Ironi Pembunuh

Siapa yang menentukan benar dan salah ?

Bukankah niat adalah unsur penilai sesuatu perbuatan itu benar dan salah ; niat yang baik sejalan dengan perbuatan yang benar dan sebaliknya – tidaklah mungkin niat yang baik berujung ke perbuatan yang salah atau sebaliknya?

Lama sel – sel otak ini saya paksa untuk menjawab sebuah tanya dalam soal ini – meski saya sedang menderita pusing dan kurang enak badan karena satu dan lain hal, tapi terhutang pada diri saya sendiri – mau memastikan otak saya masih bisa jalan dikala badan tidak fit – demi persiapan ke lokasi kerja baru – berusaha menerima pemikiran seperti ini, karena pada ujung akhirnya adalah sebuah niat yang baik maka sewajarnyalah dapat kita sepakati bahwa perbuatannya juga adalah perbuatan yang benar.

Salahkah ? ? ?

Sebenarnya mengeluarkan isu kategori dan ukuran ‘benar’, ‘baik’ dan ‘salah’, ‘jahat’pun akan dengan mudah merongrong hingga menggugurkan pendapat seperti ini. Pertanyaan dasar justifikasi atau variabel sahih untuk sampai pada ukuran seperti itu akan sangat panjang bahas.

Cukuplah saya harus memaksa kesepakatan bahwa benar adalah kenyataan yang terjadi, keadaan yang diyakini bersama atau fakta yang terjadi atau hasil dari sebuah usaha pencarian jawaban (akademis, eksperimentalis, kritis) dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan rasionalitas. Walau untuk ‘sesuatu yang benar’ hasil investasi penelitian adalah bisa merupakan kebenaran sementara yang berpotensi dipatahkan dengan hasil penelitian lainnya – tapi sampai ada hasil atau kebenaran yang menggugurkan kebenaran sebelumnya, existing sesuatu yang ‘benar’ itulah yang disebut sebagai sesuatu yang ‘benar’ dan sebaliknya.

Tapi sebelumnya ada sebuah pemikiran menarik bahwa ukuran-ukuran benar – baik dan salah – jahat tersebut tentunya adalah sebuah ukuran ‘moral’. Dari segi keilmuan suatu keadaan harus dilihat sebagai keadaan tanpa melabeli keadaan itu sesuatu yang salah atau benar. Sebuah peristiwa adalah peristiwa. Pembunuhan adalah pembunuhan tanpa harus melabeli pembunuh itu sesuatu yang baik atau jahat.

Tapi untuk mengsinkronkan niatan tujuan dengan sebuah kondisi benar dan salah, saya simpulkan ukuran moral yang dipatok niat adalah benar atau baik atau yang positif-positif-nya saja atau yang apa kata nurani yang tak terkontaminasi oleh hal-hal di luar nurani. Nurani tidak pernah salah. Dia selalu tepat dalam menilai sesuatu sebagai sebuah kebaikan – kebenaran atau kejahatan – kesalahan.

“Listen to your heart”, entah lirik lagu siapa saya lupa, tapi paling tidak hendak disampaikan kesepahaman dengan pemikiran saya bahwa, “suara hati tidak pernah salah”. Asumsi ukuran nya adalah kemanusiaan hakiki kita yang mungkin hampir mirip suara bisikan dari Tuhan – Sang Kalik.

Ada sebuah kisah tentang niatan yang ‘benar’ dan ironi di dalamnya . . .

Setting peristiwa adalah sebuah ruang sidang di negara berdasarkan hukum (jika ada yang bertanya apa yang dimaksud dengan negara berdasarkan hukum? Saya bisa bantu jelaskan tapi tidak saat ini). Anda belum pernah masuk ruang sidang ? Sekali-kali anda harus mencobanya, bukan sebagai orang yang berperkara atau orang yang memeriksa karena memang sama sekali tidak ada aura nyaman dan enak. Percayalah !!!

Gambaran ruang sidang itu, bla…bla…bla… (sebuah kursi pesakitan dihadapkan dihadapan para perwakilan Tuhan atau para hakim – yang dikiri dan kanan kursi pesakitan berdiri dua kubu berlawanan yakni Pengacara Negara – Kejaksaan mewakili kepentingan negara – melindungi kesejahteraan masyarakatnya dan Pengacara si pesakitan kalau ada – artinya si pesakitan bisa berlawan sendiri, kalau si pesakitan kere alias tidak berduit dapat digratiskan dengan sebuah bantuan hukum. Syarat ketentuan berlaku sesuai UU terkait bantuan dalam hukum ini.

Lelaki yang dijadikan pesakitan itu terduduk dengan pakaian hitam dan rambut panjang hitam diminyaki seadanya diikat dengan karet putih mungkin bekas karet pengikat es teh dari sipir jaga sebelum masuk ruang sidang. Mukanya kelihatan letih, tatapan matanya kosong.

