Pandemonium Puasa

Hiruk – pikuk hari – hari puasa ini rutin hanya di tiga hari pertama dan seumpama sedikit memanjang, bisalah hingga seminggu pertama dalam bulan puasa. Sebuah kebiasaan yang membudaya, bagai kebiasaan korupsi yang membudaya. Cenayang sosial memakai rekam historis suatu peristiwa dalam suatu masa untuk membaca apa yang terjadi di suatu waktu peristiwa yang sama dalam masa berbeda yaitu akan identik “ngikut“. Kalau kata Si Tukang Pikat Daun Muda Bang Kar’no : “Gak ada yang benar – benar baru di bawah bulan sabit; hanya pengulangan.”

Pandemonium Spyridon Louis, Sang Pahlawan Greek di Olimpiade dalam ajang marathon tahun 1896 adalah simbolisasi romantisme kisah kepahlawanan yang sangat mengharu – biru. Medali emas yang dicarinya hanya untuk Helen sang gadis termanis di kampungnya, Marousi, Yunani. Emas olimpiade buat cincin pernikahannya. Ajang 1896 itu menjadi ajang semata wayang Louis sebagai atlet Yunani karena tujuannya hanya Helen. Kisah si tukang angkat air ini ditakdirkan untuk menjadi sangat romantis oleh Appollo.

Benak-ku dengan malu – malu melayang kepangkuan Aphrodite, seumpama semua orang puasa mengejar ibadahnya murni hanya untuk rasa cintanya bagi Tuhannya, tidaklah akan ada sekelumit-pun aral – melintang disepanjang lintasan marathon puasa yang bisa alihkan tujuan. Hanya demi Tuhan. Bagai rasa cinta Louis untuk Helen, yang menuntunnya sampai ke garis finis marathon saat itu.

Akh, pendemonium puasa ini sangat mainstream sudah sukar untuk direkonstruksi, polanya sudah menjadi sejarah, akan sangat aneh jika tidak ada. Selalu akan berulang hiruk – pikuknya. Mungkin sesukar mencari semangat cinta murni Louis yang memenangkan olimpiade ajang marathon semata – mata untuk menarik perhatian Helen, yang kemudian meminangnya dan hidup bersama. Riuh sorai 80.000 orang Yunani hanyalah pelengkap. Louis hanya punya cinta buat Helen, dan seandainya para yang puasa semata hanya ingin membahagiakan Tuhannya tidak akan ada pendemonium “horden warteg yang tidak tertutup” mengganggu cintanya pada Tuhannya. Mungkin tidak ada sorak – sorai dari 80.000 dari orang Yunani atau berjuta orang Indonesia ketika sampai garis akhir puasa, tapi sorak – sorai dari Tuhan – mu bukankah lebih dari cukup?

 

 

Advertisements

About this entry