Letter to Nowhere

For no one . . .

Surat ini tidak dibuat dalam kesadaran untuk ditujukan kepada seseorang secara personal. jika kamu membacanya percayalah tidak sedikitpun kuniatkan tiap hurufnya sehurufpun kutujukan kepadamu.

Saya sedang membayangkan . . .

Jika saja ada waktu bercengkerama dengan segerombolan manusia bijak di setiap era, sungguh akan menjadi pengalaman yang tiada terkira. kuingin mendengar bagaimana mereka bercengkerama tentang kematian yang ditakuti oleh semua mahluk yang bernyawa tanpa sekat-sekat identitas.

Hari itu seorang sahabat menyampaikan berita tentang kematian seorang sahabat yang lain.

“Semua adalah milik tuhan, dan akan kembali kepadanya, sahabat kita telah meninggal pada pagi ini 06.30”.

Dalam bias mentari pagi yang menandakan harapan, gelap terlalu tangguh untuk tetap memaksa sinar mentari tertahan di seputaran rimbunan pepohonan. duka sepertinya adalah jalan yang harus dilalui orang yang mengasihinya mulai pagi dimana si sahabat memejamkan mata biologisnya.

“Kematian seseorang adalah tragedi, dan kematian jutaan orang hanyalah statistik”, alm.stalin mengatakan begitu.

Stallin sepertinya ingin mengungkapkan bahwa setiap orang yang meninggal adalah sebuah sejarah yang harus selalu diingat dan dikenang dan diperhatikan. tidak peduli apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu perankan dalam hidup di dunia yang flat.

Yaaa . . . datar seperti kata galileo.

Kematian . . .

“Kematian hanyalah proses akhir dari tidak berdetaknya jantung dan berhentinya paru2 menghisap oksigen ke paru-paru” si sahabat biologi akan menjawab begitu mungkin.

“Kematian adalah harga dari sebuah kehidupan” si sahabat idealis mungkin akan merespon begitu.

“Kematian adalah sebuah rencana dari Tuhan” si sahabat religius mungkin akan berkata begitu.

“Kematian adalah . . . apa?! siapa yang mati?!” si sahabat yang sedang menyibukkan diri mungkin akan merespon begitu.

Tapi,

Kembali waktu berputar sama seperti berjuta tahun cahaya yang lalu , sekarang kita mendengar cerita sedih ini dengan kita bukan sebagai objek cerita, mungkin kelak kita yang akan dikabarkan demikian ke sahabat yang lain.

“Bukan begitu bukan?!”

Hahahaha . . . waktu berputar kawan . . .

“Berapa rupiahkah harga dari turut berduka?!”

“Berapa kematiankah harga kehidupan?!”

“Lihatlah ke langit!” kesanalah mungkin jiwa yang mati melayang menambah ketebalan atmosfer bumi.

“Koreklah ke dasar bumi!” mungkin akan kita temukan jasad yang memumi tanpa ramuan canggih dari mesir menunggu jiwa yang melayang-layang menempatinya kembali.

Tangis orang yang mengasihi yang meninggal akan semakin membumbungkan jiwanya mencapai nirwana. caci dan serapah akan menuntunnya tertahan di dunia antara bumi dan nirwana menangis menunggu maaf.

Mengikuti yang pernah disakitinya di perempatan jalan dan ruang-ruang sepi.

Dulu, sekarang dan kapanpun orang akan selalu akan takut menghadapi kematian karena tidak ada yang tahu seperti apa dunia yang menunggu di sana.

Tapi hidup tanpa kematian adalah sebuah lelucon bagi elia bukan kita. bahkan Jesus pun harus melaluinya.

Hingga akhirnya, para atheis pun akan terpaksa mengakui keberadaan tuhan karena tetasan keringatnya memaksa dia berbasuh dengan gelisah yang dia sendiri tidak tahu dari mana asalnya.

Yaaa . . . ketakutan kita butuh sesuatu yang menawarkan . . . kecemasan kita butuh obat penenang.

“Surga!!!”

Setelah kematian, itu akan menjadi tujuan yang pantas.

Tuhan maha baik dan maha kuasa . . . bukan alasan mahalnya harga reboisasi dan restrukturisasi bumi kedua dan menciptakan surga sebumi untuk tiap-tiap jiwa yang telah kembali kepada Nya. atau setidaknya dunia yang kita impikan semasa hidup kita.

Jadi, bergembiralah dalam tangis sekejapmu.

Salam,

no body

Advertisements

About this entry