Dia sepertinya sudah lelah mengikuti jalannya sidang sampai hari itu untuk pembelaan darinya. Para polisi berjaga di sekitar pembatas ruang sidang, tidak biasanya kecuali untuk kejahatan yang memancing amarah para korban (kalau bisa disebut demikian).

Majelis hakim saling melirik, dan ketua hakim mulai mengetukkan palu tanda sidang dimulai, kata pembuka khas negara ber-Tuhan dan sebagainya…

Ketua hakim yang biasanya duduk paling tengah berdehem dan mulai berbicara … memanggil Pengacara yang saling bersebelahan dan kemudian menyuruh mereka kembali lagi ke tempat semula (Ini formalitas peradilan)… Apa gunanya? Nanti saya ceritakan tapi tidak di mari.

“Saudara Adam Satrio, anda tahu bahwa anda telah melakukan pembunuhan berencana terhadap seorang gadis bernama Hawa Lestari, perbuatan anda ini jika terbukti bersalah mungkin akan diancam dengan hukuman mati… “

Si hakim berhenti berbicara sementara karena tiba-tiba keluarga dari korban melemparkan sandal ke arah si Lelaki dan mengenai belakang kepala si Lelaki, tapi dia tidak bereaksi, tetap memandang kosong ke arah langit-langit berusaha menembus kayu-kayu penghalang tempatnya dan langit biru. Bayangan gadis yang di’bunuh’nya hadir di benaknya….
Masa lalu, ketika dia dan si gadis merenda kasih , menjalin kebersamaan sudah bertahun lamanya sejak dahulu bangku pertama sekolah menengah sampai si gadis masih kuliah di lain daerah, si Lelaki yang berasal dari keluarga miskin tak berniat melanjutkan pendidikan, dia hanya tamatan sekolah menengah pertama dan melanjutkan hidup dengan mengamen dari jalanan ke jalanan dari bus ke bus dari keramaian ke keramaian, hanya gitar usang yang menemani dan foto si bidadari hati.

Kisah klasik percintaan adalah bahwa perkawinan dua pasangan adalah perkawinan dua dinasti keluarga. Jika ada yang diposisi ini yang butuh seseorang untuk menjelaskan betapa tidak berperikemanusiaan – nya prinsip itu, saya akan dengan sukarela memberikan penjabaran.

Dan sepertinya itulah yang berlaku untuk si kisah cinta mereka berdua.

Si lelaki tetap tidak menggubris kemauan orang tua si gadis meski orang tuanya sudah berkali mengingatkan supaya dia ‘tahu diri’ – dan para feodal dan pikiran ber-kasta calon penghuni neraka akan membenarkan tahu diri ala materi dan golongan – saya akan selalu di posisi kontra – akan posisi dan statusnya.

Bunyi ketukan palu Si Hakim kembali menghenyakkan si Lelaki dari mimpi melihat senyuman si gadis yang dibunuhnya. Hakim memerintahkan supaya petugas keamanan membawa si pelaku ke luar dari ruangan sidang. Sebelum sidang hari itu, pengacara si Lelaki mendatanginya di ruang jenguk tahanan, menyiapakan cara-cara pembelaan untuk si Lelaki.

Sulit bagi saya untuk melepaskanmu dari hukuman, hukuman mati, penjara seumur hidup itu saya kira paling rendah… setidak – tidaknya… penjara seumur hidup” ujar si pengacara

Yang diajak bicara hanya terdiam, dia hanya terduduk menunduk di meja ruang jenguk, tidak mengeluarkan sedikit suara pun dan menutup kedua belah matanya.

Bung… untuk membebaskan anda dari tuntutan, saya sudah menyiapkan pembelaan… tapi …” lanjut si pengacara lagi.

Si Pengacara tidak menyelesaikan kalimatnya karena petugas yang berteriak bahwa masa jenguk suda selesai.

Dua menit, pak…” ujar si pengacara sambil senyum kepada si petugas di rumah tahanan.

Kamu harus kami nyatakan gila alias hilang kesadaran” bisik si Pengacara kepada si lelaki.

Si Lelaki itu membuka matanya, menatap tajam kepada pengacara.

Saya tak pernah meminta seorang dari mahluk di bumi ini untuk membela saya… Jadi berhentilah mengurusi saya…

Si Lelaki kemudian beranjak meninggalkan ruang besuk.

Sebelum meninggalkan ruang besuk, dia kembali menatap ke arah si pengacara.

Saya menyelamatkannya… Saya waras melebihi warasmu… dan terimakasih telah peduli untuk saya”.

