Sejarah Para Penipu

Sejak Sekolah Dasar hingga kemarin masih kubaca dengan jelas sejarah bangsa dan tokoh negara yang membangkitkan nasionalisme kebangsaan. Kisah KH Dewantara, Budi Utomo, RA Kartini hingga Bung Karno. Hingga suatu ketika nakal jiwa ini (atas dasar tidak percaya bangsa batak yang keras dan tidak mau diam saat ada yang tidak benar ini) mencari – cari sebuah upaya pencarian tokoh – tokoh lokal daerah sumatera dalam sejarah perjuangan dan kemanusiaan.

Tidaklah ada saya mengenal Tuan Hezekiel Manullang perintis kemerdekaan yang dijuluki “Karno Kecil“, yang parlente berpakaian khas tuan belanda yang dikubur oleh bangsa sendiri karena sudut pandang mayoritas batak yang HKBP karena konon beliau juga menentang gaya campur tangan kristenisasi ala Jerman. Tidaklah juga saya mengenal Zainul Arifin Pohan yang merupakan pimpinan Hizbullah (cikal bakal tentara bersenjata Indonesia), Siapa lagi Tuan Rajiun Harahap penggagas organisasi pemuda kebangsaan (Indische Vereeniging cikal bakal Perhimpunan Indonesia)  jauh melebihi ide Budi Utomo yang bersekat khusus jawa-madura. Tidaklah saya mengenal sosok Sati Nasution alias Willem Iskandar yang sudah mendirikan sekolah jauh sebelum ide KH Dewantara dengan sekolah taman siswanya. Hingga Rohana Kuddus tanpa Raden Ajeng, si wanita pejuang yang ide dan tindakannya jauh melampaui mimpi Kartini.

Sejarah ditulis pemenang, sayangnya pemenang atas bangsa ini adalah segelintir orang Jawa yang jadi penguasa bukan bangsa Indonesia yang jujur yang beragam suku bangsa dan bahasa.

Bangsa Jawa yang sejak ratusan tahun lalu sudah membuat separatisme ke-Indonesia-an di era Pringadi dan Soetomo ketika diperbantukan ke Deli sebagai PNS Belanda, melalui tajuk koran Soeara Djawa dengan “marketing level dewa” untuk berlangganan.

Disebar dulu ke rumah – rumah target dan jika tidak mau berlangganan, diminta kembalikan koran ini dengan tulisan :

tida soedi berlangganan karena saja boekan orang DJAWA atau bukan sahabat orang DJAWA“.

Kisah yang membunuh primodialisme Ananta Toer masih bersemayam diantara primodialisme sempit diluar kebangsaan.

Sejarah yang tidak jujur adalah sejarah para penipu.

Sejarah yang ditutupi adalah sejarah para penipu.

Sejarah yang timpang adalah sejarah para penipu.

Mereka semua yang tidak saya kenal dan jauh dari buku pelajaran sejarah kebijakan Mas Harto adalah orang sumatera. Hanya bisa senyum sendiri ketika tahu ada orang – orang yang berjuang untuk bangsa ini melebihi orang – orang yang tertulis dalam pelajaran buku sejarah dan dijadikan pula soal ujian untuk syarat kelulusan. 🙂

Advertisements

About this entry