Sadjak Amir di Juli

Telah tercatat kemudian dalam sejarah manusia,

Suatu waktu di bulan Juli, seorang wanita muda pakistan dibunuh oleh saudara kandungnya sendiri karena dituduh mempermalukan nama keluarga Balloch yang sedari lahir ditakdirkan menjadi klan sang wanita. Pakistan yang patriarki dan secara kultur dibenarkan “menjajah” perempuan sebagai rakyat kelas dua. Fakta ini mirip dongeng RA Kartini sang pejuang emansipasi Indonesia, bedanya Balloch muda ini harus menghadap penciptanya lebih cepat dan “lucunya” beberapa orang pakistani baik pria dan wanita sendiri memuja “pembunuhan” ini. Sepatah kata selamat bagi Balloch pria yang membunuhnya dan caci bagi Balloch gadis yang dituduh “jalang budaya”.

15 Juli, kemudian ada cerita kudeta militer gagal dari Turki – yang demokratis sekuler sejak era Kemal Attaturk yang di masa Toyyip Erdogan mulai berbelok ke fundamentalis sekaligus juga pro barat – yang dihadang oleh mayoritas rakyat Turki sendiri setelah Erdogan dari tempat liburannya Mediterania meminta rakyat turun ke jalan untuk melawan militer yang “mengkudeta” melalui applikasi sosial media face time. Social media yang oleh Erdogan juga dibatasi di Turki. Social media yang dilarangnya menyelamatkan kekuasaannya saat itu.

Panas bulan Juli juga melanda negeri kita Indonesia, semilir hawa panas pengampunan pajak bagi para penjahat pajak. Pro dan kontra bergulir bergaung. Baik dan buruk tersaji. Sejarah sedang dicatat tentang Juli yang panas ini. Pajak itu kejahatan yang dilegalkan, dan meminta pulang penjahat pajak juga bisa dilegalkan.

Entah di bulan Juli juga sajak – sajak cinta Amir Hamzah terpikir dan dituliskan. Diantara sengkarut kekejaman zaman, Amir Hamzah si Melayu yang menjadi tokoh sastra yang melampaui dan setara tokoh sastra bangsa telah mengukir tinta penanya akan rindunya kepada kekasihnya. Amir itu Raja Penyair Pudjangga Baru bukan sekedar korban revolusi sosial.

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu – bukan giliranku

Mati hari bukan kawanku . . .

Syair Amir ini cukuplah untuk menghargai mereka yang mati dalam sunyi, untuk Balloch gadis Pakistan dan juga 160 – an manusia korban meninggal kudeta gagal Turki, karena ternyata lalu waktu adalah giliran mereka dan mati hari adalah kawan mereka.

 

Advertisements

About this entry