Pledoi ; Sebuah Kebenaran Yang Kalah

Pledoi ini sempat dibuatkan untuk menjadi nota pembelaan dari seorang terdakwa pengancaman. Kasus yang mungkin berjuta hadir di hadapan ratusan lembaga peradilan yang kalah terhadap mesin pragmatis kebutaan hukum. Kisah orang kecil lemah — yang masih abadi percaya retorika mengalah untuk menang dan uang selalu ampuh menyelesaikan masalah – menyelesaikan masalah keuangan para penegak hukum paling tidak — yang harus bertarung sendirian melawan mesin pragmatisme hukum. Pledoi ini compang – camping karena miskin formalitas keilmuan hukum tetapi kaya filsafatis keadilan hakiki untuk kasus yang mungkin remeh – temeh dalam bingkai urgensi penegakan hukum.

Kepada Yang Mulia Majelis Hakim Yang Terhormat,

Majelis Hakim Yang saya muliakan setelah Tuhan dan Orang Tua saya,

Jaksa Penuntut Umum yang coba saya hormati,

Ruang Persidangan yang saya percayakan setelah Tuhan . . .

Saya Gindo Harahap, lahir di Laguboti 22 tahun yang lalu tanggal 10 Februari 1992, saya bukan seorang yang ahli atau bahkan mengerti indahnya sekaligus memuakkannya tata bahasa hukum, saya sukses menyelesaikan sekolah saya dari Sekolah Tehnik Menengah (STM) di Balige — saya bilang sukses karena banyak yang tidak berhasil melaluinya entah karena mahalnya biaya atau terseret masalah kenakalan remaja — dan cita – cita saya sederhana hanya untuk meneruskan usaha bengkel warisan orang tua saya dan menjaga kedua orang tua saya di masa tuanya.

Adakah yang lebih romantis dan menguras air mata dibandingkan ketika kelak orang sekampung dengan khusuk menceritakan bahwa :”dia si Gindo adalah anak yang berbakti” ; “Dia dari antara sanak – saudaranya yang berkorban tinggal di kampung meneruskan pekerjaan orang tuanya — pekerjaan yang telah terbukti dan bertahan puluhan tahun– yang membuat para saudaranya menjadi orang – orang berkecukupan seperti sekarang ini.”

Selulus dari STM saya merantau ke Jakarta untuk belajar bengkel dan hampir setahun saya di Jakarta (mulai dari pelatihan hingga bekerja sebagai montir bersertifikat). Dari sana saya mendapat guru yang paling berharga, yaitu pengalaman bahwa betapa susahnya mencari uang untuk membeli makan dan minum dan berharganya setiap waktu dan tetesan keringat. Malang, karena kondisi kesehatan (saya didiagnosa terkena penyakit TBC – Yang Mulia Majelis Hakim pasti pernah dengar yang saya tahunya itu adalah batuk darah) pada bulan Mei tahun 2013 saya kembali ke kampung halaman di Laguboti untuk mendapat perawatan yang lebih baik dahulu. Ini semata – mata saran tiga orang kakak saya yang terjun di dunia kesehatan.

 Saya tidak tahu apa itu Pledoi seperti yang ditanyakan oleh Ketua Majelis, sampai tiba hari ini saya harus menyampaikannya dengan harapan ada keajaiban untuk memaksa timbangan keadilan yang dipegang wanita yang ditutup matanya itu akan berat ke kebenaran, sekali lagi berpihak kepada orang tertindas. Pledoi yang adalah pembelaan dari kursi terdakwa yang saya duduki beberapa bulan ini.

Jadi mohon perhatiannya majelis hakim yang saya muliakan, seperti perhatian para majelis saat mengamati tingkah laku anak anda ketika mulai belajar berjalan, tertatih – tatih dan oleng kesana – kesini. Perhatian dan kepekaan ketuhanan yang ada dalam kemanusiaan para majelis hakim yang mulia dalam pekerjaan kalian untuk mengadili bukan menghukum.

