Waktu Hidup – Semoga Dinikmati

Brada – brader setanah air dan seperjuangan dan se-se yang lain yang dicintai oleh orang tuanya.

Ijinkanlah ‘anggi’ kalian yang kembali sedang belajar merangkai kata dan berbagi rasa ini mengeluarkan sebuah ‘sarita’ dari hati yang jauh dari yang diharapkan. Jauh dari orang terkasih dan jauh dari kejauhan. Jika ada yang bisa dipetik langsung petiklah! Segeralah simpan dengan rapi untuk diceritakan di lain waktu ketika semua telah berlalu dengan begitu cepat. Jika bukan mati duluan.

Suatu sore yang mendung di sini – di kota yang saya sendiripun tidak pernah mimpikan untuk singgahi –bukankah hidup memang sering membawa kita pada hal-hal yang kita sebut kehendak-Nya– dalam sadar. Saya duduk menghadap lautan luas di depan mata ; matahari mulai terbenam (saya sadari benar-benar saya bukan siapa2 di jagad ini). Pandangan mata saya mencoba memandang jauh berharap saya dapat melihat orang-orang yang saya kasihi dan yang mengasihi saya. Tapi keterbatasan kemanusiaan saya hanya sampai ujung gunung kecil yang berwarna abu kemerah-merahan.

Saya melihat mundur ke belakang, jauh sekuat ingatan saya bisa mendeteksi kenangan tersimpan, saya tutup mata saya dan sungguh saya tidak bisa menembus sampai saya mengingat tangis pertama saya – bahkan ingatan kecil terbaik adalah ketika saya masih minta ‘menyusu’ pada orang yang kadang saya sakiti. Bagaimana denganmu sobat?

Saya mengingat masa-masa kecil bahagia ; tidak perduli akan hal-hal yang sekarang saya pikirkan – atau mungkin sobat-sobat pikirkan – dan itu saat dimana saya cukup menunjuk ini dan itu untuk meminta sesuatu dan kecupan kecil sang bunda cukup untuk meredakan ‘benjol’ di kepala. Sungguh sobat, saya begitu menghargai hidup saat itu.

Saya mengingat masa sekolah dulu, ketika mulai mengenal orang lain dan mencoba beradaptasi dengan mereka – dorongan orang terdekat masih begitu dibutuhkan sampai menginjak bangku smu/stm atau apalah setara atau sederajat atau yang disamakan!!! Saya mengintip celana dalam pertama dengan niatan pertama pada saat smp kelas pertama, dan mengenal yang berbau mesum selanjutnya diperlancar dengan niatan selanjutnya. Proses atau masa pertumbuhan yang entah apalah namanya dan masa dimana mulai menggunakan bahasa-bahasa ilmiah seperti : “kadaluarsa – metamorfosis – metafora – personifikasi – dan mobilisasi dan lain sebagainya” – Terimakasih untuk guru2 tercinta!!! Demikianlah sampai tingkat SMU.

Pada tingakatan selanjutnya, nasib mulai menuntun pada pilihan-pilihan yang kita ambil , mulai dari pilihan : IPA/IPS – dan saya beruntung mencicipi keduanya ; Lanjut kuliah atau langsung kerja ; Membantu orang tua atau langsung menikah ; menjadi tukang sampah atau sampah masyarakat dan sebagainya pilihan lainnya yang kadang dengan usaha pencarian alasan maka kita bisa sepakati itu sebagai kehendak-Nya.

Kuliah (lama tak lulus – lulus), pencarian jati diri pada masa fase setelah fase pertama di sekolah di mulai, pencarian siapa itu Tuhan, apa itu kebutuhan, apa itu wanita dan untuk apa kita hidup ? ? ? Bukan begitu sobat ? ? ? Banyak hal yang memaksa kita melukai diri kita sendiri dan melukai orang-orang di sekitar kita dan itu semua untuk sesuatu yang kita yakini butuh dan bukan sekedar benar.

Kini semua (mungkin) berjalan di jalur ini (yang kita kira jalur pilihan kita atau pilihan Dia) , ketika hidup berakhir, pertanyaan terakhir yang muncul adalah pertanyaan siapa itu “Tuhan” ? ? ?

Tuhan memang tidak untuk di cari, Dia sudah ada jauh sebelum kita bisa menuliskan “Nama-Nya”. Jadi untuk apa kita bersilat lidah tentang “Dia”. – Tuhanku adalah Tuhanku dan Tuhanmu adalah Tuhanmu – biar hal itu kita pertanggungjawabkan kelak ketika kita telah menyelesaikan hakekat kehidupan kita. Bukan begitu sobat ? ? ?

Sekarang tentang masa sebelum dan ketika saya sampai di sini, sobat. Saya benar-benar tidak merencanakan apapun ; semua berjalan seperti air – Jadi susah bagi saya untuk menolak eksistensinya. Semua berjalan tanpa arah yang saya inginkan – begitu jauh dari yang saya harapkan dan saya yakin itu untuk suatu hal yang tak bisa kumengerti sekarang. Entahlah dengan sobat.

Saya berjalan di sini ,
Dan . . .
Tidak ada yang bisa saya katakan kenapa dan karena apa ?
Semua hanya tentang yang tak bisa kupahami .
Jadi,
Saya memutuskan untuk “MENIKMATI” saja . . . entah bagaimana dengan sobat ? ? ?

Ini hanya sebuah persimpangan jalan
Sang waktu memegangmu dan melemparkanmu ke tempat kemana dia suka
Lakukan saja yang terbaik – Jangan Ttanya kenapa
Ini bukan pertanyaan tapi sebuah pengalaman dalam hidup
Banyak hal yang tidak kita perkirakan, tapi pada akhirnya itu untuk suatu hal

Simpan semua kenangan dalam bingkai di hati
Biarkan tergantung dalam Bingkai dengan kesadaran-mu dan waktu terbaikmu
Semua pantas pada akhirnya . . .
Wajar!!!
Nikmati hidupmu . . .

Nb.
God be with You ! ! !

Advertisements

About this entry