Terjadi

July 14, 2011 at 8:03pm

I. (Kupikir) Pembuka

(Garuk-garuk kepala)

Banyak berita bertebaran terkonsumsi di tempat kita pijakkan kaki. Mulai dari ujung dunia timur sampai barat, dari kutub utara ke kutub selatan. Yang sedikit banyak atau langsung tidak langsung mempengaruhi atau bersinggungan dengan kita secara pribadi. Banyak peristiwa terjadi dalam rentang abad-abad: perang – romansa – pembantaian – cerita patriotik – cerita kejahatan abadi – dan peristiwa lainnya dan sedikit banyak dan langsung tidak langsung menyentil fisik atau hatimu.

Bencana di negeri seberang , hadirkan simpati . . .
Tragedi di negeri sendiri hadirkan tangis . . .
Ironi di negeri sendiri lahirkan apatisme . . .
Lelucon di negeri seberang, lahirkan ide . . .

Peristiwa yang terjadi terkonsumsi membentuk sedikit banyak cara bereaksi yang terlatih atau alami. Contoh sederhana : Seperti orang yang dapat menangis atas kematian orang yang jauh disana (yang bahkan tidak dikenal oleh nya atau tak menyinggung sedikitpun garis kekerabatannya, kecuali dari garis manusia pertama Adam dan Hawa). Sungguh saya tak bisa bereaksi sedikitpun dengan meneteskan air mata untuk kemalangan orang lain kecuali hanya kalimat dari bibir sekilas tanpa tersentuh hati, seperti kebanyakan orang.

“Turut berduka cita . . . bla . . . bla . . . bla”

Karena . . . saya tak benar-benar berduka . . . 

(Intermezzo – mendengar beberapa alunan lagu, dan ngisap beberapa batang rokok)

Masa-masa terbagi bagi orang yang sedang hidup sama yaitu : lalu – sekarang – nanti.
Masa lalu sudah terjadi – masa sekarang sedang terjadi – nanti siapa yang (mau) tahu. Kita hidup di masa sekarang. Dapat belajar dari masa lalu dan dapat menuju masa nanti.

(mulai pusing)

II. (Kuharap ber) Isi

Saya punya mimpi di masa kecil dan mungkin kamu juga, sederhana sekali dulu. (Entah kenapa sekarang jadi kelihatan rumit).

Fiuuh lagi . . .

Kembali ke soal aksi dan reaksi atau sebab akibat. Hidup di tempat kita berpijak ini, bagai terbelenggu dalam lingkaran setan – untuk yang kita anggap bagian hidup yang buruk – dan lingkaran non setan – untuk yang bagian hidup yang baik. Seperti bereaksi baik atas aksi baik, dan sebaliknya.

I don’t care if you don’t !

Sederhana sekali, ternyata itu adalah alasan kenapa ucapan turut berduka cita saya hanya bunyi tak bernyawa. Dia yang tertimpa kemalangan tidak peduli pada saya meski mungkin mengenal saya. Mungkin jika seseorang juga menemukan kebahagiaannya, ucapan selamat saya juga tidak akan bernyawa hanya sekedar bunyi yang identik dengan nada kentut.

Basa-basi omong kosong klasik ! ! !

Sekarang, ketika kulihat kebelakang banyak yang peduli pada saya yang tidak saya pedulikan balik. Rumus aksi reaksi positif terabaikan, mereka bahkan tersakiti, menangis, kecewa dan reaksi yang lainnya yang jika oleh para penikmat sandiwara jika bertemu dengan mereka akan dibunyikan bunyi-bunyian ini :

“kasihan ya kamu . . . bla…bla…bla”

Sekarang, penyesalan  dengan konsisten basa-basi terjadi sudah. Melihat orang yang peduli pada kita menghilang tanpa basa – basi, mengalihkan perhatian pada hal lain dan mungkin kepeduliannya pada yang lain. Mungkin belum saat ini tapi nanti mungkin bisa jadi. Saat itu beberapa orang yang di posisi kita dulu yang mengeluarkan bunyi – bunyi – an tak bernyawa mungkin akan bersahut – sahutan di telinga bagai dengungan seekor nyamuk yang rese di malam hari. Susah tidak menganggapnya bukan hanya basa-basi lingkaran sandiwara.

Waktu akan terus berjalan . . .

Tak peduli siapa yang meninggalkan siapa . . .

Siapa yang mengecewakan siapa . . .

Dan sebagainya dan yang lainnya . . .

Ketika kita sibuk menanyakan apa yang terjadi dan meneriakkan bagaimana itu bisa terjadi ? Lebih jauh sebelum itu orang – orang yang peduli pada mu konsisten menanyakan kabarmu dan mungkin kadang itu tak sesuai harapanmu yaitu dari orang yang kau berikan perhatian. Lagi, kau tak pedulikan yang memperdulikanmu. Energi yang tersedot terbuang percuma untuk orang yang hanya akan mengeluarkan bunyi-bunyian tak bernyawa ketika kamu tidak bernyawa.

Ironi hidup yang saya mengerti dan sering saya acuhkan. Ketika terjadi penyesalan (basa-basi) adalah kemungkinan seratus persen-nya. Mungkin selanjutnya menangis dan mengunjungi rumah ibadah langkah selanjutmu.

Hela nafas lagi dan lagi mengimbangi beratnya basa – basi hidup.

III. (Bukan) Akhir

(Intermezzo – gerak-gerak badan sambil masukin tangan ke dalam celana)

Sebuah realita bahwa seseorang banyak menghabiskan energi dan waktunya, perhatian dan kepeduliannya untuk orang-orang yang bahkan tidak pernah mempedulikannya dan bahkan tidak akan mengeja namanya ketika dia berkalang tanah.

Terjadi . . .

Sudah . . .

Terulang . . . (dalam dunia mimpi yang akan lenyap ketika air mata menetes di kesendirian)

Terpuruk . . . (penyesalan basa-basi yang akan terbenam oleh usia)

Peduli . . .

Jangan tanya kepada siapa harus tertumpahkan . . .

Sederhana . . .

“Jangan pedulikan seseorang jika dia tidak peduli”

Itu . . . sia-sia

Kamu bukan Tuhan . . .

Ha… ha… ha

Senyum kecil dari kecilnya hati.


Mengulang lagi : “I don’t care if you don’t

Pedjambon, 14.07.2011

 

 

Advertisements

About this entry