Kuman – Kuman Tua

Segerombolan kuman yang masih menempel dalam struktural yang menjadi pembisik dan pengambil keputusan lini kedua ke bawah sebuah perusahaan minyak 24 karat & kentut bumi. Ragam cara mereka supaya awet dalam struktural. Di saat para pendobrak sudah bermunculan walau dalam hitungan jari kaki yang tidak lebih dari 10, para kuman – kuman ini masih piawai menjadi jembatan kebobrokan terdahulu dengan pekerjaan reformasi yang sudah lebih dari 17 tahun dan tidak kunjung selesai. Kuman ini tangguh (bukan karena satria gagah berani tetapi pintar melakukan servis) dan mungkin mereka mengetahui “bobrok” kuman lain yang menggantungkan diri dalam gagang jendela hati iba para pendobrak.

Entah, siapa yang membisikkan rekruitmen anak – anak para eksekutif pemerintah untuk masuk pada perusahaan minyak & kentut bumi ini. Jika bisikan ini dari para kuman tua seabagai terobosan pragmatis romantis, alangkah saktinya para kuman tua ini. Legalisasi pemikiran kuman ini begitu menyentuh realita dan akan sangat efektif memupus harapan si ujang, ucok dan acong  yang sedang dimabuk asmara menjadi pendobrak kebobrokan. Mereka akan tertepikan karena bapak/ibu mereka bukan eksekutif pemerintah yang bisa memainkan yoyo tarik ulur konflik of interest dan petak – umpet “kriminalisasi – kriminalisasi”-an khas penegak hukum yang berpolitik atau sekedar cari uang.

Koneksi dan ereksi masih akan menjadi kiblat dalam beberapa tahun ini seperti penglihatan Mpok Semok, janda tua eks pelacur langganan para pejabat perusahaan era 70-an yang saban hari masih melatih monyetnya untuk senyam – senyum dan mengembek, yang dalam harapan si Mpok Semok mungkin jika senyumnya manis akan menjadi jembatan koneksi bagi para kuman tua untuk membisikkan kepada para direksi bahwa monyet akan sangat perlu perusahaan ini rekruit untuk menyesuaikan dengan kebiasaan mencari monyet hitam, ekh . . . kambing hitam.

Hari kebangkitan nasional kemarin sangat mengharu – biru karena dalam sejarahnya batik dan dokumentasi upacara dilakukan serentak banyak instansi pemerintah, di ibukota, kuman – kuman tua kembali tersenyum bahagia melihat para direksi bangga mereka berhasil mengumpulkan para karyawan (entah kalau terpaksa) untuk menghormat sang saka. Kebangkitan seremonial bukan dari kebangkitan substansial, karena bibit – bibit regenerasi kebangkitan yang diseremonikan telah diselipi beberapa bibit panji penjaga platform usang sakit, yang terbukti tidak sembuh – sembuh bahkan sejak jaman manusia berpolitik.

Kalau begini, kebangkitan Yesus yang sosialis harus diperpanjang lagi, kita minta Dia mengepel kuman – kuman tua yang masih sakti nongkring dan nangkring di sela – sela ketiak dan leher pendobrak dan penguasa. Akh, semoga saja saya salah . . . Kuman ini kalau tidak dibersihkan, dia kan menjadi kutil yang dipotong malah bikin demam.

 

 

Advertisements

About this entry