Kejujuran Diuangkan

Ketika saya mendengar cerita tentang kehebatan para penakluk-penakluk hukum alam, hukum rasionalitas, dan hukum yang menjejaki tingkat kecerdasan intelektualitas, saya sangat terkagum-kagum. Tapi, hari ini saya mendengar cerita pelaku perlawanan pada hukum kebiasaan yang mengkangkangi nurani. Sepintar dan secerdas apapun kemampuan otak intelektual, ternyata pusaran arus setan tidak selalu menarik orang berselancar di dalamnya. Banyak alasan kenapa arus setan atau lingkaran setan ini begitu kokohnya bertahan dalam zaman-zaman kehidupan. Karena kecerdasan emosional yang sangat mudah terombang-ambing dalam bingkai keduniawian. Semisalnya adalah ketika tidak ingin terlempar dari garis-garis kekuasaan, ketakutan yang mengambang dalam banyak kemungkinan, dan bahkan karena bersinergi secara sadar atau mungkin tidak sadar.

Tapi, si tua bangka mengajari dengan lantangnya bahwa, menjadi orang yang memiliki kejujuran dalam kerasnya pusaran lingkaran setan itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Si tua itu mengatakan lebih memilih menjadi seorang profesional dengan integrity daripada seorang yang berhasil dalam bingkai lingkaran setan. Banyak resistensi dari dalam, banyak perlawanan, banyak teror, tapi nothing to lose.

Si tua itu berkata sambil tertawa terbahak2, entah karena karena dia masih tetap berjalan tegap dengan tubuh reotnya atau karena dia belum terbunuh atau belum menemui niat sempurna untuk menyingkirkannya dari status quo kebiasaan yg mendewakan uang dan saudaranya.

Kali ini, ada mariyuana baru, penyuntik tenaga selain idealisme yang terjajah pragmatisme keduniawian. Awang-awang itu ternyata bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Ketika ada pesan-pesan dari nenek moyang tentang tidak menggantung pada harta-harta keduniawian. Dongeng itu ternyata berdasarkan kisah nyata. Si tua bangka itu memilih menjadi pesakitan selama 20 tahun dengan statusnya sebagai penghalang dan memilih menjadi profesional.

Hingga perubahan datang kemungkinan dia bisa tertawa dan berteriak agak lantang tapi belom dengan sangat lantang untuk hari ini.

Integrity is not about the price” (By : Si tua bangka gila yg sempat sakit hati).

 

 

Advertisements

About this entry