Indonecake Nusantarah

Apakah selamanya politik itu kejam?” ini lrik lagu Iwan Pales yang tersohor (kalau liriknya tidak salah) di Indonesia. Jawabnya, kita tanya pada rumput yang bergoyang. Kalau Bung Iwan adanya di negaranya Evo Morales ; Castro atau Hugo mungkin lagu tersohor jenis mewek politik ini mungkin tidak ada. 

Sejak mempunyai dan mengenal kepentingan dalam bingkai kebutuhan, manusia sudah mulai melakukan aksi “politik”. Aksi politik dan paling abadi manusia adalah saat “meminta” kepada Sang Maha. Manusia akan menawarkan, membujuk, menjanjikan, memposisikan kenapa dan seperti apa hingga pada akhir tahapan yakni meminta. Setelah mendapatkan, beberapa “politikus” ini mulai lupa dan menyusun posisi tawar baru untuk mendapatkan sesuatu tujuan atau kepentingan baru. Politik era sekarang itu cara mendapatkan kekuasaan dalam negara secara konstitusional atau mungkin inkonstitusional.

Konon, materi adalah dorogan terkuat manusia berpolitik. Materi yang sebesar-besarnya untuk mencapai kemanan dan kenyamanan kemudian kekuasaan adalah puncak kepentingan dalam berpolitik.

Segerombolan monyet pernah dijadikan objek penelitian dan diperkenalkan tentang uang sebagai nilai tukar, dimana (ironi) akhirnya para monyet betina, “melacurkan” diri untuk mendapatkan “uang” dari monyet lainnya. :)) Jadi politik kepentingan dalam monyet sebagai primata yang paling mendekati dna manusia kala itu adalah “melacur” untuk uang. Apakah seekor monyet yang ber – uang menjadi “penguasa”? dalam praktek negara, “monyet ber – uang” bukan penguasa secara konstitusional, tapi dia memiliki posisi tawar untuk mengarahkan penguasa.

Bagaimana politik di era (kenegaraan) sekarang ?

Saya lahir dengan sangat terbatas pemahaman dan pengalaman, yang saya lewati adalah masa negara di bawah pemerintahan Si Smiling General Suhartyo yang saya tidak pernah tahu, lihat dan rasakan bobroknya dan hebatnya kekuatan politiknya, manajemen konflik hingga manajemen bagi – bagi kuenya. Apa yang dilakukan beliau selama 32 tahun ? Yang saya tahu, sekarang Indonesia sembrawut bagai pasien dengan “dokter luar” dan tak sembuh – sembuh setelah 30 tahun lebih si jenderal berkuasa. Tragedi 98 yang tersohor itupun tidak pernah saya tahu benar-benar ada atau rasakan langsung kecuali ketika saya mulai membaca buku-buku di era reformasi dan lihat cuplikan film “dibalik 98” atau mendengar cerita orang jakarta pelaku penjarahan.

Ternyata ada aksi yang bermuatan politik menyedihkan bikin miris oleh “siapa” ; “kenapa” ; tapi jelas untuk menggoyang si jenderal senyum demi mendapatkan kekuasaan dan tancapkan kepentingan baru – yang peristiwanya sangat dahsyat kala itu. Jaya Suparno (dengan identitas ke – cina – annya) bahkan sampai menyurati Ahok (disebut pejabat yang tak sopan dan santun bicara) secara terbuka dalam media (lupa namanya) karena takut bayang – bayang tragedi mei 98 terulang.

Reformasi sudah usia sweet seventeen (17) tahun tapi tak ada yang kondisi atau kejadian WOOOW gitu setelah tragedi itu ; Para pelaku reformasi konon sedang berkompromi di gedung DePR atau di ruang – ruang ber – AC lainnya. 

Era Habie2 ; Era Gus ; Era Mega ; Era eSBY sudah terlewati . . . dan sekarang Era Joko . . . Sama – sama kompromis terhadap “kepentingan luar”, artinya di sini tidak masalah siapa penguasa selama kepentingan “mereka” tidak terganggu dan mulus. Hanya ganti penerima porsi kue. 

