Binatang Apalah Kau?

Alm. Mahbub Junaidi pernah bercuap – cuap lucu dengan penuh satir berdendang tentang manusia bangsa – bangsa yang digantikan dengan binatang, yang diakhiri dengan pesan agar simbolisasi binatang dikurangi . . . nadanya jadi 2/3 ketukan.

Orang Jerman digantikan serigala yang sukanya keroyokan, Inggris dibilang seperti singa, ya karena di bendera negara-nya ada singa – lagi berdiri ala manusia dengan dua kaki semacam pertunjukan sirkus. Hingga sampai ke orang kita, orang Indonesia yang beraneka ragam dari sabang sampai merauke – seandainya bisa ku-kecuali-kan bangsa Batak, tapi tak bisa karena Batak – pun Indonesia juga. 🙂

Tulisan Mbah Junaidi sangat amat cerdas pedas dan keras cadas, yang sayangnya tidak bisa serta – merta saya cerna dan “iya – iya” – kan saja bagai kerbau yang dicucuk hidungnya ditarik sana – sini oleh buruh tani. Seandainya, ada percakapan diantara kami, maka kepada Mbah Junaidi (saya mewakili seluruh bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia)  akan saya ucapkan : “diamlah moncong kau itu!” bahkan walau dia belum bicara.

Sudut pandang level 30 kehidupan dengan motto hidup : “mengganggu pada pandangan pertama”, bagi saya, orang Indonesia cepat pelupa mirip ikan mas koki yang tiap dikasih makan akan tetap menyambarnya walau dia sudah dikasih makan dalam hitungan menit silam – bisa mati karena perut meledak kebanyakan makan atau mungkin mirip keledai (bodoh) yang (gemar) terjatuh ke lubang yang sama berkali – kali. Mungkin bisa juga mirip kawanan sapi yang digemukkan yang gampang diiring ke pemotongan asal dikasih makan rutin (entahlah kalau enak).

Dengan penuh kerendahan hati terpaksa harus mengakui sudut asumsi Mbah Junaidi, simbolisasi pada babi kepada “orang kita”. Setuju, jika di-keker dari kecepatan beranak – pinak, orang Indonesia mungkin mendekati binatang babi yang menurut statistik tokcer dan melesat jauh dalam beranak – pinak, dan kalaupun terlalu radikal, peringkat setelah babi, ya marmut-lah lagi – lagi seperti perspektif si Mbah juga. Kalau menurutku, peringkat dua setelah babi, harusnya anjing (hutan).

Garuda? Burung satu itu bukan hewan, itu hanya mitos sesanding dengan Naga buat orang Cina yang sekarang beralih ke Panda. Jikapun bersinggungan dengan unggas – unggasan, maka paling di-ganti-kan dengan (tai) Ayam, yang hangat – hangat saat pertama dan saat keluar dari lubang pengeluaran. Tapi, ini representasi binatang bukan tai-nya atau lainnya. Banteng? gagah kokoh sabar? tapi senggol dikit seruduk? Seruduk – serudukan dan banteng – banteng yang lain melingkar menonton.

Entahlah, gaya penggantian manusia dengan simbolisasi binatang ini harus dihentikan karena dalam lakon amarah Chairil si Indonesia mengaku dan mengklaim bahwa dia (cukup dia saja) adalah binatang – pun – masih ditambah jalang pula, yang tentunya akan merusak kaedah hak asasi binatang yang mungkin tidak sudi disandingkan dengan manusia . . . jalang.

Walau, sekarang, di dunia manusia “modern”, binatang dalam beberapa derajat dan level lebih didewakan dan terorganisir gerakan perlindungan kepadanya. Para filan-natang ini langsung melompati sifat “absurd” para filantropi.

 

Advertisements

About this entry