Positivisme (bukan) sebuah Ilusi .

Sedikit pemikiran positivisme Bertrand Russel mengatakan bahwa “Kita bisa menciptakan surga di dunia, sebelum benar-benar sampai ke surga sesungguhnya”, akan mengawali tulisan ini.
BR mengobarkan toleransi;kebaikan;dan sifat ‘positif’ lainnya dalam pencapaian tujuan. Itu bertahun-tahun lalu dalam bingkai sejarah perjalanan pemikiran umat manusia. Semangat ini sepatutnya dihargai karena berpijak pada pemikiran bahwa sebenarnya ‘manusia itu baik’. Sasaran akhirnya jelas “PERDAMAIAN”.

Ilusi terbesarnya dengan kompleksitas masalah di dunia ini, Surga seperti apakah yang akan dilahirkan orang-orang dengan ‘positivism’ ?
Dimanakah dasar bergeraknya?
Kemana arah bergeraknya?
Apa hambatannya?
Kapan akan tercapai?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi ‘hal’ utama yang harus dijawab para ‘positivisme’. Tapi, sedikit membuka ruang berpikir saya; jika saya pada posisi seorang BR, maka jawaban yang mungkin akan saya berikan adalah ;
1. Surga (Perdamaian) yang akan saya tuju, jika gambaran yang anda inginkan, maka dengan mantap saya sampaikan bahwa surga itu ada dua gambaran kasar dalam benakku yakni:

a. Bumi dengan ‘kesatuan’. Karena positivisme itu berusaha mengambil kaidah atau hal yang positif; yang bisa berarti mengeleminir perbedaan dan menonjolkan persamaan. Dunia sudah lelah berbicara tentang saling menghormati dalam perbedaan;karena sejarah berkata ‘perbedaan selalu memecah secara sengaja maupun tidak. Banyak ‘momen’ yang akan bersinggungan yang jika terjadi terus menerus akan melahirkan konflik.
b. Bumi dengan partisi2 pemisah jelas perbedaan. Penghargaan ekstrem terhadap perbedaan. Doktrin bahwa “Perbedaan itu adalah Kewajaran” dan Pengingkaran terhadapnya adalah kejahatan.

2. Dasar bergeraknya tentunya adalah “KELUARGA”, yang merupakan institusi masyarakat terkecil, dan arahnya adalah keluar; jika tiap keluarga menghasilkan doktrin2 yang sama dan dibawa keluar personil keluarga maka tidak merupakan hal yang mustahil kalau tujuan bisa tercapai.

3. Hambatan terbesar positivisme saat ini tentunya adalah ‘kompleksitas’ pemikiran manusia yang pada dasarnya telah bersinggungan dengan pemikir2 ini. Peperangan ide dari individu;keluarga;masyarakat;organisasi;negara;kumpulan negara yang berbeda ‘tujuan;visi;aliran kepercayaan;pola pikir;orientasi;dan hal lainnya’.

4. Kapankah ilusi ini bisa tercapai ?
Dengan berjuta kemungkinan saya pastikan, bahwa dunia sedang berjalan jauh tanpa ‘positivisme’. Tapi perbedaan2 ‘ism’ yang ada jika secara ekstrem di akui, maka pilihan surga pada poin (b) adalah sangat memungkinkan. Tapi, sebaliknya jika surga dengan persamaan yang ingin dituju; tentunya akan memakan banyak waktu yang bahkan mungkin tidak akan bisa tercapai sampai suatu kelak ramalan seorang scientist bahwa ‘Dunia akan kehilangan 80% penduduknya pada tahun 2100’, artinya pada fase ini ‘perbedaan benar2 telah tereleminir dengan adanya persatuan ‘nasib’ ataupun keadaan yang memaksa bersatu.

Tulisan ini hanya pemikiran kecil dari tulisan pemikir-pemikir besar yang mungkin tidak berarti karena kelemahan berbagai hal dalam penulis.

———————————————————
“Saya bosan melakukan rutinitas yang sama; tapi saya harap Bumi dan planet lainnya tidak
bosan beredar dalam lintasannya;meskipun sudah berjuta2 tahun lamanya”

By; Pahompu ni Radja Napogos

Advertisements

About this entry