Malam di Pojokan Hidup

Selamat malam dunia…

Ini percakapan Saya (S) di pojokan hidup dengan Penguasa Kehidupan (PK)

PK :

“Kamu percaya bahwa Saya ada ?”

S :

“Kamu pun saya sedang ciptakan ada, di sini… saat ini saya mengadakan Kamu terlepas dari kenyataan ada tidaknya Kamu”

PK :

“Kenapa kamu mengadakan Saya ?”

S :

“Saya mengalami kebuntuan pemikiran dan tindakan dan tiada yang dapat kujadikan tempat berkeluhkesah, Para tetangga tidak ingin saya cercari dan tambahi pemikiran saya dan masalah saya, sebab mereka sudah cukup punya masalah”

PK :

“Lanjutkan…”

S :

“Kamu tahu saya siapa, anak dari siapa, dan apa saja yang telah saya lakukan sampai 25 tahun terakhir ini, yang bahkan saya tidak ingat lagi…”

“Saya hanya akan mengundangmu untuk mendengar saya berceloteh seperti masa kecil saya dulu…”

“Jika pun Kamu berkeberatan, tiada guna sebab saya menciptakan Kamu… dan harus demikian adanya saat ini”

PK :

(Tersenyum)

S :

“Tahukah rasa penasaran saya terbesar adalah pencarian makna kehadiran saya di sini, dan pencarian Kamu dan Dia (Janganlah Kamu cemburu kenapa saya menulis dia dengan Dia – bukan maksud saya untuk mensakralkan, tapi kerinduan akan Dia lah yang membuatku tetap berpikir bahwa Kamu harus ada dan tidak boleh tidak ada) yang dapat memahami dan mengerti dan menerima saya dan mencintai saya.

“Dan… saya mengundangmu berbicara tentang “Dia”

PK :

“Saya Pencemburu ! ! !”

S :

“Dan saya tahu Kamu juga adalah Maha segala yang baik”

“Maha mengerti…”

PK :

“Kenapa Saya harus merendahkan diriKu untuk membarter ke-rinduan akan ‘dia’ atau “Dia” mu —PK mengkoreksi ucapan Nya— dengan keadaan Saya ?”

“Toh itu tidak mempengaruhi pengingakaran sementara darimu sampai suatu waktu kamu akan melihat dasar telapak kakiKu”

S :

“Janganlah memotong sejenak. Saya hanya ingin Kamu mendengarkan saja… dan maafkan jika kalimat melukaiMu”

PK :

“Karena Sekarang Saya adalah ciptaanmu…” (sambil tersenyum)

S :

“Saya akan mulai…”

“Tentang “Dia”…”

“Dia yang mengerti dan memahami kecacatan jiwa saya, dan kekosongan hati saya dan yang akan mencintai saya atas kekurangan saya… cacat saya dan kehampaan saya”

“Dia yang akan menghapus setiap isak yang membulir menjadi air mata jika masih ada yang tersisa”

“Dia yang akan menampar pemikiran akan keraguan saya terhadap Engkau!”

“Bukan saya tidak bersyukur atas segala yang ada dan tidak ada yang telah saya lewati sampai detik ini. Tapi bukankah Kamu menciptakan kami manusia berpasangan-pasangan atau bukankah kami manusia memang mahluk nafsu dan keinginan yang tidak akan berhenti sampai Kamu menarik kembali hidup yang Kamu berikan?”

PK :

“Betapa indah rayuanmu… tapi Saya akan mendengarmu saja…”

“Toh itu tidak mempengaruhi pengingakaran sementara darimu sampai suatu waktu kamu akan melihat dasar telapak kakiKu”

S :

“Saya tidak bermaksud religius… berniat ber-transaksi dan mengambil rasa atau simpati dariMu, sebab itu semua adalah kepunyaanMu”

“Saya hanya ingin Kamu mendengar…”

PK :

“Cukuplah kamu berbicara seperti itu… Saya selalu mendengarmu… dan “dia” ataupun “Dia”-mu…”

S :

“Betapa indah perkataanMu… sungguh! Tapi tidakkah Dia akan berkesusahan karena saya ?”

“Sudahkah Kamu memikirkan semasak mungkin supaya tidak begitu acak dan kebetulan belaka dalam logika berpikirku ?”

(Menatap cahaya pojokan hidup)

PK :

(Tertawa)

S :

“Jika demikian, biarlah Dia yang kutunggu bukanlah karena sesak di pojokan ini. Biarlah keindahan “Dia” bukanlah penglihatan logika kebetulan.”

“Biarlah Dia yang akan mengisi kehampaan hati yang akan kau lengkapi, sampai suatu waktu saya akan melihat dasar telapak kakiMu”

“Janganlah mencemburui Dia karena egois saya karena Dia hanya lah seseorang manusia yang akan menemani saya yang cacat jiwa dan jauh dari sempurna yang tak pantas di hadapMu”

PK :

“Saya Pencemburu ! ! !”

“Tapi…”

“Toh itu tidak mempengaruhi pengingakaran sementara darimu sampai suatu waktu kamu akan melihat dasar telapak kakiKu”

S :

(Tersenyum kecil)

Sayapun mengakhiri percakapan malam itu , melangkah keluar dari pojokan. Menatap lampu temaram di sebelah kamar dan masuk menuju kamar saya. Menunggu simponi harmoni hidup. Teringat wejangan para bijak “Semua indah pada waktuMu“. Seperti partikel candu yang memberi asa di kepala dan menanamkannya di hati.

Semoga indah juga saat Dia mempertemukan saya dan Dia.

Sekali lagi, mohon Engkau jangan cemburu kenapa ‘dia’ kutuliskan “Dia”, bukan kusakralkan pun niat menyamakan keamnusiaan dengan derajatMu, hanya betapa rinduku ini akan menggenapi keraguanku selama ini akan Engkau.

Kerinduan akan diketemukan dengan Dia – yang memahami, mengerti dan menerima dan mencintai – lah yang membuatku saat ini percaya bahwa Engkau (Tuhan) harus ada.

Jangan menangisiku dari atas sana seperti aku yang menangisiMu dari bawah sini.

Salam dan Maaf.

 

 

Advertisements

About this entry