Moenafik

Ini cerita dari negeri antah berantah, negara dengan penghuni yang plural dan beragam cara pandang dan cara hidup. Orang-orangnya beraneka-ragam seperti tipe orang dibanyak tempat di belahan dunia, ada yang polos, pintar, jahat, licik, sopan , cerdas, dan religius dan kolot tapi untunglah mereka nasionalis. Nasionalis dalam tataran mereka marah ketika Indonesia dikucilkan atau disenggol oleh kata – kata yang melecehkan.

Pemimpin yang telah dipilih oleh negeri ini suatu waktu berkomentar tentang adegan mesum indehoy dari para ‘penghibur’ masyarakat kita. Pemimpin yang terkemuka dengan tindakan kesepoian – nya dan tutur kata meninabobokan. Sebut saja namanya Sibeye dalam alunan pidatonyaberujar di suatu sore yang cerah.

Ini harus diambil tindakan segera, karena akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat, seperti tidak adanya kenyamanan

Si Cecerdas (C) ; Si Jajahat (J) ; Si Relijius (R) ; Si Kocolot (K) , yang merupakan penghuni negara tersebut, menonton Sibeye pada saat pidato-nya tersebut. Seketika perdebatanpun dimulai tanpa penengah kecuali kesadaran mereka sendiri.

C : “Ada kebingungan di kepala atas pidato ini sebagai protes terhadap tingkat kecerdasan bapak pemimpin ini. Sungguh tidak cerdas! Jika bapak kita harus mengomentari hal seperti ini“. (sambil ngisap Union – ini rokok khas Batak Toba)

Si K, yang mendengar dengan seksama tiba-tiba protes sambil mengalihkan pandangan kepada si C, dan berujar :

Kamu itu berpendapat tidak pikir2 dulu, jelas si bapak pemimpin mengomentarinya karena nyata-nyata telah beredar dan menjadi perhatian publik, dan pasti harus diselesaikan secepatnya

Si J , kemudian ikut menumpali dengan kalem dan memicingkan mata.

Semua hal pasti ada tujuannya, jangan pernah melihat sesuatu dari bungkusnya, dari yang di luar-luarnya saja, karena racunpun akan dicampur dalam minuman yang nikmat“.

Si C yang merasa diserang dari dua sudut kemudian menyahut :

Itu betul, begitu Jaja !!! saya setuju. Tapi hal gak penting seperti ini dikomentari oleh seorang pemimpin bangsa itu untuk apa gituh ??? Orang-orang akan bertanya ada udang apa ini dibalik batu ? ? ? Biarlah level ustad dan pendeta atau biksu yang berkomentar!

Si R, yang dari tadi gak ngomong-ngomong – setelah selesai menonton video yang dipermasalahkan – berujar :

Saya dan rekan-rekan saya akan segera memprotes ini dan segera melakukan demo!” (sambil menunjuk ke arah langit-langit rumah).

Si J menyahut : “Kamu protes dan demo kenapa?

Dan percakapanpun semakin panas seperti panasnya minyak goreng yang dijatuhi buah pisang untuk dijadikan gorengan yang mengeluarkan bunyi tak karuan.

R : “Ini asusila ! ! !”
J : “Kamu tahu asusila dari mana ?”
R : “Saya nonton toh !!!” (dengan suara keras)
J : “Lah… kamu nonton juga, kok merasa berhak anarkis ? ? ?”
R : (tidak berkata-kata sejenak) – “memastikan saja tadi . . .” (sambil senyum kecil)

K : “Sudah jelas itu melanggar norma dan harus ditindak !!!”
C : “Melanggar norma sosial dan agama iyah!!! tapi norma hukum tidak mengakomodirnya! justru mereka korban yang dikerjai orang yang menyebarkan

K : “Apaan ? tidak diakomodir? alasan apa itu ?”
J : “Itu bukan alasan, tapi begitulah keadaannya!!!” (mungkin antisipasi jika kelak video privatnya terbongkar juga)

Mereka semua saling pandang dengan keterbatasan ilmu dan daya serap otak yang mereka miliki, dan seketika memusatkan perhatian kembali kepada acara gosip tentang video porno dan dilanjutkan sinetron mandraguna ibu – ibu kampung andalan stasiun televisi negeri tersebut.

Tiba-tiba hujan dan si Cecer berkata :

Mudah-mudahan, listrik gak mati nanti malam !!! Ada piala dunia !!!

Si Reli, Koco dan Jaja sama-sama menjawab serentak tanpa komando : “Amiiiiiin!”

Aril yang dapat rezeki, kecerdasan Sibeye yang jadi korban. Akh, negeri ini sangat kejam bahkan terlalu kejam.

 

 

Advertisements

About this entry