Lelucon (Hidup) Terbersit di Limabelas Nada

Suatu waktu saya mendengar cerita tentang manusia yang konon bijak dan cerdik pandai yang bertindak penuh perhitungan akal dan budi tanpa pamrih. Libas sana-sini setiap yang merusak dan berbejat tanpa pandang bulu. Kudengar juga cerita seorang humanis tanpa bayaran membela kaum miskin karena dasar kasih. Kudengar pula yang sebaliknya dan mengambil keuntungan dari pada mereka…

Kudengar juga cerita seorang idealis kesederhanaan hidup ‘hitam-putih’ yang meregang nyawa dan ataupun terasing atau memilih seperti orang kebanyakan (oportunis pengecut). Dulu kudengar bahwa orang jahat tidak ada yang berjaya dan pasti selalu akan kalah, masalahnya menurut saya adalah para orang jahat selalu wafat belakangan dari orang baik dan berani… Sejarah kemudian dibentuk dan bertahan lama sampai pun nanti dia terjatuh, orang akan malas mencari kebenaran ke belakang… “Memaafkan tapi tak Melupakan” kembali akan menjadi kalimat bijak atas kemandulan penguasa pengganti (pun kalau dia bisa lebih baik)… kwa2

Dulu kupikir sebuah sistem atau alat apapun pasti ada yang sempurna. Dulu kupikir sistem ‘x’ adalah cacat dan rusak, sampai suatu ketika kusadari ternyata tidak ada sistem yang sempurna sangat ataupun juga tidak becus. Semua akan baik meski tidak benarpun (benar itu ukuran penguasa-dan baik itu ukuran nurani) jika berada di tangan seorang manusia seutuhnya.

Sekarang… kumelihat… dan mengerti… kalau kebodohan yang dipermisikan berlama-lama akan menjadi kebiasaan tersadarkan tanpa perlawanan. Menyerah pada pembodohan adalah menerima kebenaran sebagai halangan dan haram. Menjadi kritis adalah reaksi bodoh. Dan menjadi berbeda karena ikut nurani adalah keanehan yang berakal dari kesadaran palsu.

Sial beribu kali sial… sekarang semua prinsip dan cerita yang dulu kuyakini ternyata hanyalah lelucon di setiap helaan nafas. Melihat orang salah disalahkan hanya ada di penghujung usia. Berbuat baik adalah lelucon aneh. Doktrin dahsyat yang memprogram suara nurani yang sejatinya diberikan Penciptapun kencang bertebaran melalui lingkungan dan beraneka ragam cara. Ketika semua lelah untuk melihat kembali ke belakang, tentu saja karena lebih baik melangkah ke depan (pikir mereka)… tapi… selalu terulang dari waktu ke waktu…

Dan akhirnya, hanya pengulangan kembali, mungkin akan ada yang berpikir seperti ini kembali… tidak pernah belajar… terbodohkan dan dibodohkan sampai mati bodoh dan menjadi hantu bodoh sebodoh-bodohnya… Bodoh akh… kwa2…

Lelucon ini telah dibenarkan secara nyata sekarang…
Kebenaran yang harus saya terima…
Melawan adalah kebodohan atas fakta…

Sekarang adalah era dimana menjilat adalah wajar, sembah sujud pamrih adalah tata krama, anjing menggigit majikan (yang memberi makan rutin) adalah bisa dibenarkan karena si anjing merasa dia adalah oportunis yang berpikir dia kelak akan menjadi manusia…
Sekarang adalah era dimana mengambil bagian orang lain dari piring bersama adalah sebuah kebenaran. Lelucon yang tak bisa kujabarkan satu persatu karena telah kemudian kuketahui dan kucoba tetap sadar tapi tanpa daya terbiarkan…

Mati terasing atau menyerah kepada kemunafikan, pun hanya lelucon yang akan saya tertawakan apalagi mereka…
Lelucon ini menjadi ironi…

Semua ini terpikirkan hanya karena saya menunggu kabar dari seorang gadis cantik luar biasa (seperasaan dan sepemikiran saya) yang menghipnotis kesadaran berpikirku untuk menghargai diri lebih tinggi dari para munafik… (Apakah) kita sama-sama tidak menyukai orang-orang seperti mereka, tapi apakah persamaan itu bisa membuatmu menyukaiku??? Itu bukan pertanyaan… itu harapan… kwa2…

Yah… lelucon ini sekarang tidak bisa saya apa-apakan, hanya bisa kusadarkan terus hati dan kepala bahwa suatu saat hidup akan menempatkan manusia seutuhnya akan berbuat manusiawi tanpa teori pintar mandraguna, nanti bahwa cukup menjadi manusia adalah solusi terindah… Karena pada dasarnya kita adalah baik… (ini kesimpulan dari nurani saya)…

Salam,

“Manusia seutuhnya adalah manusia bernurani”

Advertisements

About this entry