Sebuah Tanya Tentang Mati

Saya sebuah tanya yang bersemayam dalam pikiran liar seorang anak manusia yang dipermainkan kebenaran. Sebuah tanya tanpa akhir bagai kolong langit yang siap menampung seluruh butir hujan yang menghantam tanah gurun terkutuk. Tanya ini berjalan melampaui senyap ruang dan waktu dalam sekat – sekat tirai pekat hitam yang sekali – sekali tersingkap hendak menunjukkan suatu peristiwa kebenaran dibaliknya oleh hembusan angin antah – berantah.

Di hari itu, hari pertama menyambut era hidup yang baru, terobosan baru dan impian baru. Di hari pertama bulan Januari pada tahun 1965. Hari pertama di tahun yang menjadi pintu memasuki masa menuju pembantaian saudara sebangsa yang dicap PKI dan simpatisannya. Lalaboti, Tapian Nauli Utara. Seorang pria separuh baya dengan topi peci hitam dan kemeja hitam polos yang dikenakannya akrab dengan wajah tirus dan matanya yang penuh ingin tahu. Dikenal berani dan tidak kenal takut dalam menghadapi hidup serta senang bercanda gurau. Hidup untuk hari ini. Tragedi cerita hidup yang menyesakkan dengan iringan alunan musik sendu dari angin yang berhembus lirih menyayat bola mata, saat dia ditemukan dengan leher tergantung di kebun belakang rumahnya. Tawa menyambut bergema dikeramaian di ruang suka cita hari baru dan mimpi baru kontras dengan dia yang akan jadi cerita ironi sepanjang hayat turunannya.

Angin berhenti bercerita, bibir tiada bersuara. Tidak tahu siapa yang mengangkat jasadnya masuk ke dalam rumah, tidak tahu siapa yang menguburkannya dan yang menangis untuknya. Satu yang pasti, dia menjadi terkutuk diantara semua orang yang mati. Dia melawan keesaan kehendak Tuhan. Dia pemberani dalam penglihatan seseorang yang ketakutan akan mati, jika benar dia mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak ada suara pendeta yang mendoakan dan memohonkan ampun bagi dosa – dosanya. Hanya riuh suara masyarakat tertiup angin tentang “Seorang Pria Bunuh diri”.

Segera dimasukkan ke dalam liang tanah yang entah digali oleh siapa. Adakah anaknya tahu si pria ini telah kembali kepada Sang Maha? Anaknya masih kecil dan dititip ke orang lain karena istri kedua tidak inginkan si anak.

Tanya berjalan berulang dalam deru angin malam menusuk tulang, gelap kelam dalam malam. Semua hanya tentang tanya yang menganga dan abadi. Tanya yang berteman baik dengan gelap dan sunyi. Tanya yang mungkin akan mati dalam pikiran.

Hei, kau Lelaki yang ditemukan mati dengan leher tergantung, jika engkau mengakhiri hidupmu dengan cara begitu, apakah penderitaan yang kau alami sehingga memaksamu mengakhiri hidupmu dengan sangat menyiksa. Berjuta macam cara bunuh diri tetapi kamu memilih cara melilitkan leher di atas pohon. Dua menit – kah lama kamu bertahan hingga bola mata-mu terasa perih dan hembusan nafas semakin berat dan pendek mencoba mencumbu dunia yang memaksamu mengakhiri hidupmu sehingga semakin redup dan gelap. Mati!

Hei, kau lelaki yang ditemukan mati dengan leher tergantung, tanyaku jikakah ada seseorang dan beberapa orang yang mengakhiri hidupmu dan menggantungkan kamu seolah – olah mati bunuh diri, apakah yang memaksa mereka melakukannya ? Uang ? Harta ? Warisan ? atau perempuan ? adakah kamu menyimpan dan mengetahui rahasia seseorang yang akan membuatnya bagai hidup dalam kalang tanah ? Mati!

Hei, kau lelaki yang ditemukan mati dengan leher tergantung di belakang rumah, jika cerita anakmu benar bahwa kematianmu sebenarnya adalah di awal tahun 1966, adakah kamu korban kebiadaban saudara sebangsa yang membunuhi PKI dan simpatisannya ? adakah kamu seorang marhenis yang mencoba hayati komunisme hingga kamu harus dibunuh?

Hei, kau lelaki dengan peci hitam di kepalamu. Labirin gelap ini telah membawa tanya yang semakin tidak terjawab. Tiada yang mengenal dirimu. Tiada yang bisa bercerita banyak tentangmu. Anakmu hanya bisa menahan sesak dan amarah. Mencoba lupa semua dibalik beban berat yang selalu menghimpit pundaknya. Tanya dia selalu lebih besar dalam kata abadi “benarkah.” walau mulutnya selalu berbicara bahwa bapaknya mati bunuh diri. Teriakannya dalam diam. Sayat pilu dari pelupuk matanya, dia tidak percaya itu.

Tanya ini berjalan sendiri jauh menuju ujung labirin yang tiada jalan. Mencari jawaban kepada hening malam. Mencari bisikan kepada hujan akan sebuah jawab. Tanya tetap abadi, saat harapan menitikkan air mata untuk sekedar memohon mebasuh dosamu yang tidak terhapus . . . jika benar kamu bunuh diri.

Advertisements

About this entry