Osea Pattege

Tiga tahun lalu, Pace Osea datang dengan senyum manis khas keramahan orang timur Indoneisa. Perawakannya gendut hitam pendek dan rambut keriting khas papua yang dipotongnya pendek, sangat pendek cenderung botak. Osea “dikaruniai” cacat di  kakinya hingga harus berjalan menggunakan tongkat bantu. Osea juga memakai tas noken yang melingkar di bahunya. Dogiyai, sebuah kabupaten pemekaran di Papua, dari sanalah dia berasal.

Semangatnya dan cerita hidup perjuangannya melewati reka drama melankolis penderitaan sinetron sajian televisi mainstream. Tuhan disembahnya mungkin tidak diumbar di setiap tindak dan langkahnya bertemu orang, hanya ketika malam dan sendirian dia tertunduk bercuap rindu dengan Tuhan-nya.

Osea menceritakan tentang perjuangan membangun diri dan daerah tinggalnya. Osea mengajarkan tentang menjadi cerdik dan “licik” sekaligus. Osea masuk dalam semua labirin dan menemukan jalan masuk keluar dan menemukan apa yang dicarinya. Osea yang hitam pendek, bergerak memposisikan diri di setiap kontra dan pikuk yang di – hiruk. Osea mengerti bagaimana menghadapi semua jenis manusia yang ada. Osea mengerti semua sisi orang ketika orang tersebut haruslah dihadapinya. Osea berada di pihak yang benar paling tidak untuk dirinya sendiri. Osea mungkin paham betul, bahwa cerdik akal adalah mahkota orang bijak.

Osea, sangat cukup untuk memenuhi dan mencari tujuannya. Cukup sangat untuk mengatasi dan menerima masalahnya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Osea seorang ahli lobi.

Bung Osea dari Dogiyai berjalan dan menentukan arah jalannya sendiri dan akan diikuti oleh seluruh penduduk di sana. Osea akan menjadi inspirasi. Cerita ini sederhana, sekelumit kecil perjuangan dari bingkai raksasa gerakan perjuangan lobi internasional Benny Wenda yang ingin memilih berpisah dari Indonesia.

“Horaaaas Buuung!!!” sapa Pace Osea kala itu karena tahu saya seorang Batak.

 

 

 

Advertisements

About this entry