Inilah pembelaan yang dapat saya sampaikan dan utarakan sejak saya ditahan sejak tanggal 26 Maret 2014 sampai sidang hari ini atas sangkaan pengancaman kepada seseorang seperti yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum –yang disekolahkan untuk mencari dan membenarkan tindakan penahanan, tabu meminta maaf walau tahu salah– yang coba saya hormati.

Sampai saat ini saya sudah berada di penjara sudah lebih dari 90 hari, tidur di lantai dan berbagi ruang dengan beberapa manusia yang dikalibrasi tindakannya dalam proses pengadilan atau bahkan sedang menjalani hukuman. Keadaan saya sama dengan para tahanan yang lain di seluruh Indonesia yang berbeda –mungkin hanya mungkin– ada beberapa orang yang merasa asing di penjara ini karena bukan orang batak. Untung saya orang Batak. Seburuk – buruknya penjara ini, tetap saja penjara ini adanya di kampung halaman saya.

Saya dijebloskan polisi sektor ke dalam penjara sejak tanggal 26 Maret 2014 karena laporan orang yang masih keluarga dengan saya yaitu Ompung saya berinisial RA, tapi biarlah saya akan memanggilnya Oppung Serakah sekali dalam pledoi ini. Hak sayalah mengutuk dia yang menjadi setan dalam hatinya tetapi piawai bermanis mulut di hadapan para penegak hukum.  Setan memang akan mengenal dan akrab dengan setan.

Saya orang yang rabun hukum sama seperti beberapa kenalan terpaksa saya di penjara tapi walaupun begitu, saya sungguh lahiriah dan batiniah merasakan dan memikirkan hal yang aneh dan jahat atas kasus ini. Berulang kali sidang dan saksi ini digelar tapi tidak ada pertanyaan yang berimbang dari sisi saya yang adalah seorang terdakwa dalam rasionalitas : “mengapa dan untuk apa”. Saya paham, kalau tingkat intelektualitas dan kecerdasan tiap orang berbeda. Tetapi bagi seorang yang menjadi perwakilan Tuhan dalam tugas pengadilan ini, ketimpangan intelektualitas dan kecerdasan tentunya haruslah tidak ditemukan dalam tiap otak majelis hakim. Para majelis hakim tentunya haruslah orang – orang cerdas dan ber – intelektualitas karena di pikiran dan hati merekalah nasib dan masa depan seorang anak manusia ditentukan termasuk saya.

Tidak pernah ada pertanyaan yang mendasar tentang kenapa terjadi kejadian – yang disebut pengancaman – tanggal 26 Maret 2014 itu. Saya diperiksa hanya semata – mata untuk membuktikan bahwa saya membawa sebilah parang ketika terjadi kejadian tanggal 26 Maret 2014 itu. Kenapa terjadi kejadian  yang disebut “pengancaman” tersebut ; Ancaman seperti apa ;  Adakah saksi dari pihak saya yang dapat menceritakan bahwa laporan RA si Oppung Serakah  –saya sebut kedua kali– hanyalah rekayasa yang dipaksakan. RA adalah betina perwujudan perkawinan keserakahan dan ketamakan semata akan harta pun tinggi hati. Sayang dia paham dan sudah berpengalaman melihat bahwa beberapa orang penegak hukum bisa dibayar dan diatur untuk bersikap. Saya hanya bisa berharap para Majelis Hakim bukan bagian dari oknum – oknum penegak hukum itu.

Hingga saat sidang pemeriksaan saya tanggal 1 April 2014 dan Tuhan mengarahkan Ketua Majelis Hakim untuk memberikan kesempatan memberikan kesaksian dari Ibu saya –sosok yang saya cintai dan hormati, yang saya muliakan lebih dari derajat kemuliaan yang saya berikan bagi para mejelis hakim– tercinta. Saya mulai menumbuhkan benih percaya bahwa akan ada keadilan atas kasus saya ini. Benih ini tidaklah sebesar biji sesawi seperti sabda nabi perantara Tuhan Kristen yang diyakini bisa memindahkan gunung tetapi lebih dari cukup untuk memercikkan kesejukan di hati dalam terik panas kemunafikan.

