Tuhan di Kamar 508

Suatu hari kubertemu dengan semut hitam yang datang tanpa ijin ke ruang kamar yang saya singgahi dalam perjalanan (memanfaatkan) waktu hidup. Mahluk hitam kecil pekerja keras.

Saya langsung menangkapnya dan memasukkan ke dalam gelas kecil dalam ruangan kamar. Gelas kaca bening kutengkurapkan menangkarnya. Kupandangi dia seakan panik dalam ruang tertutup, dia tahu nyawanya terancam tanpa perlu tahu dan belajar pelajaran fisika atau kimia tetang kematian jika ketiadaan dan minimnya oksigen dalam ruang tertutup.

Mondar-mandir dia. Memanjat ke sana kemari. Gelisah atau berjuang.

Sampai akhirnya dia memutuskan berhenti di tengah ruang tak beroksigen. Kepalanya menghadap saya. Saya tidak tahu apa yang dipikirkannya. Mungkin dia hendak menyampaikan pesan atau malah menyerapah ; berdoa ; atau menangis? Saya sungguh tak tahu – menahu. Saya masih berusaha melihat tingkahnya. Hanya antena di kepala yang semakin menunduk menyembah ruang kosong.

Secara keseluruhan dia diam !!!

Kemudian seseorang membunyikan bel pintu kamar, beberapa saat, saya tunggu hingga dentingan bel berhenti. Saya tidak menunggu seorang nona cantik pemuas nafsu. Saya melangkah membukakan dan ternyata wanita pelayan kamar membawakan minuman pesanan. Saya menerimanya dan tidak memberikan tip. Tip dilarang diberikan di hotel ini. Bisa mempengaruhi kinerja dalam jangka panjang jika ketergantungan emosional pada model berkah tip ini.

Kembali saya melangkah ke arah semut yang saya gelaskan secara kejam.

Meja persegi yang di atasnya ada lampu penerang yang tidak saya nyalakan karena saat itu masih siang, cahaya matahari masih sangat terang menembus tiap celah ruang yang memberinya keleluasaan untuk menusuk menembus kegelapan tiap inci sudut kamar. Kamar nomor 508 di penginapan ini, posisinya persis menghadap kolam renang yang membuat saya bisa menikmati para mahluk (baca : wanita) yang menceburkan diri dengan pakaian minim dengan lekukan jelas di setiap inci tubuh.

Lumayan . . . Cuci mata . . . Berkah menyehatkan buat mata dan pikiran.

Di seputaran gelas yang memerangkap si semut hitam, tampak kedatangan seekor semut lainnya mengitari gelas, memanjat dan mengitari gelas, mungkin mencari celah atau bisa jadi hendak memecahkan gelasnya, karena dia mengitarinya berkali-kali. Seperti ritual manusia yang metafisis.

Semut yang mencoba ‘menolong’ kemudian berhenti di sisi kiri gelas yang menghadap tembok putih kamar dengan posisi seolah-olah berdiri, seperti memandang semut lainnya di dalam gelas. Saya tidak tahu apa hubungan mereka. Hanya sesama semut atau keluarga sedarah, sepupu, atau suami atau istri atau . . . entahlah. Kemudian saya teteskan sedikit air di dekat semut yang mau menolong, mungkin dia haus pikirku dalam upayanya. Tapi, dia tidak mendekat. Melirikpun tidak.

Kemudian saya menuju ranjang putih merebahkan diri.

Pun dia tidak memperdulikanku. Bukankah saat itu saya adalah Tuhan di ruangan itu?

Dia tidak tahu kalau hanya dengan gerakan amat sangat kecil, bisa kulepaskan semut tertawan dan menggenapi perjuangan semut di luar gelas.

Candaanku saat itu mungkin juga mirip lelucon yang sama bagi Yang Empunya Kehidupan dan Jagad Raya. Dia bisa saja memainkan ‘permainan’ yang sama, hanya saja dengan jangkauan yang lebih luas tak terbatas. Saya hanya memainkan untuk mengisi kosongnya waktu. Tanpa tahu apa dan untuk apa kehidupan dan kematian semut dalam gelas. Hidup mati si semut sungguh tak kupedulikan.

