Kolombus – Simpang Empat

Kolombus . . . nama ini dulu adalah sebuah sinonim untuk sebuah penghadir ketakutan. Nama ini adalah deskripsi sebuah “kehebatan”, tak tersentuh, bisa melakukan apa saja . . . Semua orang harus mengatakan iya jika si empunya nama mengatakan iya, dan sebaliknya.
Sampai saat ini saya berpikir dia punya “sesuatu” yang tidak dipunyai oleh seorangpun di jagad distrik ugalbo. Dia mungkin punya harta yang banyak, punya senjata di pinggang dan mungkin punya tenaga dalam turun – temurun dari nenek moyangnya. Entahlah . . .
Hingga aura yang dipancarkan adalah aura “mengontrol” menembus penampakan sederhananya, kombinasi jas hitam kulit membalut kaos putih polos dan celana jeans biru laut dan topi koboi hitam besar dan sebuah cincin emas polos di jemari manis kirinya.
Kolombus, sosok “penguasa” di distrik ugalbo . . . pusat keramaian di distrik yang mengkerucut di persimpangan distrik yang menjadi barometer kemajuan atas desa – desa di distrik. Semua orang mengenal nama ini tanpa kecuali. Seorang bayi lahir mungkin akan mengerti bahwa Kolombus akan menjadi nama yang harus terpogram sebagai “kehebatan”.
Persimpangan distrik ugalbo adalah pusat pertemuan semua generasi, strata dan segala jenis mahluk di distrik ugalbo.
Tengah malam persimpangan itu lebih seram terdengar dengan sebutan “simpang mayat”. Konon setelah jam 00.00 tepat tengah malam di persimpangan itu akan dipenuhi bebauan bunga kamboja dan kadang bau tidak sedap khas dunia kubur.
Tapi, tetap persimpangan itu adalah ikon perjuangan hidup manusia disana.
Orang – orang mencari pengaruh, mencari makan dan sekedar memperkenalkan diri atau sekedar melegalisasi kewarga-distrikan-nya dengan menginjakkan kakinya di persimpangan.
Kamu tidak bisa memilih lahir dimana dan sebagai apa dan jenis kelamin apa. Semua itu dipatahkan oleh legenda Kolombus. Konon Kolombus memilih hidupnya untuk menjadi seperti yang sekarang.
Dia bercerita tentang cengkeramanya dengan Tuan Pencipta yang dipanggilnya dengan sebutan “Ompu” yang menunjukkannya pilihan tak terhingga kehidupan dan memilih untuk terlahir sebagai seorang Kolombus. Tentu saja itu adalah fiksi hidup yang harus kami tertawakan karena itu sama saja mengatakan Kolombus adalah seorang bodoh dengan kespesialan yang diberikan padanya dengan kesempatan memilih hidupnya dan memilih menjadi penghuni distrik ugalbo. Kolumbus bukan orang yang bodoh, dia bisa mengkontrol rasa aman disekelilingnya.
Apa yang dibutuhkan manusia pada saat ini ? tentu saja “rasa aman . . .”
Tapi semua tinggal cerita. Kolombus sudah menuju penciptanya pada tahun 2000 tepat pada tanggal 20 bulan ke 02 tahun 2002. Jajaran angka yang menarik bukan? Bahkan dia menghadap penciptanya pada urutan angka yang demikian menarik.
Satu hal yang ditinggalkan olehnya yang saya ingat adalah perkataanya : “dengan pengaruh kamu bisa menjadi Kolombus di luar sana”.
Kolombus mati membawa pengaruhnya dan tidak menyisakan sedikitpun kepada pewarisnya.
Jika benar Kolombus bisa memilih hidupnya, tapi dia tidak pernah bisa memilih siapa yang menjadi pewarisnya dan orang – orang di dekatnya.
Kolombus mati dengan cara yang sama dengan jutaan orang yang mati tiap hari di permukaan bumi. Sebuah misteri . . .
Malam hari di persimpangan distrik, mungkin Kolombus telah menjadi penghuni di dunia tak terlihat mata kita, dia mungkin telah membaur bersama bau bunga kamboja atau semerbak tanah kuburan.
Tiada yang tahu . . .
Kolombus bisa memilih hidupnya dan tidak bisa memilih caranya mati. Kolombus menghembuskan nafas terakhirnya di persimpangan distrik tepat pada tengah malam ketika dia memilih merebahkan diri menghadap langit dan bermandikan cahaya bulan sabit terang setelah pertengkaran hebat dengan seorang otoritas distrik baru . . .
Pagi naas itu . . . tubuhnya telah tercecar menghiasi persimpangan distrik . . . dan matahari masih dengan malu – malunya menyaksikannya.
Sebuah truk melindas tubuhnya . . .
Pada hari yang naas itu, distrik ugalbo ramai di persimpangan dan bertutur cerita tentang kisah Kolombus . . . persis seperti yang saya ceritakan.
-tamat-

Advertisements

About this entry