Aku Ambil Waktu-ku

Pikiran-pikiran itu memaksaku berhenti sejenak menatap ke belakang. Waktu yang sekian lama kulalui tiada sedetikpun bersuara atau menyerukan bahwa saat itu adalah saat yang seharusnya kumaksimalkan. Banyak hal yang memaksaku mengingkari banyak keadaan, memaksaku berbuat yang tidak saya inginkan. Sampai saya bahkan merasa bahwa saya melakukannya untuk diri saya.

Saya melewati detikan waktu tanpa menyisakan waktu untuk jiwa, yang tetap mengiringi badan ini. Jiwaku bernyanyi ketika saya bersedih, karena pada saat itu sang jiwa benar-benar menjadi aku yang seutuhnya. Tiada yang lain yang membatasi resapan dan renungan jiwa.

Aku berlari kencang, melawan arah dengan segenap tenaga, tanpa perduli akan terpental kelak.

Tapi apa peduliku!

Banyak hal yang buruk terjadi dan mungkin akan lebih buruk karena saya tidak berbuat apapun. Semakin banyak waktu dan senyum yang kugadaikan. Ketika melakukan segala sesuatu menurut logika sederhana yang terbatas.

Tapi apa peduliku!

Semua akan berlalu, tapi kuharap sudah kupunyai waktuku sejak saya memandang kembali ke depan.

Saya akan mengambil waktuku!

Bukan untuk menjauh darimu dan menjadi si egois yang buta.

Hanya untuk meyakinkan dan membujuk sang jiwa, bahwa tiada yang salah dengan waktu dan yang lainnya. Tiada yang terbuang!
Toh,
Apa peduliku!

Sayapun bukan pencuri waktu
Tidak mencuri waktumu
Tidak mencuri waktunya
Paling tidak waktu untukku
Bisa kau sisakan untukmu

Saya ambil waktuku!

Advertisements

About this entry