Pada tanggal 26 Maret 2014, walau harga diri kami sekeluarga sejak zaman moyang pertama marga Harahap diinjak – injak oleh RA dengan semena dan tinggi hatinya menutup akses jalan pintu samping rumah dengan menemboknya, keluarga besar saya tetap merendahkan hatinya untuk meminta maaf atas tindakan saya. Saya pribadi sendiri sudah meminta maaf –walaupun saya tidak tahu kenapa saya harus minta maaf– pada RA. Saya tahu saat itu, saudara tua saya membujuk saya dengan menyuruh minta maaf karena pada tanggal 28 Maret 2014 adalah hari pra – pernikahannya. Tentu saja Abang saya mengharapkan kehadiran saya dalam prosesi penting hidupnya termasuk pernikahannya nanti. Romantisme sederhana orang yang lama dirundung kesendirian dan rindu. Pernikahannya akan menjadi tanggal keajaiban saat dimana kami sekeluarga dapat berkumpul penuh kembali berbagi suka cita setelah bertahun – tahun tidak ada kesempatan untuk itu. Sayang romantisme suka cita harus ada bumbu duka setitik di dalamnya. Duka itu karena muaknya saya pada keserakahan dan kerusakan moral.

Keluarga saya sudah menutup mata atas biadab moral dan dengan rendah hati mengalah atas tindakan pengerusakan dan penutupan akses pintu samping rumah kami yang dilakukan tanpa hati –yang entah dimana tertinggal– serta gelap mata oleh RA. Keluarga kami bahkan saya selalu dan selalu mau berdamai. Amarah mele(dak)-(tertu)tup mendengar perdamaian dengan cara menyuruh Ibu yang saya muliakan merangkak dan melompat seperti kodok dan menyerahkan uang seratus juta!!! Hinanya perbuatan memang sudah dimulai dengan hinyanya pikiran. Saya bingung antara merasa sedih atau marah kepada mahluk seperti RA yang sudah hilang cinta dan rasionalitas berpikirnya.

Pemeriksaan di hadapan sidang sudah dilaksanakan, Yang Mulia Majelis Hakim dan Jaksa telah mencecari saya dengan banyak pertanyaan, tapi bukankah apapun yang akan menjadi dasar adalah apa yang telah kita semua dengarkan selama persidangan? Dengan kerendahan hati janganlah apa yang ada dalam Berita Acara Pemeriksaan formalitas dan penuh rekayasa yang dibuat oleh oknum Polisi Sektor Laguboti, yang hingga hari ini tidak pernah saya atau keluarga terima bentuk – nya. Waktu kala ini benar sesat dan jahat.

Sebilah Parang, Kesaksian RA dan Agust teman sekolah saya tanpa kehadiran seorang saksi lagi –yaitu seorang jawa yang menjadi Tukang suruhan untuk menemboki pintu rumah kami yang berada entah dimana– menjadi pondasi dalam memutus dakwaan ini . Mungkin si Jawa sadar betapa jahatnya yang dilakukannya. Takut dia akan hantaman keadilan –yang faktanya hanya bayang – bayang– dari Tuhan yang disembahnya.

Saya sendiri telah ditanyai dan sudah jelas saya sampaikan dipersidangan. Saya bukan orang yang berbicara plin – dan bertindak plan. Tanyakan itu kepada semua orang yang mengenal saya. Tidak ada plin – plan dan tidak ada ketidakjelasan atau berubah – ubah kata dan sikap diketerangan saya dan semua ucapan saya. Jika saja Yang Mulia Majelis Hakim dapat melihat kasus saya ini dari mata hati lebih netral tanpa terlebih dahulu  tercekcoki dengan cap saya sebagai orang yang pasti bersalah seperti dugaan jaksa penuntut hanya karena tangan yang biasa bekerja ini memegang sebilah parang, saya akan berteriak sepanjang hari di setiap sudut kampung :”Mulia sekali hakim yang memeriksa saya, semoga diberkati mereka dan keluarganya tujuh turunan sampai selama – lamanya!”

Para hakim yang mulia, betapa sulitnyakah melihat apa yang saya perbuat adalah karena membela orang tua dan rumah saya?! Jika melawan sebuah kebiadaban seorang serakah adalah kejahatan di negara ini, maka generasi pecundang – lah yang akan lahir sejak saat ini. Generasi para munafik!

