manusia adalah mahluk individu hanya dapat kita terima sampai tataran sandang, pangan dan papan saja yang bahkan kesemuanya kebutuhan itu adalah cikal-bakal lahirnya hubungan sosial. Ketika sampai pada tataran masyarakat yang berkeluarga, bermasyarakat, bernegara, dan dunia internasional, pandangan ‘mahluk tunggal’ yang tidak butuh orang lain adalah sebuah kesalahan. Tetapi, adalah kebutuhan individu yang membentuk pola ‘individuisme’ tersebut. Kebutuhan dan keinginan berbeda-beda, makanan berbeda, budaya berbeda, bahkan perputaran roda waktupun berbeda dalam dunia yang sama. Ketika individu-individu dengan latar-belakang berbeda terhubung dalam bingkai ‘kesosialan’, maka tak dapat dipungkiri tabrakan pasti akan terjadi, yang sampai saat ini, individu dengan latar belakang sama saling bentrok dengan kelompok individu lainnya.

Jadi, usaha liberalisasi nilai-nilai yang dianggap unggul yang di’promosikan’ secara alami atau paksaan seharusnya akan mengalami perlawanan dari tiap individu yang ditempa latar-belakang tersebut. Tetapi, disini keterbukaan dan daya tarik nilai-nilai dan budaya lain akan sangat mempengaruhi pilihan-pilihan untuk menerima dan menjadi pengikut budaya tersebut.

Satu hal penting yang harus disadari oleh seluruh manusia penghuni jagad ini, bahwa seluruh manusia adalah sama, dan tentunya seharusnya tidak ada budaya unggul yang disuntikkan dengan kekuatan ekonomi, politik dan kekuatan lain yang akan menghilangkan budaya lainnya. Tidak ada bahasa internasional yang akan menghabisi seluruh kreativitas budaya bahasa masa lalu. Tidak ada atandart formal untuk berbusana etis atau sopan dan sebagainya karena kita adalah manusia dengan latar-belakang budaya, keadaan geografi dan penentu lainnya yang membedakan tiap individu…

Seharusnya humanisme adalah alasan terbaik untuk melakukan pemenuhan kebutuhan hidup individu dalam mengembangkan dan memenuhi kwalitas hidupnya dalam bingkai masyarakat melalui penghormatan dan penghargaan terhadap manusia lainnya yang kita harus akui berbeda…

Advertisements

About this entry