Kepentingan dalam kekuasaan politik yang (kuat) membuat para tokoh yang berdiri di masing – masing era, tentu harus (terpaksa) menjaga “kepentingan” orang – orang yang “mendukung” mereka ; yang berdiri di belakang mereka. Yang tentunya dengan pertimbangan yang akan selalu ada tapi masyarakat tidak pernah tahu. Siapa ? Lihat saja siapa yang mendapat keuntungan dalam kepemimpinannya. Mungkin ada kepentingan keluarga ; kepentingan kenalan sekitar ; kepentingan tokoh partai pengusung ; kepentingan konsolidasi kompromis tokoh partai lain ; kepentingan pengusaha donatur lokal ; kepentingan pengusaha donatur luar ; kepentingan negara pengusaha donatur luar dan kepentingan negara yang berkepentingan ekonomi atau ideologi. :)) atau jangan – jangan demi kepentingan negara kita sendiri. Kekuasaan adalah alat untuk menguasai ekonomi ; sosial budaya dan (mungkin) ideologi.

Di negara kita, settingan tipe kepemimpinannya sudah tertebak dengan mudah. Para pemimpin itu, jika tidak menjadi “pelacur” maka sekaligus atau sekedar menjadi mami atau papinya atau bahasa halusnya kaki tangan untuk memuluskan kepentingan pemburu keuntungan. Contoh real – nya adalah pembangunan (untuk mendongkrak ekonomi) yang butuh modal harus bisa menarik investor dan saya tidak pernah tahu jurus cara menarik investor kecuali dengan jaminan atau iming – iming keuntungan bagi investor, bisa berupa lembaga rentenir swasta, milik negara atau bahkan internasional . . . :))

Politik itu kejam di Indonecake ? Ya . . . kejam sekali berkali lipat melebihi kejamnya ibu tiri di sinetron pertelevisian di negeri kita. Rakyat sekedar dan hanya jadi objek (penderita). Para penguasa dan pelaku politik (dan orang dibelakangnya) bagi – bagi kue besar bernama Indonecake Nusantarah. Rakyat juga tentu dan pastinya dapat bagian tapi hanya atau setelah dikalkulasi sisa atau tidak merugi kue bagiannya. :))

Kalkulasi remah kue untuk kepentingan rakyat di era Jokowi sedang di arahkan kembali pada investasi ekonomi sebesar-besarnya yang tentu dan jelas akan berdampak positif pada kehidupan rakyat. Tidak semua rakyat mungkin tapi tetap dan pasti ada remah-remah kue yang sampai ke rakyat minimal aroma kuenya. Investornya sudah mendekat dari saudara asia. Akhir – akhir ini banyak saudara sebumi asia liburan di bali, bisa sebagai pertanda arah penguasa menjalin kerjasama dengan negara mana (terawangan kasar) tapi tetap itu pilihan penguasa menarik negara investor dengan iming – iming keuntungan dengan tidak lupa keuntungan bagi “pihak” – nya.

Politik kepentingan itu diselesaikan di meja – meja para penguasa dan atau pengusaha ; hotel bintang lima atau ruang – ruang terbatas jauh dari genjrengan gitar unyil dengan lagu pengamen lampu  merah. Faktanya, rakyat tidak perduli selama ada dampak yang nyata. Terbukti di masa Om “Enaaak Zamaaankuuu toooh?” yang ternyata kronisnya sampai hari ini. Bodoh politik itu dosanya bisa dimaklumkan. 

Sekarang, tinggal menunggu, melihat dan menikmati seperti apa bagian kue yang akan rakyat dapatkan di era Joko? Tak perlu muluk – muluk bicara penegakan hukum yang bobrok, itu bobroknya sudah dari zaman Indonesia merdeka. KKN itu sudah berurat berakar. Penegak hukum berbuat benar itu harus di – MURI – kan. Mental feodalisme yang hormat pejabat (penjahat) berdasi dan garang sama rakyat tertindas sudah melekat kuat dan dimaklumkan. Ekonomi yang tidak mandiri itu sudah sejak zaman Indonesia merdeka, dan ketergantungannya sampai zaman presiden entah sampai siapaaa . . . 🙂 Pilihannya adalah yang buruknya dikit diantara yang buruknya banyak kali.

Jadi, bodoh politik berupa kritik yang menyerang politikus itu percuma, pergerakan dalam bendera – bendera partai juga percuma dan terlebih celoteh dalam bingkai gagal move on . . . tapi, akh . . . sudahlah . . . harga mie instant masih terjangkau!!!

In politics, stupidity is not a handicap” (Napoleon Bonaparte)

Advertisements

About this entry