Yang Mulia Majelis Hakim pasti mengatakan saya salah karena seharusnya saya lapor polisi. Sangat lucu dan membuat saya tersenyum hingga ke dalam tidur mendengarnya. Sampai berulang kali melapor dan tiada bosan berharap kepada sosok pahlawan dari antara mereka. Yang menyedihkan, mereka semata hanya sekumpulan seragam yang tidak ada hati dan keadilan di dalam pikirannya. Mereka mungkin hanya sekumpulan orang miskin harta dan miskin hati yang mencari kekayaan dengan menjadi polisi. Tidakkah Yang Mulia Majelis Hakim terlalu paham betul bahwa uang dan imbalan yang menggerakkan langkah kaki mereka? Padahal berulang kali kami telah lapor bahkan hingga detik ini, jawaban yang harus kami hadapi adalah : mereka diam!

Diam itu mati! Polisi – polisi itu mati!

Tidak ada tindakan apapun dari kepolisian. Kenapa?! Saya tidak tahu persis tapi saya rasa mereka punya kesibukan manusiawi atau sifat tidak perduli –yang tidak sepantasnya mereka mengabdi menjadi seorang polisi– yang naluriah. Bisa saja saya salah, yang pasti hanya dan hanya polisi dan Tuhan yang tahu.

Kakak saya bercerita bahwa pada malam menuju pernikahan Abang saya yang pertama, mereka mendoakan supaya ada keajaiban esok paginya tanggal 29 MARET 2014, mereka bahkan mendoakan RA agar diketuk pintu hatinya agar mau “berdamai”, mereka berdoa saya dikeluarkan agar dapat mengikuti acara pernikahan Abang saya. Mereka bersusah – payah mengurus penangguhan penahanan sekedar untuk satu hari saja. Dari polisi sektor hingga polisi resor tapi hasilnya nol besar. Mereka tutup mata seolah saya adalah penjahat kambuhan yang tidak bisa dilepas tanpa alasan apapun.

Yang Mulia Hakim, betapa sulitnyakah melihat saya hanya membela orang tua dan rumah saya atas pengerusakan dan penembokan oleh RA dan antek – anteknya ???!!!

Saya yakin bahwa saya dan kelaurga saya adalah orang-orang yang dizhalimi. Tidakkah doa-doa orang yang terzhalimi pasti akan dikabulkan oleh Tuhan? Saya sungguh heran kenapa para polisi dan jaksa benar-benar berani kepada Tuhan, menghina kecerdasan kebaikan! Mereka tidak menanggapi laporan pengerusakan keluarga kami, padahal itulah cikalnya dengan bakalnya dugaan pengancaman.

Terlalu naif kalau saya bertanya, karena mungkin mereka –oknum penegak hukum–sengaja bodoh –kura – kura dalam perahu– supaya kebobrokan moralnya tidak terbongkar. Mereka para polisi pernah menjanjikan penangguhan penahanan terhadap saya setelah melihat pengerusakan dan penembokan rumah kami tapi ternyata nol hanya bohong belaka! Bodohnya jika kita menaruh percaya pada oknum. Tidak responsif mungkin kala itu. Oknum polisi itu butuh uang untuk menggerakkanya. Seperti permainan mesin di game zone, mesin yang bergerak setelah satu – dua koin dimasukkan.

Bukankah kalian tahu bahwa kalian akan dibangkitkan di hari penghakiman? Penghakiman yang saya percayai dan tentu semata akan absurd dihadapan para majelis dan hukum. Tertawakanlah jika lucu, karena saya menulis ini – pun dengan dorongan rasa lucu melihat mesin pencarian keadilan yang kita naiki bersama.

Hingga hari ini kedua orang tua saya pasti bekerja lebih keras lagi mengalahkan usia mereka untuk mencari makan buat mereka dan saya sendiri. Saya tahu betapa beratnya beban pikiran yang mereka hadapi. Itu semua karena proses pengadilan ini yang harus keluarga saya jalani terhadap ketidakadilan yang sudah terlanjur ini.

