Kebenaran & Filsafat

Kebenaran itu sifatnya mutlak, tetapi kemudian Filsafat yang dipandang sebagai ilmu natural pencarian eksistensi dan kebenaran hakiki pun memfasilitasi kebenaran dengan ragam teori. Dari kebenaran berselendangkan korespondensi keterkaitan, berkerudung koherensi konsistensi, berzirah pragmatis kemanfaatan, berjubah performatif kepenguasaan hingga berpayung konsensus dalam paradigma.

Jika filsafat adalah akar segala ilmu untuk mengkaji objek secara mendalam sampai serabut akar terdalam dan menemukan solusi secara objektif kenapa filsafat tidak dipakai untuk menjadi panglima semua permasalahan? Pragmatisme berujar mungkin karena filsafat terlalu “too good to be true” atau filsafat ini hanya pendeta brewok bangkotan yang sudah bau tanah yang lamban dalam gerak zaman.

Seolah bahwa kebenaran itu dan semuanya teori filsafatis ternyata kembali pada argumen tidak ada kebenaran mutlak saat kita meyakini bahwa ada kebenaran mutlak.

Akh, sudahlah kebenaran ini terlalu romantis, dan orang – orang yang tidak mencintai kebijaksanaan tentu tidak ingin kebenaran mutlak ini ditemukan, atau semata – mata karena daya jangkau ratio memang tidak akan pernah koheren dengan sebuah hakikat.

Lagi – lagi ini hanya argumen yang tidak logis.

Jika melihat dari sudut manusia sebagai subjek (harusnya sekaligus objek bagi manusia lainnya atau baginya sendiri dalam bentuk auto-kritik), kebenaran seperti apakah yang akan dilahirkan subjek – subjek yang munafik hipokrit, jiwa feodal, tidak mau bertanggung jawab, percaya takhyul, watak lemah tetapi dengan daya artistik yang tinggi ?

Mochtar Lubis, bilang kalau subjek dengan ciri – ciri itu adalah orang Indonesia.

 

 

Advertisements

About this entry