Ngecap

Kecap Yus No.2! Persaingan pemilihan Kecap DKI 1 di tahun 2017 hingga lima tahun nanti sedang dirancang menjadi sejarah bagi insan politikus kecap kelas teri hingga kelas bulu dan kelas bekas parlemen.

Kembali ke kecap, yang nomor 1 sudah tidak terbantah, Kecap Ahok No.1! Rakyat Jakarta sudah tidak akan salah lagi dalam memilih atau menyebut merek kecap karena Kecap Ahok sudah terbukti kualitas dan rasanya. Kecap Yus No.2! Kecap Uno No.3! dan kecap djamila hubby menyusul di posisi kemudian. Di setiap warung dan pinggir jalan, akan selalu hadir Kecap Ahok.

Ngecap dapat pula diterjemahkan ber-omong kosong ; berbual besar. Sejarah “Ngecap” apalagi kalau musim kampanye jelang pemilihan, sudah khas bahwa politikus kecap sebelum era Kecap Ahok ini sangatlah ringan mulutnya bercuap bak ringan untaian kapas yang jatuh dari pohonnya, sekedar melintas dan segera terlupakan tanpa bekas tertiup angin. Serangan fajar (lebih dikenal dengan operasi sedekahin duit) politikus kecap adalah kontra prestasi bagi para penggemar kecap untuk memilih produk kecap mereka. Panggung pemilihan yang purba itu, para kontestan semua jual “diri” sebagai kecap sama rata sama rasa dan kecap pembuat adil bijaksana makmur sentosa yang rasanya membuat para penikmat, merasa kepala bisa sampai ke bulan tapi selalu lupa kalau kaki nginjak tai di kolong bumi.

Sekarang Kecap Ahok sudah sangat merajai pasar, dan para kompetitor juragan kecap yang sedari dulu sudah terbawa suasana politik uang dalam memenangkan pemilihan kecap sedang kaget – kaget. Kecap Ahok ini harus-lah dijauhkan dari pasar dengan segala macam cara. Susah, sebab jika sudah cinta, dan ter – tato hati di jantung, kemanapun akan dicari. Mau Kecap Ahok tidak didukung Pabrik, tetap aja para pecinta Kecap Ahok meminta Kecap Ahok untuk selalu ada bersama mereka. Semua orang bersepakat agar Kecap Ahok – walau tidak dilabeli produksi pabrik raksasa kecap yang berwarna merah, kuning, biru yang sudah memenangkan kontes berulang kali dengan (tuntutan gentleman) bayaran kembali berlimpah – janjian untuk mengusung Kecap Ahok dari jalur ngulek sendiri tetap dijadikan masuk berkontes dalam semangat demokrasi borjuis. Pertarungan ini seperti pertarungan demokrasi rakyat melawan demokrasi borjuis.

Upaya politikus kecap dan kompetitor sudah mendongeng bagai kisah 1001 siang – malam, tapi mereka sudah terlanjur keluar duit banyak. Mereka sudah alami kegagalan dengan cara ngecap kalau Kecap Ahok produk komunis, tetapi gagal. Komunis itu haram. Kenapa? Ya haram aja! Doktri-nasi yang disuap ke kepala rakyat tentang lakon “Darah itu merah jenderal!” sudah sangat berbekas di otak masyarakat dan kawula tuir dan muda, padahal adegan darah di film ritual tahunan zaman Mas Harto pakainya saos tomat bukan kecap.

Jurus komporganda Kecap Ahok mengandung babi, tetap gagal juga. Kecap tidak butuh babi, justru babi yang butuh kecap. Hingga paling sakti, produksi Kecap ahok disinyalir merugikan keuangan kampung seperti kata Badan Pengawas Kecap (BPK), tapi Komisi Pengawas Kecap (KPK) bilang tidak ada. Sekarang para politikus kecap nomor 2 dan seterusnya join dengan pabrikasi kecap dan yang terdampak dengan popularitas Kecap Ahok sedang merancang, bahwa Kecap Ahok harus dianggap tidak sah dan tidak boleh masuk berkompetisi di 2017. Orang – orang yang getol ngulek sendiri – demi cinta terhadap Kecap Ahok serta kebahagiaan dan kebaikan yang lahir dari Kecap Ahok – direkalah harus mendaftarkan dirinya langsung kepada Komisi Pemilihan Ukecap (KPU) dalam tempo sesingkat – singkatnya sebagai bukti sahih bahwa mereka adalah nyata ada bukan tiada. Mereka  sebagai pemakai Kecap Ahok dalam piring makannya haruslah umurnya minimal 23 tahun, dan jumlah minimal yang mendaftar 500 ribu KTP, kalau tidak Kecap Ahok ini tidak boleh diikutkan dalam kontes Kecap terbaik se-DKI 2017, alias tidak lolos verifikasi.

Perjalanan panjang Kecap Ahok menjadi No.1 di DKI ini sangat banyak rintangan, sudah terlihat jelas bagai gajah di pelupuk mata dan semut diseberang laut. Patut dicatat Museum Rekor Kecap bahwa Kecap Ahok ini akan menjadi sejarah demokrasi sedunia akhirat baik menang atau kalah.

Hidup itu keras, kalau tidak keras tidak hidup! Semoga semakin banyak orang sadar kalau kekuatan itu ada di tangan rakyat bukan pabrik kecap, politikus kecap atau partai kecap.

 

Advertisements

About this entry