Hakim yang saya muliakan, sudah hampir atau lebih dari 3 bulan saya hidup bersama terpidana dan tersangka kriminal (seorang pembunuh, perampok, pengancam dengan senjata api dan senjata air, pencuri truk dan pencuri uang dua ratus ribuan dan sebagainya). Setiap hari saya mendengar bagaimana percakapan-percakapan mereka. Beberapa kelihatan begitu tenang karena mereka memiliki uang dan emas, pengacara dan pejabat backing – nya. Semangat penegakan hukum seperti ini sangat menciutkan nyali saya untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan. Sungguh!

Saya hanya ingin bertanya akan hak orang-orang yang kalian penjarakan termasuk saya. Hak saya untuk hidup dan bahagia dan dihargai sebagai manusia merdeka sampai ada putusan yang mengatakan saya seorang penjahat. Harga sirkus keadilan terlalu murah di hadapan oknum – oknum penegak keadilan, saya berharap tidak demikian dengan para Yang Mulia Hakim. Kemerdekaan orang tidak bersalah bisa direhabilitasi ; Kemerdekaan Majeleis Hakim –memeriksa dan memutus keadilan– ketika dirampas oleh uang bagaimana akan direhabilitasi? Korbannya adalah kami yang dipaksa menjadi penjahat.

Pemeriksaan saya jauh – jauh hari sudah selesai, barang yang dijadikan bukti sudah disita tapi Yang Mulia, saya butuh menafkahi kedua orang tua saya dan bahkan saya sedang  dalam masa pengobatan TBC hingga saat ini. Tidak ada penghormatan pada hak asasi dengan menghormati hukum yang lebih beradab dan beretika? Menggenapi masa tahanan dalam undang – undang dan memaksakan keputusan dan kebenaran versi jaksa dan polisi sepertinya adalah substansi keadilan yang dipertontonkan.

Yang Mulia Majelis Hakim, persidangan telah saya jalani untuk kesekian kalinya dan sudah sepatutnyalah Yang Mulia Majelis Hakim dapat melihat dengan terang dan jelas bahwa kasus ini bukanlah semata – mata seperti diduga kejahatan pengancaman seperti yang polisi dan jaksa tuduhkan dengan serampangan dengan nyata – nyata abaikan kualitas otak dan hati.

Saya menghadapi tuduhan atas pengancaman karena membawa parang. Niat saya membawa parang bukan untuk melukai siapapun karena memotong seekor ayampun saya tidak pernah, dan kecerdasan dan kewarasan serta psikologi saya amat sangat baik untuk melakukan tindakan tak beradab seperti itu. Butuh seorang ahli – kah untuk menunjukkannya? Biaya dari negara tidak – kah memfasilitasinya?

Saya mendatangi tempat kejadian yang dimulai dengan keributan Ibu dan RA dengan niat utama saya adalah untuk membela harkat keluarga / ibu saya dan rumah saya dari pengerusakan dan untuk membubarkan mereka yang menjadi sumber keributan. 

Ku suruh bubar mereka yang bikin onar!

Yang Mulia . . . Saya membawa parang bukanlah dengan kesengajaan dan niat untuk melakukan suatu kejahatan. Karena pada saat itu saya sedang membelah kelapa di halaman rumah. yang Mulia harus tahu usaha bengkel dan jualan kelapa adalah cara keluarga kami mencari nafkah sedari dulu. Tanyakan itu kepada seluruh warga masyarakat Laguboti dan pedagang soto di Laguboti. Mereka akan mengiyakannya tanpa kecuali.

Saya berjalan menuju gang dengan parang masih tetap di tangan, jika kemudian ada kata – kata yang kasar, saya hanyalah manusia yang tersulut emosinya melihat ibu saya menangis mempertahankan harga diri keluarga dan meihat rumah saya dirusaki. Apakah tidak setiap anak laki – laki tidak akan tersulut emosinya melihat ibunya menangis dan rumah sejak lahirnya dirusaki?!

Setelah membubarkan keributan parang itu kemudian masih saya gunakan untuk mencungkil paku yang digunakan membuat perkiraan ketinggian tembok bata yang dibuat untuk menemboki rumah kami.

