Kesatria Roegoen

Saya mengenalnya. Seorang manusia yang usianya sudah melewati setengah abad hidup. Seorang pekerja keras yang bersamaan bersanding dengan lembutnya hati seorang manusia. Masa mudanya dibentuk karakter para pekerja keras dan sebuah sifat illahi ringan tangan membantu. Senyum dan tawa yang mungkin mulai tidak rutin karena banyaknya masalah yang tiba- tiba menumpuk. Proses bertumbuh dan dewasa dan bijak dalam tua. Bibit hati yang dipupuk oleh lembut hati kelemahlembutan tidak akan tumbuh menjadi karang yang tidak peka pada kesusahan orang lain.

Fakta yang tidak terbantah kemudian bahwa, kecerdasan itu memang semata-mata anugerah. Membaca fakta dan kondisi serta menemukan sebuah tautan maksud dan tautan cara dalam memenuhi maksud sangatlah patut dihormati. Hal semacam itu bisa diperoleh dalam pendidikan formal dan pengalaman terus – menerus tetapi jika semua itu ada sejak lahir, seketika saat menghadapi sebuah masalah, itu adalah sebuah berkah dari Sang Empunya Kecerdasan.

Sebuah sengkarut keserakahan yang berujung problematika hukum yang harus dihadapi telah mendorong pikiran untuk diperas untuk mengekalkannya dalam coretan ini. Coretan himne yang mungkin compang – camping di banyak komposisi frasa dan ide.

Fakta yang akan selalu para ahli filsafat dan profesor serta dokter ahli sesali bahwa hukum dimana kita berserah yang ada disekitar kita, ditegakkan oleh orang – orang yang serakah. Orang – orang yang hilang rasa malu memberi makan keluarganya dengan “haram” – nya uang yang mereka pakai. Haram karena ada luka dan tangis atas kenyang perut yang mereka dapat. Orang – orang yang kita doakan atau kutukkan agar dihukum seketika oleh Tuhan karena mudah – meriahnya mereka permainkan adil dalam rerata timbangan uang suap.

Tercenganglah logika melihat sosoknya yang tidak mengeyam sebuah sekolah formil untuk memupuk kemampuan berpikir dan menautkan sebuah sikap psikologis dan membaca situasi kondisi. Tercenganglah mendengar sebuah narasi bijak dan wejangan sebuah konflik. Singkat padat dan tepat sasar. Tercenganglah terhadap kemampuan kalkulasi melihat sebuah runtutan kejadian kemudian. Keberanian dan kejujuran sepertinya mengalir dalam harmoni untuk mengokohkan setiap kalimat yang terujar. Ada cerewet seorang wanita dan lantang kejujuran sekaligus seorang kesatria.

Sebuah “nepotisme” penciptaan.

Tidakkah keberanian itu sangat mahal? Dan menjadikannya sebagai talenta untuk mengusung kebenaran adalah sebuah sifat kesatria Tuhan. Melampaui kemampuan akal ketika, dipertentangkan dalam pragmatisme dan idealisme. Dia mungkin tidak mengenal kecanggihan istilah itu (pragmatisme dan idealisme) tapi dia kadang sedang menunjukkan sebuah pragmatisme kemanfaatan, saat dia menyisihkan uang hasil keringat untuk mendorong keberanian (“menyogok”) majelis hakim untuk memutuskan sebuah perkara pidana yang sedikit ringan bagi anaknya yang dituduh melakukan kejahatan pengancaman yang direka oleh para aparatur polisi yang terhormat sekaligus biadab dengan nominal uang jalan sebesar 500 ribu rupiah.

Polisi itu jangan diajak ribut ; kasih duit beres!

Hakim memutus bahwa adalah kejahatan-lah membela rumah dan harga diri. Jengkel dan marah melihat hakim kita yang malas mencari kebenaran materiil, buta bagai patung janda gelap mata dengan timbangan tidak imbang. Hanya paham kebenaran dalam radius pintas 1 meter jarak pandangnya dari meja hijau singgasananya. Kebenarannya haruslah sesuai tumpukan bantalan rupiah yang mengempukkan kursinya. Kebenaran yang empuk.

Ingat! Ada uang bereees!!!

Roegoen yang kemudian pragmatis sejak dua hari sebelum putusan dibacakan dan diketok oleh palu hakim yang mulia sekaligus tiada adab pun murahan. Harga diri manusia itu tidak untuk ditukar dengan apapun. Harga diri manusia haruslah dipertahankan dengan segala cara. Walaupun dengan cara membayar harga diri hakim yang tidak menjaga harga dirinya dalam ruang sidang brutal tanpa sepoi – sepoinya angin dari kipas angin. Lima juta rupiah harga 3 orang hakim beserta paniteranya untuk sebuah putusan pidana penjara 4 bulan, walau dia tahu, seharipun sungguhlah tidak layak anaknya mendekam disana. Tuhan menjadi pahlawan bertopeng di saat semua tiang – tiang berpegang runtuh dan kenalan dan sanak saudara menjauh. Tidakkah Tuhan mungkin muncul dalam topeng uang sogokan? Tidaklah sudi berkeluh – lelah kembali berjibaku dengan birokrasi hukum busuk demi harga diri yang tercoreng sang anak yang tak seorangpun penegak hukum perduli.

“Tok . . . tok . . . tok!”bunyi ketukan palu keadilan setelah putusan dibacakan.

“Diputus bersalah dengan putusan penjara empat bulan . . . bla . . . bla . . . bla”

Pelukan hangat menyambut keluarnya sang anak dari penjara di depan pintu lembaga memasyaratkan yang fenomenal. Meredakan amarah dan luka yang haruslah dimaafkan dari dalam demi sebuah kedewasaaan yang tidak semua orang miliki untuk maju dan menggeliat lebih bebas, dan merdeka.

Roegoen kemudian pernah memarahi kepala lingkungan rukun tetangga yang diduga memanipulasi dan menggelapkan uang warga. Dua ratus ribu rupiah di tingkat rukun warga bisa jadi serupa dua triliun di tingkat rukun negara. Tetapi, ini bukan tentang nilai uang, tetapi sebuah prinsip seorang kesatria.

Satu rupiah – pun!!! Jika satu rupiah itu adalah hak seseorang ; berikanlah dan jangan digelapkan!” ucapnya dan terngiang selalu dalam setiap godaan keserakahan yang datang.

Roegoen, tetaplah tersenyum dan jangan lupa bahagia. Sanjungan Kesatria layak dan patut disandangkan bagimu dalam peliknya hidup dan keadilan.

 

 

Advertisements

About this entry