Sajak Cinta (meng) Kampret

Ingin kutuliskan sajak cinta
Karena dan Untuk KAMU
Ingin kurangkai seindah rayuan yang memaksa Tuhan
Ciptakan langit dan bumi
(Konsentrasi !!!)
Kupandangi layar kosong
Kukumpulkan segala memori tersisa
Memejamkan mata
Lagu cinta dari ragam generasi saya putarkan mengiringi

1…2…3…!!!
Mulai !!!
Mulai !!! Mulai !!! Mulai !!!
Siiiiiiiaaaaaaaaaaaal !!!
Blank… blank… blank !!!

Saya tak tahu mulai dari mana
Tak tau ingin menulis apa
Sungguh…
Tapi,
Kuingin menuliskan sajak cinta
Untukmu…
Aku tahu dan rindu
Kupandangi jejeran huruf di depan layar maya
Berharap ada keajaiban
Menggerakkan jari – jari meramu kata cinta
Siaaaaaaalllllllll !!!
Rokok kunyalakan mungkin bisa memantik ide
Lagu cinta dari luar pun kuantrikan dalam pemutar lagu VLC
Harus ada ide…
Ide !!! ide !!! ide !!!
Asap mengepul…
Krik…krik…krik !!!

Keluar kamar dulu (ujarku)
Pandangi langit malam dan mencium aroma tanah sejuk setelah hujan
Demi Inspirasi sajak cinta untukmu
Harus ada ide !!!
Ide !!! ide !!! ide !!!
Asap mengepul…
“Awas kesambet setan mas !!!” (suara ibu kos)
Buyaaaaaar !!! buyar !!! buyar !!!

Kududuk kembali di depan layar dell merah ferrary
Pikir !!! pikir !!! pikir !!!
Kucontek saja sajak – sajak cinta manusia lain (pikirku)
Akh… tidak !!!
Tidak bisa !!!
Mereka tidak paham rasa ini
Ini rasaku
Pun ada yang identik dalam keuniversalannya
Saya tak mau disamakan
Karena kamu cuma satu
Sajak cinta untukmu
Hening
Diam
Tanganku kaku
Cari !!! cari !!! cari !!!
Kampret !!! kampret !!! kampret !!!
Kampreeeeeeeeeeeeeeeeettttttttttttttttt !!!

Saya menyerah… !!!
Sajak cinta tak bisa kuciptakan indah seperti para pujangga
Hanya gelisah
Dan keterpendaman

Kuakhiri saja usaha penciptaan sajak ini
Mencari pun tak tahu apa
Menunggu pun tak kunjung hadir

Malam memalam…
Menyapa
Pintu kamar terbuka undang dingin
Nyamuk tak sabar berkeliaran di waktu mainnya
Hmm…
Kubisikkan saja dalam hati
Kepada Sang Maha…
“Berkati dia, sayangi dia, jagai dia, peluk dia, hapus setiap air mata yang jatuh, kuatkan dia atas segala cobaan, semangati dia ketika merasa tak berarti, berjalan selalu disampingnya kapan dan dimanapun, dendangkan lagu iringi tidurnya… ”

Tadinya ingin kuberi judul “Sajak Cinta” saja …
Tapi…
Hatiku beku untuk menyampaikan rasaku ke otak dan memerintah saraf jari mengetik
Sajak itu ada tapi terpendam
Nyaman dia mungkin tetap disana
Dalam hati


“Terimakasih untuk kehadirannya !!!” itu bisikku yang lain

Advertisements

About this entry