Kutuk Cinta Itu Berdua

I.
Adam dan Hawa dicipta sejoli oleh Pencipta
Tertakdir saling melengkapi
Tanpa batas usia dan segala logika
Begitulah takdir mengiringi
Sudah terjadi

II.
Dunia berputar sama seperti zaman penciptaan
Beribu tahun lalu pun berabad lalu
Hingga saat ini
Berputar bumi pada poros kelilingi matahari
Selalu demikian
Hingga detik ini saat kelahiran seorang pemuda puluhan tahun lalu
Bukan Adam
Tapi jelas dia adalah turunannya (yang tak sudi disebut keturunan kera)
Homo sapiens
Namanya rentetan abjad yang kita tahu bersama
Sesukamu sudah untuk mengeja dan menyebut
Kusebut saja PRIA

III.
Pria anak desa pemercaya Tuhan
Dari dulu ketika tidak tahu dan tahu menyebut Tuhan
Sekeliling mengajarkan itu
Tuhan yang baik dan maha
Hingga cerita bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan
Legenda Adam dan Hawa
Satu-satunya kesahihan mantra tidak ada kesendirian manusia
Seorang ada untuk yang lain
Sampai dia menemukan hawa pilihannya
Jatuh cinta pada hawa pilihannya
Dan membuktikan cintanya pada hawa pilihannya
Bukan pada hawa-hawa yang dulu disukainya
Mantannya yang katanya bukan cinta sejatinya
Tidak menguras energi merengkuh mereka
Logika perhatian dan gombal yang menaklukkan mereka
Sampai pada pilihan lanjutkan di ranjang atau tidak
Syukur PRIA diajar untuk menghormati wanita
Sekarang… entah esok…

IV.
Cinta memang tanpa mata
Tidak sadar ketika logika mengatas
Termenung ketika mendekat
Dahulu kala katanya pernah ada rasa yang sama
Tapi entah kenapa tak sekeras sekarang kuatnya
Akh… mungkin dulu tidak butuh cinta
Atau bahkan sebenarnya tak cinta

V.
Sekarang PRIA mencinta
Hawa yang dulu sempat dikenal
Tapi tak didera cinta sangat seperti sekarang
Tapi si hawa tak merasa rasa yang sama
Penolakan hawa dianggap ujian
Ucapan berhenti adalah tantangan yang harus dipatahkan
Dia bukan hawa yang seperti sebelumnya
Susah ditaklukkan
Sebut saja BORUA

VI.
Borua juga percaya Tuhan
Legenda Adam Hawa sudah pasti dimengerti
Maklum dari terbit matahari sampai tenggelam
Tuhan adalah andalan jiwa raga
Tapi…
Dia berkata tidak merasakan rasa sama dengan si PRIA
Anjurkan berhenti dan berdoa
Mencari hawa lain untuk dicinta
Seolah cinta itu adalah anugerah adalah omongkosong belaka
Cinta itu (jika merunut celoteh hawa) adalah proses memilih barang
Di etalase toko
Suka dan tidak lalu diambil
Bosan cari yang lain…
Bukankah begitu seandainya cinta bisa memilih ?

VII.
PRIA marah dan menghujat
Tapi akhirnya tersadar dia berada di dunia manusia
Yang berputar sama jutaan tahun lalu
Doktrin, dogma dan logika bertebaran dimana-mana
Cinta bisa dilogikakan
Kewajiban sejarah kawin tak butuh cinta
Hawa-hawa-an untuk pendamping
Sekedar luapan amarah dan selimut malam
Hingga sekedar lanjutkan garis keturunan
Akh… kejam nian
Cinta yang terlahir dari pelampiasan jiwa yang kadang tak seiring raga
Terkutuk… terkutuk… terkutuk…

VIII.
Jika adam dan hawa tertakdir sejoli
Dan
PRIA dan BORUA juga demikian
Tidakkah mereka sadari ketika seorang memutuskan tidak menerima yang satunya
Mereka terkutuk menyendiri
PRIA ketika sendirian
Dialah yang seharusnya memeluk BORUA dalam kehangatan
Akh…
Sampai maut datang secara sendiri-sendiri
Kutukan sejoli tidak untuk sendiri
Tapi sepasang…
Mengertilah sekarang !!!


Lebih baik hidup dengan orang yang mencintai kita” atau “Pria sejati tahu kapan menyerah terhadap cinta yang tertolak” sepertinya ada benarnya juga, itu mantera penghapus kutuk sejoli yang tertakdir yang tak saling mengerti.

Advertisements

About this entry