Itu kalimat terakhir yang dikeluarkan si lelaki terdakwa sebelum ditempatkan pada hari itu di muka sidang para pemutus keadilan.

Adegan yang menarik sebelum si pelaku pelemparan dibawa keluar, adalah ketika si lelaki mengambil sandal yang dilempar dan kemudian berjalan ke arah si pelempar sandal, di ujung pembatas dia menyerahkan sandal tersebut ke salah satu petugas yang memegang mengamankan si pelaku. Si pelaku semakin kalap dan meronta. Si pelaku kemudian meludah sekuat tenaganya, berharap mengenai si lelaki yang dianggapnya melecehkannya.

Setelah suasana sidang kondusif. Majelis hakim berembuk dan kemudian sepakat untuk melanjutkan sidang kembali.

Acara hari ini adalah pembelaan dari pihak terdakwa, terdakwa Adam Satrio… Apakah pengacaranya sudah menyiapkan pledoi -nya ?”

Sebagai informasi pledoi itu bahasa kerennya untuk upaya pembelaan atas tuntutan pidana yang dihadapkan pada terdakwa. Sarana terakhir mempertahankan diri atau berkelit bagi semua terdakwa.

Sudah Yang Mulia Majelis Hakim” jawab pihak pengacara si lelaki sambil memegang bundel tipis kertas.

Baiklah… mohon kepada kami dan pihak Pengacara negara diserahkan kopinya dan untuk diba…” belum selesai si Hakim berucap, si lelaki menyahut dari kursi terdakwa.

Yang Mulia Bapak Hakim yang telah mewakili Tuhan untuk menghakimi saya yang terduduk di sini…” sambil menatap ke arah pengacaranya.

Biarkanlah saya melakukan pembelaan yang mungkin akan dapat memuaskan rasa mengganjal di hati tuan seklaian jika akan memutuskan hukuman atas saya…

Maaf Bung Pengacara… Saya sudah menyebutkan berkali-kalli bahwa saya tidak butuh dibela dan diselamatkan oleh siapapun dari prosedural acara formalitas keadilan duniawi seperti ini… Saya sudah katakan bahwa sebaiknya Bung mengurusi kehidupan sendiri atau klien anda yang dapat memberikan anda uang atas usaha dan keahlian hukum anda di ruang ber-ac ini.

Dan… Saya tidak gila ! ! !”

Tuan Adam, saya tahu ke-idealismean pemikiran anda… tapi kita hidup dalam ukuran benar dan salah yang dibuat oleh peraturan hukum yang jelas, dari sanalah kita berpandu” jawab si Pengacara dengan santai.

Si Lelaki tersenyum kecil dan kemudian tertawa kencang dan geleng-geleng kepala.

Bung… jika saja anda mengerti saya, anda tidak akan berdiri disana… anda akan cukup menonton dari salah satu stasiun televisi di negeri ini… Sudahlah Bung… Biarkanlah saya melakukan pembelaan atas apa yang saya lakukan… Saya tidak akan menyalahkan anda atas putusan mereka yang ada di depan saya dan tidak akan membayar anda atas keringanan atau kebebasan jika mungkin”.

Suasana sidang kembali ricuh, karena debat si Lelaki dengan pengacaranya. Sampai hakim harus kembali mengetukkan kembali palu sakti yang disampingnya. Si Pengacara si Lelaki maju kehadapan meja hakim dan berbisik-bisik – entah apa yang mereka bisikkan – tapi si pengacara tidak meninggalkan selembar kertaspun pembelaan yang telah dia persiapkan di meja para hakim.

Para hakim musyawarah kembali, dan setelah beberapa saat, ketua hakim berkata:

Baiklah… Saudara Adam dipersilahkan untuk melakukan pembelaan…

Si Lelaki yang dipersilahkan untuk melakukan pembelaan, menutup matanya yang kelopaknya semakin menghitam mungkin kurang tidur. Dia menghelakan nafas panjang kemudian berdiri dari bangku pesakitannya.

Tuan-tuan dan nyonya sekalian di ruang sidang… Para Hakim yang telah bersekian kali mengadili kesalahan dan kebenaran-kebenaran yang kami perbuat… para sanak saudara , orang tua dari kekasih saya Hawa yang saya hormati…

“Tutup mulut busukmuuu !!!”

“Pembuuunuuuuh!!!”

Ujar salah seorang dari peserta penonton sidang.

Si Lelaki tidak menggubrisnya, dia menatap jauh kedepan yang dibatasi tembok putih.