Setengah jam berlalu. Saya melirik dari ranjang ke arah gelas di meja coklat persegi dari kayu yang sudah dipoles mulus dan licin.

Semut penyelamat masih betah menunggu. Naluri binatang atau sesama pekerja keras?Saya pun melangkah mendekat dari rebahan di ranjang, menyalakan rokok, menarik kursi dari teras depan jendela yang menghadap kolam renang, masih terlihat seorang wanita menengadah ke atas ke arah saya sebelum terjun ke dalam kolam renang.

Byuuur . . . byuuur . . . byuur” (bunyi air kolam yang dijatuhi tubuh si wanita)

Saya balikkan kursi hingga sandaranya di depan, duduk menghadap gelas di atas meja. Kudekatkan wajah mengamati kesabaran si semut ‘penyelamat’. Mencoba berkomunikasi dengannya.

Mungkin, dia sudah mati” ucapku pelan.

Si semut penyelamat tetap tak menggubris.

Kemudian, kuhisap rokok cukup dalam, kutahan beberapa saat agar gumpalan asap lebih banyak tersedot.

Kukumpulkan asapnya dan kuarahkan ke semut penyelamat. Dia bergerak dan pergi pikirku sesaat.

Ekh . . . hanya panik . . . Dia tetap kembali!” Gumamku sambil tersenyum kecil.

Berkali – kali kusemburkan asap putih yang bahkan para ahli dunia manusia mengatakan itu berbahaya buat manusia —entahlah untuk bangsa semut— dalam kadar pasif.

Dia panik kembali, geraknya sama tapi selalu kembali menuju gelas dimana semut lainnya tertawan. Pergi untuk kembali.

Fiuuuh . . .” Kuhela nafas panjang.

Terlintas tanya. Seberapa sering saya bersabar seperti ini menuju tujuan. Tujuan yang terlihat di depan mata bahkan bisa dengan mudah kucapai, kutinggalkan padahal tiada ‘gelas’ penghalang sekalipun menghambat. Apalagi jika sampai ada cobaan awan gelap seperti ‘asap tebal yang meyerang secara frontal’, jangankan dua sampai tiga kali, kali pertama mungkin saya akan dan sudah mundur.

Hahahaha . . .” gelak tawa saya dalam hati.

Kupandangi cermin di belakang meja. Bayangan saya jelas tersenyum seperti menyuruh saya mengangkat gelas yang menawan si semut. Bayangan yang baik mungkin cerminan suara hati kebaikan.

Si semut penyelamat masih sabar. Dia mungkin tahu niatku. Dia mungkin melihat senyum bayanganku dalam cermin. Dia melangkah mundur dari tepian kaca gelas. Saya hembuskan isapan rokok terkahir . . . ke langit – langit kamar menuju detektor asap kamar. Asap tebal putih tertembus cahaya matahari siang. Mendekat kuangkat gelas kaca.

Semut penyelamat langsung menerobos dan mendekat. Menyentuh si semut tertawan dan mengelilinginya. Si semut tertawan masih tidak bergerak. Si semut ‘penyelamat’ kemudian menariknya ke arah tetasan air yang kujatuhkan.

tik . . . tik . . . tik . . . tik . . . tik!” lima detik kemudian semut tertawan menggeliat, antenanya digerakkan ke depan dan belakang.

Dia masih idup.

Apakah dia berucap terimakasih, atau malah memaki si semut penyelamat, saya tak tahu.

Saling menyentuhkan antena.

Para semut itupun melanjutkan langkah, entah kemana saya tak tahu dan tak mau tahu.

Semut tertawan berjalan terlebih dahulu, disusul semut penyelamat.

Bukankah hidup bagi manusia juga begitu, melanjutkan kembali ke tujuan lain setelah yang satu terpenuhi atau terlalui. Kadang beberapa yang bodoh tetap tinggal dan menunggu mati.

tamat


Jika dikabulkan sebuah permintaan ; saya mungkin tidak akan meminta kebijkasanaan seperti permintaan Raja Salomo ; saya akan meminta kamu dan bahagiamu

 

 

Advertisements

About this entry