Aku – Kamu – Dia – Mereka = Sendirian

“Homo Homini Lupus”, yang dikumandangkan (+) Plautus.

Entah apa yang dipertentangkan oleh Beliau dalam pemikirannya, dan keadaan kondisi hidup yang dialami dan dilihatnya sehingga beliau mengeluarkan ‘proverb’ (yang menurut saya) controversial.

“Manusia adalah pemangsa bagi manusia yang lain”, yang berarti siapa yang kuat dialah Manusia yang terpilih oleh seleksi alam. Manusia pada hakikatnya adalah binatang pemangsa untuk binatang lainnya yang lemah secara fisik dan intelektual dan kemapanan. Saya berpikir kalau perumpamaan ini sudah usang untuk kemajuan jaman dan masa-masa yang telah serba kelap-kelip dan ber-teknologi canggih dan keren. ^_^

Tapi, setelah saya melihat sekeliling dan beberapa keliling lagi, saya temukan inti dari pepatah tersebut adalah “selfish”.

Selfish = egois = mementingkan diri sendiri.
Pikiranku langsung terbang ke sebuah perjalanan evolusi selfish dari masa ke masa…
Zaman kanibalisme, ‘selfish’ purbakala dapat dijumpai pada aksi bunuh-membunuh untuk mengisi perut dan mungkin untuk menjadi manusia yang ditakuti dan disegani atau sekedar ‘gaya hidup’ (termasuk membunuh untuk mempertahankan diri).

Zaman berkelompok, seorang Manusia akan muncul memimpin untuk memenuhi hasrat ‘pribadi’ yang akan sangat terlalu naïf jika disebut ‘kepedulian kelompok’.

Zaman ber-negara, saya melihat kecenderungan motivasi ‘selfish’ dalam kelompok dalam bingkai yang lebih besar, yakni Negara.

Dan karena semakin membingungkan diri saya akan arah ‘tulisan’ ini, maka saya akan mencoba mengkoneksikan ke beberapa peristiwa yang saya alami – pikir – lihat (APL), yang pada ujung-ujungnya saya tempatkan pada penarikan kesimpulan yang mungkin ditolak dan sebaliknya.

Selfish”, beberapa tahun terakhir yang saya APL dapat saya sebutkan satu-persatu … (ini contoh pribadi kecil yang bisa kita imajinasikan dalam bingkai lebih besar)

1. Kentut di meja makan, dan menuduh yang lain sebagai pelaku untuk menjaga ‘nama baik’
2. Dorong-dorongan dengan wanita (walaupun ada emansipasi, tetap saja ada yang janggal) rebutan masuk busway dan metromini
3. Nyolong buku dari perpustakaan, yang mengorbankan banyak orang yang datang kesana untuk menambah referensi tugas atau skripsi
4. Menjelek-jelekkan competitor (urusan wanita) untuk kelanggengan tujuan
5. Merokok di tempat umum walau di sekeliling banyak preman-preman anti rokok
6. Ambil jatah makanan gratisan sebanyak-banyaknya dari semisalnya tester produk di mall atau toko-toko, tanpa pedulikan orang lain
7. Peralat teman / orang / saudara untuk tujuan pribadi… misalnya : damn… banyak juga list-nya (rahasia sajalah)
8. Dll

Kemudian, dalam bingkai lebih luas (masyarakat dan Negara), sasaran empuknya adalah para pemimpin yang bertanggung jawab atasnya.
Pemimpin ‘selfish’, itu yang tergambar kemanapun saya mengalihkan kepala. Sampai tiba pada titik jenuh di kepala tidak ada yang benar-benar melakukan tanpa embel-embel kepentingan pribadi. Sampai tiba di penarikan kesimpulan kepentingan pribadilah yang menggerakkan ‘benda’ besar bernama ‘kelompok/masyarakat/Negara”. Tapi saya tidak akan memperpanjanglebarkan itu semua.

Persetan kelompok /mayarakat /Negara ; yang penting daku bahagia” -> (kau lihat betapa saya juga menjadi ‘selfish’) T_T

Tapi, saya yakin pasti ada sample yang sebaliknya. Contoh paling natural saya sebutkan adalah Manusia yang menjadi “Orang Tua”. Pemikiran saya saya cukupkan pada status mereka sebagai orang tua tidak lebih dan kurang, dan dengan sample itu MUSNAH-lah ke-sakralan pepatah Si (+) Plautus, dan pasti ada sample-sample lainnya.

Selfish , (sekarang saya sedang mencoba berpikir seperti Plautus) pada dasarnya adalah pemikiran dan pemahaman bahwa Saya ada diatas segalanya – yang utama ; saya yang harus pertama ; saya tidak diperdulikan oleh yang lain – Ini seperti natural needs. Saya melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan saya dengan cara apapun yang secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak telah memupus kesempatan dan bagian orang lain. Untuk AKU – KAMU – DIA – MEREKA (sendiri).

Kemudian, pada akhirnya ke-egois-an itu yang akan ‘kita’ bawa ke ‘suatu tempat’ lain atau ke liang lahat, karena pada awalnya kita juga datang berkesendirian.

—————————
“Jadi apa yang ‘kita’ takutkan ketika menjadi sendirian karena semua yang kita lakukan , pada hakekatnya untuk kesendirian kita juga dan kitapun akan meninggalkan hidup berkesendirian – Kamu tidak bisa memintaku bernafas untuk hidupmu”

^_^
Albin

Advertisements

About this entry