Saya seorang pekerja yang mencari uang dengan cara yang halal bukan seorang penjahat yang hidup dari pemerasan dan cara yang tidak halal. Datanglah kalian ke rumah wahai para Majelis Hakim Yang Mulia ketika butuh kelapa untuk menyedapkan masakan atau butuh bantuan memperbaiki sepeda motor ketika bermasalah. Begitulah saya mencari nafkah bersama orang tua saya.

RA yang patut diduga sakit jiwanya selalu mengatakan bahwa pengancaman dilakukan pada dirinya dengan parang sudah mencapai lehernya. Sebuah sinetron apik rekayasa dalam pikiran yang lancang tapi sayang terlalu menarik untuk tidak dipercayai oleh para oknum penegak hukum. Tidak sia – sia tayangan sinetron di media televisi kita hingga bisa mencuci otak para oknum polisi yang doyan menonton sinetron di sela tugas piketnya.

Saya ingatkan kembali mungkin RA melupakan kalau saya mengatakan sekaligus agar majelis yang mulia hakim mengetahui, percakapan sekilas kami.

“Ribut aja kerjamu, ganggu orang kerja saja…” ucap saya (dalam bahasa batak).

“Terganggu gimana kau?” balasnya (dalam bahasa batak).

 Makian, jelas saya tujukan untuk menghentikan pengerusakan dan tindakan penembokan, bahkan itu saya tujukan pada tukang yang melakukan pengerusakan dan penembokan pintu rumah langsung. Bukti foto sudah mungkin sudah Yang Mulia Majelis Hakim lihat. Bukti itu tidaklah menipu manis seperti mulut yang digerakkan niat atau kaku seperti berita acara pemeriksaan yang diketik oknum polisi. Foto itu naive sesederhana gambarnya.

Dulu, rakyat Indonesia yang mempertahankan tanah air dan rumah dan harga diri bangsa ini dari serangan penjajah menjadi pahlwan negara, dan saya yang mempertahankan bidang tanah tempat lahir saya, rumah saya dan harga diri keluarga dengan mencaci dan mengusir pembuat keributan dan pengerusakan dipenjarakan tanpa “babibu” semena – mena bagai teroris dan perampok tanpa hati!!!

Jika semata – mata saya mengancam tanpa sebab, maka itu sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar jahat. Orang yang mempunyai masa lalu yang kelam dalam dunia kejahatan. Namun saya bukanlah seorang penjahat yang membawa parang untuk mencari makan dan tidak dididik dengan baik. Saya seorang pengusaha yang menafkahi kedua orang tua saya. Saya seorang manusia yang tersayat dan terluka hatinya melihat Ibu saya berulang kali ribut dan menangis karena perbuatan tidak menyenangkan dan menghina dari RA dan bahkan tersulut emosinya ketika rumah tempat saya bertumbuh dan mencari nafkah dirusaki oleh orang – orang suruhan yang tidak tahu permasalahan demi selembar ratus ribuan semata.

Saya hingga saat ini masih mengkonsumsi obat untuk menyembuhkan TBC saya secara rutin Yang Mulia Hakim. Konsumsi rutin jauh hari sebelum tanggal 26 Maret 2014 pertama kali saya dimasukkan tahanan oleh polisi yang katanya mengayomi masyarakat hingga saat saya bacakan pembelaan ini. Tetap saya butuh perawatan yang sebaik – baiknya, yang harusnyalah patut Yang Mulia Majelis Hakim tahu, tidak akan saya dapatkan perawatan seperti itu di balik jeruji penjara.

Saya kecewa kepada polisi yang berat sebelah dan yang telah menghina institusi mereka sendiri, keluarga kami berulang kali melaporkan dan memohon bantuan polisi di Laguboti bahkan Porsea untuk memproses tindakan pengerusakan dan penembokan rumah kami agar jelas permasalahan ini dan tidak timpang, tapi tidak juga ditindaklanjuti hingga saat ini. Padahal bukankah akan lebih gampang dan berdasar pertimbangan ketika permasalahan ini dilihat secara lengkap?

