Abu Hati’

Pagi – Siang – Sore – Malam
Berujar hari – hari tentangmu
Sejuk pagi merebak senyummu
Sengat siang menusukkan senyummu
Hangat sore menelisik senyummu
Damai malam menyempurnakan hadir senyummu

Saya terdungu dalam ilusi hari – hari
Ilusi yang mengilusi akan nyaman semu dalam tidur
Nyata yang menyenandungkan pedih
Entah sejak kapan senyummu menjajah
(Atau adakah kamu yang terjajah?)
Senyummu menyerang hati . . .

Kucabut paksa kembali hati dari jasad
Berdebar
Lampaui debaran lelah setelah bercumbu
Kupandangi bentuknya
Detakannya luar biasa dahsyat ketika kusebut namamu
Detakannya meraung sakit tak terkata ketika terniat cabut namamu darinya
Entah sejak kapan namamu terurat di sana

Dulu
Kutinggalkan hati ku di gurun tandus tak bernafas
Karena saya tak butuh dia . . .
Sampai
Di detik ini
Saya harus membunuhnya
Karena dia dengan semborono di detik pertama
Sejak saya meletakkannya kembali di samping patahan tulang rusuk yang cacat
Dia menguratkan namamu di sekeliling dindingnya
Dia menyemennya dengan senyummu sampai bilur terdalam
Arogan . . .
Tanpa ijin . . .
Dipencundanginya . . . Saya
Tuan atas semuanya kecuali sang hati !
Terpaku dipaku oleh ilusi yang menyata
Memburam senyummu dalam nyata
Tidak dalam si hati
Entah mengapa si hati yang terjajah
Tapi . . .
Jasadku yang butuh dipapah

Hari ini
Terakhir pikirku . . .
Kupandangi sekali lagi namamu dalam gurat pahat hati
Ingin kucabik luluhlantakkan
Sampai bilur terdalam
Kalau perlu kubinasakan hati ini jika harus
Namamu harus tercabut dan senyummu harus hilang mengabu
Akan kubakar sisa hati yang masih tersirat senyummu
Kupastikan tidak ada degupan si hati dengan kamu ikut berdetak di dalamnya
Kubumihanguskan jika perlu !!!
Mendahului kiamat zaman !!!
Kupantik api dari batu akik berbentuk hati yang gelap
Kucongkel dari tanah merah di sekitar hutan eden
Kubakar si hati !!!
Mengabu !!!

Kusimpan abunya dalam balutan kemeja putihku . . .

Kuberjalan . . .
Jasad bergerak tanpa hati
Realita mengilusi sisa raga bergerak
Matematis
Logika
Tanpa si hati
Sampai memudar pagi, siang, sore memalam

Kuberanikan diri hampiri kamu di sana
Terakhir pikirku
Di ruang dan waktumu
Dulu dengan hati dan tak kugunakan logika
Hati yang menuntun arogan
Otoriter
Membudak langkah kaki ikuti nya menujumu atau hatimu (Logika ku tak mau tahu !!!)
Dulu . . .

Sekarang . . .
Ku melangkah dengan bungkusan kain putih yang kugengam di tangan kananku
Hati yang kuabukan
Tiada amarah karena amarah itu suara hati (si hati sudah kubakar!!!)
Kecewa hanya sebatas peristiwa . . . (hanya peristiwa tanpa dinilai hati !!!)
Kudekati bayangmu . . .
Kudekati senyummu . . .
Kudekati kamu . . .
Tak kulihat ekspresi wajahmu
Kau tawarkan hati yang lain buat hatiku yang telah mengabu
Mana mungkin dia peduli ??? Sudah mengabu !!!
Konon Jasadku
Lebih tak pedulikan . . .

Ku buka kain pembungkus yang kugengam . . .
Hati yang terbakar !!!
Mengabu !!!
Kutebarkan di hadapanmu !!!
Terbang dia bersama angin !!!
Abu itu bercerita tentang rindunya dan matinya tuannya . . .
Hanya ingin supaya kamu tahu . . .
Hatiku harus tahu siapa tuan atas tempatnya !!!
Saya !!!

Menghilang terbawa angin . . .

Kucampakkan kain pembungkusnya sejajar telapak kakimu
Sisa abunya masih terjebak lipatan kain
Seberkas . . .

Tak kulihat mimikmu . . .

Saya berbalik !!!
Tinggalkan kamu !!!
Dengan rongga menganga di dekat tulang rusuk
Tak akan sembuh hingga akhir zaman !!!

Setitik air jatuh dari celah hatimu
Menyeruak dari kulit halus tubuhmu
Tepat
Di atas sisa abu dalam lipatan . . .
Blesss . . .

Seketika hujan turun
Air mata hatimu merayu matahari mencumbu lautan
Langit tak kuasa menahan orgasmenya
Hujan !!!

Dan tak kulihat keindahan pelangi sore ini !!!

Terdiam ku berjalan tanpa hati !!!
Kamu masih berdiri di sana !!!
Bertegur mesra jasadmu dengan bayang abu hati ku . . .

Dan tidak kulihat mimikmu !!!


Kutinggalkan abu hati yang mendamba hatimu !!!

Advertisements

About this entry