Philosophic Romance

Abad 18, Filsafat idealisme dengan tokohnya adalah F. W. Schelling yang dipengaruhi secara signifikan oleh seorang Goethe. Mereka pencari hakikat di zamannya.

Ada suatu waktu suatu filosofi tentang romantisme. Tidak ada seorangpun yang mendefenisikan secara pasti apa itu “Romance” atau apa itu “Romantic”. Tidak para pelaku sejarah atau sejarawan dan ilmuwan natural. Mendefenisikannya bagi mereka akan membuat nya kehilangan jati dirinya. “Romance/tic” selalu dipahami berbeda di tiap masa dan waktu.

Romance the concept of life, diperkenalkan pada abad tersebut dan para oposisi semisal Darwinis ataupun para pemikir pencerahan dan sebagainya menyebut Teori Tentang Bumi yang dikemukakan oleh Fiderich W adalah sebuah romantisme yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Teori romantis melihat bumi bukan hanya sebagai pengejawantahan ilmu geologi tetapi juga romansa biologis yang juga diwakili oleh mahluk hidup. Teori yang menjadi dasar bagi Darwin, Newton dan yang lainnya dalam mengembangkan cara berpikir kemudian.

Filosofi yang romantis dalam idealisme yang terpecah-pecah dalam karya sastra yang oleh Goethe diselamatkan dan diperjuangkan secara komprehensif, dan tidak lepas dari campur tangan para pemikir natural – philosopher (yang menggagas tentang elektromagnetik). Ketika para Natural – philosopher mengembangkan dan mengambil porsi di pemikiran Romance Theory, saat itulah teori ini berkembang dan menjadi dasar bagi perkembangan para pemikir selanjutnya.
Romance The Concept of Life merupakan perjalanan panjang dari kisah perjuangan Goethe dan Schillenger dalam menapaki dan mengkomprehensifkan sebuah teori idealisme yang memaknai bumi. Mungkin semacam penemuan di tengan pencarian hakikat.

Sebagai pemula dalam menikmati essay ringkas tulisan F.W. Schelling, saya tidak dapat memaknai secara terperinci muatan Theory of the Earth – Romance, The Concept of Life – yang dikemukakan, tapi jika melihat pertentangan sebuah ide – ide yang kadang absurd dan bahkan tidak nyata, dapat saya pastikan bahwa teori ini akan sangat bertentangan dengan teori atau pemikiran pencerahan, intelektual, dan materialisme dimana “Romance” ini akan kelihatan sangat lemah dari sisi pembuktian secara rasional, tidak intelektual dan tidak dapat bereaksi cepat atas reaksi.

Tapi, apapun sejarah yang tercatat mungkin sedikit banyak dapat saya petik hikmah dari perjuangan Goethe dan para pemikir idealisme “Romance/tic” yakni Sebuah perjalanan “Romance of Life dan Scientic”.

Goethe yang dari wanita yang kedua yang dicintainya dan dinikahinya tidak pernah berhasil melewati kehidupan bersama seorang anak dari masa kecilnya. Anak – anaknya selalu meninggal dalam masa balita.
Hingga suatu waktu pada anak yang kelima, bernama Oscar juga mengalami nasib yang sama. Schelling kemudian mengirimkan surat kepada Goethe dan
Goethe membalas demikian . . .

“Saya sudah menerima surat yang kamu kirimkan, terimakasih atas simpatimu dan saya sudah memprediksikan dan mengetahui hal itu sebelumnya. Dalam Kondisi seperti ini, bagi seseorang apakah lebih baik untuk membiarkan rasa sakit itu mengikuti keharusan sesuai kehendak alam atau mencari ‘sumber – sumber duniawi’ yang berkaitan dengan hal itu yang disediakan oleh masyarakat/kultur. Harus memilih satu, Yang terakhir adalah pilihanku. Seperti yang selalu saya lakukan. Seseorang hanya mencari dan menemukan kenyamanan sementara dan alam akan kembali dengan hak yang dimilikinya untuk membuat krisis yang lain, dan saat itu Seseorang akan membuat pilihannya lagi”.

Saya sedang mencobai memaknai sebuah prinsip dan cara berpikir Goethe di surat balasannya ini, Cara berpikir seorang pejuang idealisme – Romance, The Concept of Life.
Salam,

Romantisme itu bisa jadi padu padan logika etika dan estetika.

—————————
“Philosophic Romance it may just Somehow, Someday, dan Somewhere we follow the natural decision”

Advertisements

About this entry