Komedi Putar – Iblis Bernama Cinta

Berputar . . . Ada waktu di bawah – tengah – atas . . .

Itulah alur hidup satu – satunya yang diketahui si One, anak kampung seberang yang bercita – cita menjadi pembela kebenaran dan mengembalikan hak hidup orang – orang kecil miskin dan teraniaya. Bak komedi putar yang beraktifitas di malam hari di kampung – kampung miskin hiburan. Tapi komedi putar ini tidak akan menceritakan tentang pertarungannya menghadapi si zalim dan lalim penguasa atau ber-intrik dalam politik kotor tanpa kolor demi guratan idealisme di kepala.

Si One sedang jatuh cinta kepada seorang gadis dari desa sebelah seberang desanya. Gadis yang menawan hati dan pikirannya jauh mengalahkan daftar incaran yang ada di kepala. Fokus dan tujuan hidupnya yang sudah lama tak terprogram kembali tersentuh dan harus di – resetting kembali.

Si Cinta akan menjadi istriku demi dunia akhirat!” gumamnya dalam doa diam – diam di gelap kamarnya.

Si Cinta, perempuan manis yang akan dengan mudah menarik hati para kumbang sekitar. Cinta mungkin sedang terisolasi dalam ketidakmujuran dalam bercinta. Sudah banyak yang datang dan pergi dalam hidupnya dan tidak ada yang bertahan untuk mempertanggungjawab hubungan tersebut di hadapan Tuhan mereka orang per orang. Dari kisah sumpah cinta monyet sampai cinta mati, semua tetap berujung di ujung jalan yang terpisah dan linang air mata. Bagai mercusuar api yang membakar partikel daun tua gugur sekejap dan jadi masa lalu.

Benar adanya suara pragmatis bahwa dalam presentasi 99,99 %, pasanganmu adalah bekas orang lain dan sebaliknya. Belajar atau tidak belajar tetap harus terima fakta demikian itu.

Kisah perjuangan cinta One penuh hambatan, gangguan dan tantangan. Dia jatuh cinta kepada Cinta yang adalah mantan dari teman kecil akrabnya, tapi One bersikukuh karena cinta itu tentang hati bukan apa yang struktur logika – kadang kebanyakan begitu. Si One menutup pintu dan jendela bagi hatinya terhadap wanita lain karena dia sudah terlena dan meniatkan diri dengan fokus pada Sang Cinta. Fokus sekali seumur hidup seperti mati yang sekali saja selama hidup.

Komitmen sudah besar dalam hati, badai kembali menyeruak. Gangguan menghadang kembali. Kali ini adalah dari keluarga besar si One sendiri. Tapi, dengan kebulatan tekad dan bimbingan Sang Pencipta akhirnya terlewati juga dengan sukses damai jaya. Hingga akhirnya si One mengikatkan diri dengan Cinta dalam biduk rumah tangga. One itu bukan seorang romantis tapi karakternya terbentuk oleh ketenangan dan kecerdasan yang di atas rata – rata. Dan itulah senjatanya mengawal Cinta dan hidup bersamanya.

Waktu berputar, One masih terjebak dalam proses untuk menjadi lelaki yang harus bisa menjadi suami, teman baik, pelindung dalam siklus hidup yang tentunya tidak instan seperti bumbu indomie cepat – saji. Bukankah semua orang harus belajar menjadi lebih baik? Bergerak revolusioner atau evolusioner pada ujung tujuan kebaikan. One tidak sadar dia sedang menaiki komedi putar dan tidak bersama sang Cinta di sampingnya. Ada rasa kalau – kalau sang Cinta masih tinggal di masa lalu yang didambanya. Mungkin saja dengan lelaki yang disukainya. Realita yang dihadapinya terlalu tangguh untuk ditaklukkan. Tapi, Romansa tanpa ujian mungkin romansa yang tidak layak untuk dijalani.

Seharusnya . . . Sebaiknya . . . Andai saja . . .” semua harapan kosong ini menemani dalamnya penyesalan, air mata berkali – kali tidak bisa menghapusnya hingga menetes di tanah berpijaknya.

Ketika komedi putar menyejajarkan posisi mereka —pun banyakan hanya saat di bawah— disanalah Iblis itu siap menyergap dan merayap. Merusak dan mengaburkan. Cinta itu berubah menjadi taring yang menyedot darah habis, berubah menjadi cakar hitam yang mengoyak jantung hingga terurai dan terburai. Si One tidak menginginkan cinta yang kurang 0.000…dst 1% untuknya. Siapa yang mau melahap kurang dari menu makanan komplit – jika orang itu tahu ada kurangnya? Tentu tidak akan ada kecuali kepepet. Cinta bukan tentang kepepet. Ini tentang waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Si One selalu percaya bahwa akan ada waktunya dimana semua akan lebih indah. Perjuangan menggenapi kekurangan 0.000…dst 1% dan walau harus diombang – ambing luka. Pasti akan ada waktunya.

Tiba – tiba . . .

Gubraaaaaaaaaaaak!!!

Tubuh One terpelanting dari komedi putar. Sepuluh meter tingginya dari tanah berumput basah lembab habis hujan kemarin.

Saat tahu Cinta pernah mesranya dengan lelaki lain selain One. Saat tahu Cinta mencoba menghapus memorinya dengan salah seorang yang pernah dia cinta entah kalau dia cumbu. Saat tahu Cinta mempermainkan rasa dan mengkhianati ikatannya terdahulu. Seperti  gerakan penyeimbang karma yang dejavu.

Iblis itu bernama Cinta.

Si One masih bangkit dengan mimisan dan luka di kepala, dihampirinya sang Cinta dan mengajaknya melangkah kembali. Walau tertatih.

Aku mengasihimu jauh sebelum saya mengenal fisikmu . . .” bisiknya.

Aku mencintaimu, dan itu cukup untuk memaafkan dan melupakan . . .” tambahnya.

Sekarang dan seterusnya hanya akan ada kita . . .” lirih suaranya dalam derai air mata.

Berdua, Si One dan Cinta kemudian berjalan pulang, tinggalkan tatapan penonton dan mereka yang bertaut dengan masa lalu dan sekitar yang menganggap lukanya sebagai hiburan. Ada senyum di wajah penonton sekitar komedi putar.

I’m not perfect but I love you and always be!

Kehidupan tanpa ujian memang mungkin bukan kehidupan

Advertisements

About this entry