Cinta yang kalian berikan kepadanya tidak akan melebihi cinta yang kuberikan padanya…

Saya tahu bagaimana saudara-saudara saya mencintai saya dan tahu bagaimana orang tua saya mencintai saya… persis seperti yang kalian lakukan kepada Hawa tapi mereka tidak bisa mencintai saya seperti yang Hawa lakukan kepada saya…

Para Tuan yang mewakili Tuhan… Tahukan kalian bahwa keegosisan mereka telah membuatku melakukan perbuatan yang adalah ‘kesalahan’ menurut ukuran kalian dan adalah kebenaran agung menurut ukuran nurani dan pikiran saya

Mereka… (sambil menunjuk ke arah keluarga si gadis)… Tuan terhormat Ayahanda dari Hawa, konglomerat yang mungkin bisa membeli bidang tanah di surga jika dijual… Anaknya laki-laki yang menyuruh saya untuk lebih baik mencintai seorang anjing di kolong jembatan karena berpikir kastanya adalah kasta para konglomerat yang telah diwariskan secara turun – temurun…

Mereka menghalang-halangi kebersamaan kami… mengatakan dunia kami adalah dunia yang berbeda… mengatakan bahwa udara dan bulan yang kami lihat adalah berbeda… mengatakan bahwa matahari yang menyengat kulit di kala siang itu adalah matahari yang berbeda…

Kenapa mereka tidak mengerti ???”

Mereka pernah mengancam orang tua saya, memberikan orang tua saya dan saya duit dalam koperan besar… dan saya mengembalikannya… menyuruh preman-preman untuk menghancurkan tempat tinggal kardus kami… tapi kami bangun kembali… menghajar saya dan kedua orang tua saya yang sudah tua… tapi… Tuan Hakim… saya tidak bisa berhenti mencintainya…

Cinta saya terlalu perkasa untuk dipadamkan dengan materi, dengan ketakutan, dengan api… dan kesemuanya itu…

Kenapa mereka tidak mengerti ???”

Si Lelaki setengah berteriak dan air mata menetes dari kedua matanya.

Ruangan hening…

Semua orang terdiam, saling menatap orang terdekatnya.

Lalu… kenapa kamu membunuhnya ???” ujar si hakim memecah kesunyian.

“Membunuhnya???”

Saya menyelamatkannya Tuan hakim…

Orang-orang dalam ruangan kembali ribut sampai Hakim harus kembali mengetukkan palu saktinya kembali.

Tahukah anda bagaimana rasanya hidup tanpa penyemangat hidup ? Terpenjara dalam keinginan-keinginan orang lain?”

Kekasih saya dipenjara dalam rumah besar selama bertahun-tahun, hidup dalam prosedural ini boleh – ini tidak boleh! Semua dengan pengawalan dan aturan sampah yang memenjara jiwa… sampai suatu waktu dia mencoba melarikan diri hanya untuk bertemu dengan saya yang pantas mencintai seekor anjing ini… (sambil melirik ke anak lelaki keluarga si gadis)

Malaaang… Tuan Hakim… Malaaang…” ujar si Lelaki sambil sesunggukan menahan isak tangis.

Dia terjatuh ketika akan melarikan diri melalui jendela kamarnya… ketika betapa besarnya pintu tersedia di rumah…

Ironis sekali Tuan Hakim… Gadis saya – anak yang empunya ke luar dari rumah para orang terhormat bagai pencuri yang mencoba mengejar kebahagiaannya…

DAN MEREKA MASIH BANGGA KARENA MEMAKAI CELANA DALAM SUTERA

Tuan Hakim Yang Agung… Kekasih saya menjadi cacat setelah kejadian itu… Dia benar-benar tidak bisa keluar rumah… tidak bisa bicara… hanya senyum di wajah tirusnya yang sempat saya lihat sebelum saya memutuskan untuk ‘membunuhnya’…”

DAN MEREKA MASIH BANGGA KARENA MAKAN DENGAN GARPU PERAK

Benar… Yang mulia hakim… (sambil menangis… berlutut)… saya membunuhnya… tapi… saya yakin itu yang terbaik untuknya…

Apakah hidup dengan selang di sekujur tubuh anda, anda sebut kehidupan? Apakah hidup berkesendirian di ruangan 4×4 meter anda sebut kehidupan? Apakah menjadi mayat hidup anda sebut kehidupan?”

Si Lelaki bangkit berdiri…

APAKAH KALIAN TIDAK MENGERTI??? SAYA MENYELAMATKANNYA !!!”

Jika tidak di dunia ini, mungkin kami akan bersama di tempat lain setelah kematian…

Sudah selesai Tuan Hakim dan tuan nyonya sekalian…

Si Pemuda kembali duduk di kursi pesakitannya… menghadap para Perwakilan Tuhan yang seolah – olah bersayap malaikat.

Suasana Hening…

the end


Hidup mungkin memaksa kita untuk berjuang dan untuk sukses… tapi tujuan akhirnya yang tidak kita rencanakan selalu kematian

Advertisements

About this entry