ZERO a.k.a NOTHING –

Angka NOL ditemukan dan menjadi barisan aljabar dalam matematika jauh hari setelah angka 1 – 9 dipergunakan. Tapi dalam perkembangannya “NOTHING” ini menjadi angka ajaib yang membantu pemikir terdahulu (Rene Descartes, Newton). Konsep angka “NOL” memberikan sumbangsih besar dalam segala hal mulai dari fisika dan ekonomi hingga tehnik dan kompeterisasi.

“NOTHING” oleh para matematis pun dibagi dua yaitu ketiadaan mutlak dan ketiadaan karena variable yang mengikuti. Konsekuensi pemikiran tentang dualisme NOL sangat luar biasa karena dapat mengarah pada konsep KETIADAAN TUHAN dan TEORI PENCIPTAAN.

Tapi, saya tidak akan berbicara tentang konsep NOL sebagai aljabar yang menuntun logis menjawab pertanyaan besar dunia tentang keberadaan tuhan. Tulisan ini hanya tentang berpikir tentang kekuatan pemikiran dan kemampuan bertindak ketika kita memposisikan diri sebagai individu yang di setiap pagi memulai hidup dengan keadaan NOL atau EMPTY.
“Kita dilahirkan dengan telanjang dan tak memiliki apapun dan bagaimana kita bisa merasa kehilangan.” Itu cuplikan kalimat So Hok Gie, aktivis cina INDONESIA yang hidup dalam idealisme hingga matinya dalam muda menentang pemerintahan kala itu. Susah mencari manusia seperti itu saat ini.

Nama saya Deo dengan sejuta angan dan mimpi tapi sekarang saya masih hidup jauh dari cita dan angan. “Hidup tidak selalu seperti yang kita rencanakan bukan?”. Anggap saja keberuntungan selalu menaungi hidup saya. Lahir dan beranjak dari tempat antah – berantah hingga menemukan secuil mata air dari luasan UNIVERSE untuk dapat berjalan lurus dan sadar untuk menjalani hidup dalam sistem dan kerumunan kehidupan ini.
Hidup ini singkat dan saya masih terjebak dalam kehidupan yang tidak tahu kemana dan untuk apa ada hadir di koordinat bumi yang menua ini.

“Tidak bisakah hanya hidup dan menikmatinya saja?”

Lingkungan keluarga dan sekitar membentuk pengetahuan dasar dan pola interaksi awal. Kemampuan berpikir dan memproses informasi yang datang semakin menentukan tujuan pragmatis. Kecerdasan dan kepintaran dan kemampuan berinteraksi menjadi senjata tangguh menghadapi serangan kemajuan kehidupan.

“Yaaa… sebut saja pola hidup yang pragmatis.”

Mengumpulkan untuk diri sendiri dan menumpuknya untuk hari esok (pun untuk diri sendiri). Pola pikir memiliki dan melakukan sesuatu yang benar dan baik untuk sekitar sepertinya hanyalah retorika indah karena konsep kemanusiaan yang diajarkan oleh Mother Theresa atau Ghandi cukuplah hanya dongeng pengantar tidur, bahwa pernah ada manusia yang berjalan melawan alur sistem kehidupan.

Orang – orang seperti mereka tentunya adalah sejenis kelangkaan yang sudah punah mungkin, tidak punya harta tapi dapat memberi melebihi semua orang berharta.

Sepertinya “NOTHING” bukanlah hambatan melakukan sesuatu yang baik dan benar.
Sekarang saya sedang sampai di tahap berpikir “kenapa saya tidak bisa melakukan hal itu?”. Sistem di sekitar dan sekeliling saya telah membentuk pola pikir dan tingkah laku yang sangat sesuai dengan kekinian.

F*cking Capitalism is real !!!

Siapa yang mengajarkan manusia adalah “homo homini lupus?!”. Kenapa realita bahwa manusia adalah mahuk sosial tidak laku secara konseptual dalam realita? Konsep mahluk sosial hanya retorika utopia yang tidak akan turun menjejak bumi. Sifat natural manusia adalah egoistik atas respon mempertahankan diri sendiri dalam arti seluas – luasnya, mungkin adalah jawaban paling logis dalam kerangka berpikir saat dulu hingga saat ini.

Semakin jauh berpikir dan akhirnya kemudian saya tiba pada konsep “NOTHING” sebagai ketiadaan atau kekososngan atas keterikatan atas sesuatu yang bersifat temporary yang menahan untuk melakukan sesuatu yang baik dengan cara yang benar.

Seperti kelahiran angka NOL sebagai pendobrak kemajuan zaman, tidakkah keadaan “NOTHING” ini dalam sifat kita akan membuat kita bisa berbuat baik ? Mungkin itu jugalah yang menggerakkan Mother Theresa dan Ghani.

Tapi, kembali menejejakkan kaki dalam realita masa kini, usaha pertama adalah membuat idealisme “NOTHING” menjadi pragmatisme yang logis yang tidak hanya konsep berbayar setelah kematian yakni rumah di surga.

Mungkin, sadarkan orang terdekatmu ; bantu saudara dan tetanggamu !!!

-ah

Advertisements

About this entry