Nomensen & Perang Toba

Onafhankelijke Bataklanden (Tanah Batak yang Merdeka), saya pernah mendengarnya berkali – kali dulu. Saya dulu berpikir itu hanya lelucon yang dilebih – lebihkan, tapi setelah membaca tulisan Dr. Uli Kozok (Utusan Damai di Kemelut Perang – Peran Zending dalam Perang Toba – Berdasarkan Laporan I.L. Nomensen dan Penginjil RMG Lainya) yang agak “kontroversial” karena menunjukkan aktivitas zending adalah langkah awal masuknya kolonialisasi dari eropa di atas Tanah Batak Yang Merdeka.

Ludwig Ingwer Nomensen, “Rasul” Kristen di Tanah Batak, Seorang Jerman yang ditugaskan untuk melakukan misi kristenisasi di Tanah Batak. Nomensen adalah salah satu dari 15 misionaris kristen di Tanah Batak. Para Misionaris ini dalam laporan bulanan kepada kantor pusat mereka di Jerman menyampaikan tentang “bantuan” mereka kepada Belanda dalam menumpas perjuangan S.M.Raja XII. Laporan bulanan para zendeling inilah yang digunakan oleh Dr. Uli Kozok dalam melihat peran zending dalam penaklukan Toba.

Saya sendiri tidak atau belum membaca penulisan penginjilan dari versi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) zaman kemerdekaan yang disebut oleh Dr. Uli Kozok sebagai penerus Zending Reinische Missions-Gesellschaft (RMG) Di Jerman.

Zending RMG Jerman (Nomensen, dkk) dan Militer Belanda membentuk Koalisi Injil dan Pedang yang sangat sukses karena mereka memiliki musuh yang sama yakni Sisingamangaraja XII. Tujuan mereka adalah agar orang Batak “terbuka pada pengaruh eropa dan tunduk pada kekuasaan eropa”. Zendeling (termasuk Nomensen) banyak mempengaruhi banyak raja agar berhenti melakukan perlawanan dan menyerah pada kekuasaan Belanda, dan yang tidak mau menyerah didenda dan kampungnya di bakar. Atas jasa para Zendeling ini, Pemerintah Belanda memberikan surat penghargaan resmi yang berbunyi sebagai berikut :

“Pemerintah mengucapkan terimakasih kepada penginjil RMG di Barmen, terutama Bapak I. Nomensen dan Bapak A. Simonet yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah diberikan selama ekspedisi melawan Toba dan memperoleh 1000 Gulden yang dapat diambil setiap saat.”

Ujung dari Koalisi Injil dan Pedang menamatkan riwayat S.M.Raja XII pada Tahun 1907. Tulisan ini sekaligus kritik pada Buku : “Ahu Si Singamangaraja” tulisan Dr. W.B. Sidjabat pada Tahun 1982 yang berusaha “mendamaikan” aktivitas penginjilan Sang Rasul Nomensen dan aktivitas perjuangan Sang Pahlawan Batak.
Batak di masa ini sebelumnya sudah phobia orang asing karena pembantaian oleh Paderi di bawah pimpinan Imam Bonjol dan kemudian harus saling bunuh lagi ketika masuknya Zending.

“Setiap Zaman punya Anaknya dengan Kelebihan dan Kekurangannya!”

Advertisements

About this entry