Vini-Vidi-V*ckyou – isme

Vini . . .
Perkenalkan nama saya Heru Cokro Sang Fajar, sejatinya saya adalah legenda yang ditunggu-tunggu oleh Bangsa yang katanya pejuang; tapi mentalnya bagai budak penjilat pantat ; hipokrit kelas wahid dan penyuka segala berbau mistis dan wangsit. – vini . . .

Vidi . . .
Saya datang dari dunia angan dan terkurung di dunia angan-angan para lelaki desa yang dan petani tak bertanah yang akan memakan makanan sisa para juragan kaya dan juragan parlente yang gemar berlonte bagai binatang penikmat senggama dan mengatakan bahwa pemimpi dari desa adalah kolot dan tak berotak dan bagai idiot ; keramahtololannya akan selalu menghiasi muka polosnya walaupun saudari dan wanitanya telah melacur dan membabu kepada si juragan kunyuk ;

Dan para wanita desa tak berpendidikan terpenjara doktrin usang para tetua bijaksini yang bau tanah ; yang akan mengangkang dengan sedikit ancaman kekerasan dan ataupun segepok uang yang digunakan untuk membersihkan lender birahi yang muncrat di wajah mulus hasil pemanasan matahari desa dan cuaca dingin pedesaan.

Dan para pejantan ; mereka minikmati hidup dalam ketololan dan keterbelakangan dan mengatakan bahwa Ratu adil akan datang entah dari mana kelak ; mungkin suatu waktu dari tempat lain dari muncratan lendir para penjahat kelamin atau dari keluarga ningrat yang memaknai kebaikan adalah memberi ‘recehan’ untuk para pengemis dan membiarkan mental sampah dan mengemis bak budak tetap melekat di hati dan kepala ; yang bongkahan otaknya jarang dipakai kecuali untuk memikirkan paha ngangkang mulus dan melakukan aksi ‘brutal’ dan kekerasan ketika seseorang menyengol badannya ketika berjalan di bawah langit yang sama.

Saya adalah Heru Cokro, yang hidup sedikit di belakang garis ‘start’ yang tidak bergerak karena tidak ada bunyi dentuman pistol yang harus memaksa saya bergerak.
Saya adalah legenda yang ditunggu para gelandangan dan sampah masyarakat yang telah menyerah pada kesenjangan dan menyerah pada cambuk waktu dan silaunya baju sutera dan celana dalam sutera.

Para pemimpi akan aku, teriak “anjing!”; sungguh mereka tidak tahu si anjing adalah anjing kahyangan yang akan muntah2 karena kotoran bumi pertiwi yang mengatakan kebebasan adalah gaya hidupnya – ternyata hanya mahluk yang bertingkah bak esok hari telah usai; tidak ada hari esok dan tidak ada mentari besok pagi yang ada hanyalah mimpi pelacur semoga ada ‘kebaikan hati’ para juragan kaya dan si pintar yang egois ataupun dari pejabat yang lewat dengan iringan2 sirene ‘ambulans’ yang saya harap kelak menjadi sirene ‘ambulans’ kematian yang mengangkut jasad busuk para pejabat penindas negeri ini.

Saya adalah Heru Cokro, pahlawan kesiangan para buruh, proletar kasar dungu tukang rusuh dan pemaki yang menangis terinjak dan terpasung karena hasil kerja tidak dihargai sepantasnya, tetapi tidak melawan ketika sekarung beras dan bajingan dengan ‘stelan parlente’ menghampiri sambil memegang pundak dan berkata “saya ada di pihakmu”. Para proletar tak berpendidikan yang hidup dengan kekuatan dengkul yang akan membunuh karena uang ratus ribuan. Proletar yang menerima semua hal sebagai takdir dan nasib yang tidak bisa di lawan; yang hanya berpikir bahwa ‘cukup kenyang perut senanglah sudah’. Kacaunya mereka mengajarkan sifat2 itu tanpa sadar kepada anak-anak mereka; diajarkan menjadi budak – sampah – idiot – terima nasib – kotoran – dan mencekcoki dengan ketakutan dan pembunuhan mimpi.

Proletar malang yang ramah, betapa surga akan tersenyum oleh aksimu yang sedemikian mulia. Kau gantungkan hidup di tangan orang yang bahkan tidak akan mengenal namamu bahkan ketika ‘laba perusahaan’ dapat kau genjot berkali-kali yang membuat dia bisa memesan perawan-perawan desa dari jauh di sana dan bercinta berkali-kali dengan wanita-wanita cantik belia import dan eksport.

Si idiot yang tercuci otak karena perut sedang lapar – si idiot tercuci otak karena pembodohan tetap dilakukan – si idiot menangis karena janji – janji tak kunjung datang dan perut tetap lapar ketika malam datang – itu hanya awang-awang yang digantungkan jauh seperti memimpikan Ratu adil datang dengan bikini pink membagikan roti tawar dan menyusui anak-anak kecil di bawah jembatan.

