Tjiptosive Law , Today . . .

Akhirnya “dipaksa” sisihkan waktu mengguratkan lagi jejak pemikiran setelah sekian lama terhenti karena hilang daya magis pada niat untuk menulis dengan kritik yang konstruktif dan menyasar tepat dan keras pada sebuah fenomena a.k.a revolusioner. 🙂

Kemarin, saya memposting tulisan di facebook yang judulnya : “Praperadilan BG sebuah Progressive Law”. Kemudian diberikan komentar dengan sebuah pertanyaan “jebakan” dari seorang kawan alumni yang juga menerima sabda ‘hukum progresif-nya’ alm. Satjipto Rahardjo.

“Dalam praperadilan, yang diperiksa itu kebenaran materil atau formil?” begini kira – kira komentar si kawan.

Sebelum membahas (baca : meng-counter sinisme secara tepat dan keras) pertanyaan “jebakan” itu, perlu saya sisipkan tentang pondasi hukum progresif alm. Satjipto Rahardjo yang saya pahami dalam ukuran yang saya akui sangat jauh dari hampir cukup, tapi harapan saya cukup untuk memberikan orgasme atas gelut pemikiran atas pertanyaan si kawan.

Saya pribadi timbul ide dan lebih suka menyebut ide hukum sang profesor dengan sebutan Tjiptosive Law, sebuah penghargaan atas ide yang hebat buat sang penggagas. Pemikiran yang revolusioner lahir karena kondisi yang kritis dan krisis, termasuk dalam bidang hukum. Hukum dianggap sangat egois karena hanya hidup untuk dirinya sendiri. Terobosan diperlukan, hukum itu ada untuk harga diri manusia, kebahagiaan, kesejahteraan dan kemuliaan manusia. Hukum itu harus responsif.

Tjiptosive Law menggagas tentang upaya dalam bidang hukum untuk me-linear-kan kepastian, keadilan dan kemanfaatan hukum. Tjiptosive Law percaya bahwa legal science is always in the making and not final. Tjiptosive Law adalah perjuangan dan pemikiran pembebasan yang gelisah dalam pencarian kebenaran menuju kebenaran lainnya. Tjiptosive Law menggagas tentang deep ecology, dimana hukum adalah untuk membahagiakan semua mahluk hidup. Tjiptosive Law menggagas pandangan holistik hukum (keterkaitan antar bagian dalam suatu tatanan). Tjiptosive Law menggagas bahwa hukum adalah institusi yang bermoral kemanusiaan.

Untuk fokus pembahasan, tool untuk meng – counter adalah konsep Tjiptosive Law dan tentu saja sistem hukum pidana itu sendiri.

“Praperadilan BG sebuah Progressive Law”, tulisan ini saya intisarikan kembali dimana ruang responsif – nya adalah pada : Gugatan Praperadilan BG atas penetapan tersangka oleh KPK. Sebenarnya ada beberapa point dalam gugatan praperadilan tersebut tapi, untuk menjawab pertanyaan si kawan, batasannya tentunya adalah “penetapan tersangka yang akan dikaitkan dengan kebenaran materil atau formil?”

Saya melihatnya murni dari asas hukum paling universal, yakni : “praduga tak bersalah”. Dimana penetapan tersangka tentulah harus dengan permulaan bukti yang cukup (acuannya minimal dua alat bukti). Penetapan tersangka secara semena – mena oleh institusi penegak hukum adalah pelanggaran hak asasi. Banyak ahli hukum yang berpendapat bahwa praperadilan tersebut adalah salah dan bukan objek yang diperiksa dalam praperadilan. Tjiptosive Law menyebut mereka sebagai penganut tradisi analytical jurisprudence atau rechtdogmatiek. Hukum bagi mereka adalah bangunan sistematis dan logis, “individu” egois yang melihat hukum dan melakukan analisis hanya ke dalam.

Asumsi sementara saya, bahwa si kawan ini adalah bagian dari para penganut rechtdogmatiek dan sama seperti saya sedang “terjebak” atau menerima saja sejak dulu pemahaman bahwa praperadilan itu memeriksa kebenaran formil, Substansi klausul mengarahkan untuk memahami objek praperadilan yang disebutkan dalam Pasal 77 KUHAP adalah ruang kebenaran formil bukan materil. Betapa jahatnya tafsir ini, saya dan jutaan sarjana hukum di Indonesia “dipaksa” menerima tanpa ruang kritisi dan kritik sampai sang penggagas menelurkan Tjiptosive Law. 🙂

“Praperadilan sebuah persidangan yang memeriksa kebenaran materil atau kebenaran formil?”.

Untuk menjawab ini, tentulah tidak dapat dipungkiri hanya dapat disesalkan bahwa dalam KUHAP tentang praperadilan klausulnya semata – mata “seolah – olah” adalah remeh – temeh tentang “sah tidaknya” penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan, yang segera oleh penganut rechtdogmatiek dikonversi kepada “surat”, dan secara hukum juga praperadilan kemudian adalah batasan pemeriksaan kebenaran formil. Sesat !!!

Menyedihkan sekali, sampai Tjiptosive Law mendobrak dengan gagasan tentang pandangan holistik hukum (keterkaitan antar bagian dalam suatu tatanan) dalam hal ini hukum pidana. Holistik hukum ini adalah sandaran untuk jawaban atas pertanyaan si kawan. 🙂

Sebelumnya, pendekatannya adalah pemahaman tentang sistem hukum pidana di Indonesia. Dalam hukum kita, dikenal Hukum (pidana) Materil dan Hukum (pidana) Formil yang familiar dengan istilah Hukum Acara Pidana – bentuk positifnya adalah KUHAP. Hukum pidana materil adalah muatan tindak pidana, siapa yang dapat dipidana dan pidana itu sendiri – hukum positifnya adalah KUHP dan UU pidana lainnya sedangkan hukum pidana formil adalah hukum untuk atau bagaimana hukum materil itu dijalankan dan dipertahankan.

Ketika ada pertanyaan seperti si kawan ajukan, cukuplah saya sampaikan bahwa TERANG dan JELAS kalau praperadilan itu adalah bagian dari KUHAP, bagian dari hukum acara untuk mencari kebenaran materiil atau kebenaran hakiki, praperadilan adalah sebuah holistik hukum yang tidak mengenal atau terhenti dalam formalistik hukum semata. Tidak terhenti dalam pemeriksaan surat – surat tetapi sesuai tujuannya adalah menggali kebenaran materiil. Hukum acara pidana (KUHAP) itu mencari kebenaran materiil.

Gugatan praperadilan atas penetapan tersangka jika bersandar pada gagasan holistik hukum Tjiptosive Law ini tentulah upaya responsif dan terobosan. Khusus untuk pertanyaan si kawan, maka dengan sah dan meyakinkan saya sampaikan bahwa praperadilan adalah pemeriksaan materiil dimana aspek formalitasnya hanyalah bonus. Kita bisa cermati Pasal 82 dalam KUHAP yang menyebutkan bahwa “permintaan praperadilan gugur jika perkara sudah mulai diperiksa oleh pengadilan negeri” untuk memperkuat kebenaran materiil ini.

“fiat justitia ruat caelum”


ah

Advertisements

About this entry