Dangdut Radikal Dukung Papua Merdeka

What?! Supporting our freedom? *Benny Wenda mode on*

Republik Indonesia yang mengusir penjajah (Belanda & Jepang) karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa (termasuk Papua) seperti dalam preambule UUD’45?! Truuus kenapa sekarang tidak?! Bangsa Papua yang mau merdeka sudah dicap separatis, dan adalah sah jika diberantas sampai tuntas. NKRI harga mati walau NKRI tak dibawa mati.

Tapi, memang RI disini bukan Rep. Indonesia tapi sang radja dangdut Rhoma Irama (singkat RI). Percaya?! Tahun 70-an konon saat doi masih dalam idealisme seniman darah mudanya merilis lagu yang merupakan kritik sosial dan anti kapitalis, dangdut radikal, misalnya “Judi” yang sudah fenomenal dan “Hak Asasi Manusia” yang setanpun jingkrak kalau lagu ini berdendang dengan alunan dangdut yang radikal.

Hormati hak asasi manusia
Karena itu fitrah manusia
Kita semua bebas memilih
Jalan hidup yang disukai
Tuhan pun tidak memaksakan
Apa yang hamba-Nya lakukan

Terapkan demokrasi Pancasila
Sebagai landasan negara kita
Janganlah suka memperkosa
Kebebasan warga negara
Karena itu bertentangan
Dengan perikemanusiaan

Kebebasan beragama (itu hak asasi)
Kebebasan berbicara (itu hak asasi)
Kita bebas untuk melalukan segala-galanya
Asal saja tidak bertentangan dengan Pancasila

Kebebasan berusaha (itu hak asasi)
Kebebasan ‘tuk berkarya (itu hak asasi)
Kita bebas untuk melalukan segala-galanya
Asal saja tidak bertentangan dengan Pancasila

Lirik itu dikumandangkan oleh sang militan dangdut jauh sebelum dia merapat dalam barisan salah satu capres 2014. Dulu dia masih berguling – guling dan kejar – kejaran diantara pepohonan dengan Ani. Ini bukan Ani Yudontknow karena dia sudah ada yang punya.

Lagu itu dibuat sekitar tahun 1978, dimasa orde baru, Si Radikalis dangdut sempat dilarang tampil di televisi, dicekal konsernya. Setaralah dia dengan sosok Soe Hoek Gie walau di dunia radikal yang berbeda. Dia di dunia dangdut kala itu. Bedanya Gie sudah wafat di atas gunung, kalau Rhoma semakin menjadi mencari gunung menantang (mungkin dengan Aingel Elgaaaah  bareng naiknya)

Pernah dengar lagu “Kiamat”? Akupun tak pernah juga . . . tapi mari kita pelototin sejenak liriknya, kalau untuk menganalisis serahkan pada ahlinya. Penggalannya begini :

Gunung-gunung yang kukuh terpancang
Hari itu akan diterbangkan
Gedung-gedung yang tinggi menjulang
Hari itu akan ditumbangkan

Hari itu tak berguna lagi harta
Hari itu tak berharga lagi nyawa
Semua makhluk dimusnahkan
Seluruh alam dihancurkan
Darah ‘kan menjadi lautan
Kepingan bangkai berserakan

Lagu ini juga didengungkan tahun 72-an, di era orde baru : tahun dimana gencarnya pembangunan dan industri masuk membabat hutan dan meratakan gunung. Gedung – gedung tinggi itu simbol para kapitalis. Gunung (kebun sawit dan penggundulan hutan untuk pabrik kertas) yang tinggi yang dibiaskan dalam lagu itu mudah dibaca alias sudah terbaca . . . Tapi, imajinasi kritik terhadap kapitalisasi orde baru itu berakhir dengan doa kiamat, seperti “senjata” para moralis dan pandita. Sang Radikalis ini tak tahu solusi atas masalah itu dan akhirnya serahkan kepada “keselamatan” akhir zaman.

Hubungannya dengan Papua apa? Papua dianeksasi atau diintegrasi (pilihan kata sesuai keberpihakan) tahun 1969 (14 Juli kalau tidak salah) melalui Pepera. Om RI sudah mendengungkan lagu kritik terhadap orba ini sejak tahun 1972-an, kira – kira 3 tahun sejak Pepera. Artinya, Om RI tentu mendukung kemerdekaan Papua sebagaimana idealisme darah mudanya.

Kenapa Papua harus merdeka?

Untuk masalah kemerdekaan Papua ini, Indonesia sekarang bagai penjajah super power kelas huta (baca : desa). Indonesia dulu mengutuk Belanda dan Jepang. Dan sekarang Indonesia mempraktekkan penjajahannya di bumi papua. Kriminologi tentang korban yang menjadi pelaku ternyata tidak isapan jempol belaka tapi nyata bagai beras plastik hasil lab. suckofindo.

Mari kita comot protes Ki Hadjar Dewantara tahun 1913, atas perayaan kemerdekaan Belanda dari penjajahan Spanyol, di harian De Express yang berjudul “Seandainya Saya Seorang Belanda” :

‘Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya.’

Jadi saat Benny Wenda dari Inggris Raya sana tanggal 17 Agustus 2015, mereplika ulang tulisan Ki Hadjar Dewantara di The Economist nanti pas hari kemerdekaan dengan mengganti kata Belanda dengan Indonesia, semoga kita bisa ikut berdendang dan menari dengan lagu “hak asasi manusia” – nya Rhoma Irama jikapun tidak setuju berdendang dan menari dengan lagu itu, mungkin kita bisa tetap bergoyang dengan lagu “kiamat” langsung dari pentas goyang pantura.

“Truuuus . . . selama ini bapak seorang fundamentalis dangdut dan bukan boomers (baca : fans boomerang) ?” (bahasa bayi trus nangis histeris) – Tn. Keenan ; 1 bulan 17 hari.

Advertisements

About this entry