Buruh tani; kaum miskin masyarakat kota yang di-sensus para pejabat berada di ‘garis’ kahatulistiwa kemiskinan, terpecah-pecah dalam banyak organisasi – partai – kelompok – kumpulan – kawanan – gerombolan – trio – duet – bahkan melakaukan aksi single fighter khas liberal – kapitalis pengekploitasi minoritas untuk kantong mayoritas yang dikawal oleh Negara hukum kampret berkeadilan mayoritas.

Statistik rata-rata menyatakan 79 + 1 persen penghuni dari bangsa ini adalah kaum yang dengan amukannya dan ludahnya dan darahnya pasti dapat melumpuhkan kekuatan manapun ketika bersatu. Sahabat seorang nabi pun akan berpikir dua kali untuk melawan persatuan para proletar yagn tersisih oleh zaman, tapi kebodohan dan mental budak dan hal yang diajarkan logis oleh orang-orang dengan isme berbeda semacam liberal – religius – kapitalis – dan lain sebagainya yang mengekang kemampuan berpikir yang membuat ‘mahluk yang kebetulan pintar’ dari kaum tersisih akan kembali bertarung dengan hati dan otaknya – terharap dia tidak menjadi gila – tapi dipastikan dia akan menyebrang dari ‘keyakinan’ suci pembebasan kaumnya menjadi individu serakah yang akan hanya dan hanya memikirkan material dan nama baik – perutnya – dirinya – istrinya – anaknya – kantongnya – rumahnya – istri keduanya – muncratan spermanya – dan hal lainnya yang akan terterima dengan perjalanan waktu dan kebenaran mayoritas dan prinsip mayoritas dan pemikiran – pemikiran dan praktek yang sedang nyata berjalan. – vidi . . .

V*ck You! . . .
Saia Heru Cokro; satria piningit yang men-zigot dari kebobrokan mayoritas tapi mati dalam kandungan. Saia menangis darah melalui selangkangan bunda pertiwi yang mengandung dalam rentangan ribuan tahun lamanya yang tereinkarnasi dalam zaman-zaman tapi selalu teraborsi oleh kebodohan – pembodohan – terbodohkan – dan dibodohkan.

Saia tersenyum ketika luapan – luapan kegembiraan harapan bersatu dahulu kala; dan kembali menahan teriakan sakit ketika menjadi kotoran proses aborsi tiap akan terlahirkan.

Para pemimpi akan aku; mengungkapkan cinta dengan tulus dan bersenggama jauh melebihi tehnik kama sutra – mereka mengucapkan doa sebelum melakukannya – tapi saya selalu gagal ketika mendekati bulan kelahiran . . . v*ck you! . . .

Hei . . . !!!
Para pemimpi akan perubahan – penakut yang bersembunyi di bawah kolong ranjang tempat bercinta para majikanmu – pencemburu yang memaki dalam tidurmu – penganut ajaran usang keajaiban – pemburu tuhan yagn tidak mengenal ajarannya – pembunuh mimpi yang mengangguk pada kuasa dan harta – pekerja berotot tak berotak – penikmat wanita yang cukup dengan melihatnya – orang yang lebih memilih hidup dalam kubangan kotoran dan wajah budak daripada mati karna menantang . . .

Para orang yang kebetulan pandai yang memecah para si bodoh dalam organisasi – partai – kumpulan – gerombolan – kawanan – trio – duet – dan egoisme tunggal . . .

Para pemimpin pengkianat kesejahteraan social yang berkata kebaikan perut dan kantongmu adalah kebaikan seluruh umat . . .

Para orang suci yang berkata dunia hanyalah persinggahan yang tidak patut di urus – yang menjanjikan surga atas upah perbuatan – yang berkata neraka adalah tempat yang buruk dan dikhususkan buat orang yang menelantarkan ajaran tuhan-mu . . .

Tuhan tuhan yang berdiam dari atas sana mempermainkan mereka bagai bidak-bidak catur dan wayang yang akan saling membunuh untuk hal-hal yang tidak mereka tahu dan sadari . . .

Kukatakan kepadamu . . .
Bahkan ketika saya masih melingkar mencium kemaluan dalam kandungan ibu pertiwi, entah akan terlahir atau mati kembali ke kolong bumi, entah akan sempat mencium busuknya luka bertahun silam . . .

“v*ck you! . . .”

——————————-
“Isme ini katanya terlalu tua untuk hadir di saat dunia berubah dengan gerakan yang mayoritas dan kebenaran – kebenaran mayoritas – bahkan ketika Isme ini sebenarnya belum lahir.”

Advertisements

About this entry