Jika memakui tembok rumah orang lain dan menutup akses pintu keluar – masuk rumah orang lain tidak dapat diambil tindakan apapun dan membela itu adalah kejahatan, maka saya hanya bisa mendoakan supaya itu tidak terjadi terhadap salah seorangpun diantara mereka yang polisi, jaksa dan Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa saya hingga diadili di sini. Karena saya tahu betapa terlukanya hati dan terlemparnya keadilan melihat orang  yang melakukan itu tetap bisa hidup tenang tanpa merasa bersalah dan sedih.  Tiada penyesalan sama sekali.

Saya selalu bertanya – tanya tiap detik selama dalam tahanan, kesalahan apakah yang saya lakukan hingga harus tidur di lantai penjara hampir 90 hari, sedangkan RA, para polisi dan jaksa yang menjebloskan saya sama sekali tidak merasa bersalah atau sedih. Tidur mereka nyenyak – kah saat berbuat keji seperti ini?

Hakim Yang Mulia, ini adalah kesekian kali saya hadir di depan majelis hakim dan jaksa hingga sidang pembacaan pembelaan ini. Sebenarnya persidangan-persidangan yang telah lewat benar-benar memberikan pukulan yang berat bagi saya dan keluarga. Saya tahu betapa melelahkannya bagi Ibu dan Ayah saya bergantian mengupayakan segala cara untuk mengeluarkan saya dari penjara. Beberapa orang bahkan mengambil keuntungan atas ketidaktahuan mereka akan hukum. Sama seperti saya. Waktu yang sangat jahat kala ini.

Ibu saya tanpa letih dan berani mendukung saya dan memberikan saya kekuatan dan kesabaran. Bahkan Ibu saya memberi kesaksian untuk saya di persidangan ini. Hal itulah yang membuat saya yakin bahwa semua ini tidak akan sia – sia!!!

“Tuhan tidak tidur dan akan menunjukkan kebenaran dan keadilan!”

Jujur sampai saat ini di kepala dan mata saya tersimpan citra buruk dengan ragam serapah terhadap penegak hukum khususnya polisi. Abang saya nomor satu (Albin) selalu mengatakan bahwa kalian Yang Mulia Hakim adalah perwakilan Tuhan. Sebuah profesi yang mulia. Bahkan Abang saya nomor dua (Josua) bercita – cita menjadi hakim semata karena rindunya menegakkan keadilan dan kebenaran. Karena itulah saya masih tetap berdoa dan yakin bahwa kebenaran dan keadilan – lah yang akan diputuskan oleh Yang Mulia Majelis Hakim atas dakwaan saya.

Bahwa Yang Mulia Majelis Hakim tidak akan menutup mata seperti yang dilakukan oleh para polisi dan jaksa atas kasus ini!!!

Yang Mulia Hakim, tuduhan pengancaman yang dikenakan kepada saya bukanlah saya tujukan kepada RA dan persidangan telah terang membuktikannya. Sehingga apa yang didakwakan tidak mempunyai bukti sama sekali apalagi salah seorang saksi yaitu si tukang jawa yang saya lupa namanya tidak juga hadir untuk memberi kesaksian di persidangan ini. Kesaksian yang dalam kepolisian telah mencukupkan rekayasa untuk menjebloskan saya ke penjara. Bahkan yang paling utama niat saya adalah semata – mata membubarkan dan membela orang tua saya dan rumah saya.

Yang Mulia Majelis Hakim . . . semua kesaksian yang lain daripada yang saya sampaikan ini adalah kebohongan yang saya yakin bisa dilihat oleh Majelis Hakim Yang Mulia dengan bijaksana dan terang benderang. Apakah terhadap orang – orang jahat yang berbohong di pengadilan akan Yang Mulia Hakim biarkan ? Apakah orang jahat seperti RA dan pekerjanya yang nyata – nyata telah merusak dan menutup akses pintu keluar – masuk rumah kami juga akan Yang Mulia Hakim biarkan ? Yang Mulia pernah sampaikan agar kami melapor Polisi, tapi lihatlah hingga detik ini tidak ada tindakan dari Polisi, Mungkinkah Yang Mulia bisa memberikan perintah untuk itu? Atau ada basa – basi sirkus dan proses yang harus dilalui?

Saya tidak mengerti hukum tapi hati nurani saya tahu mana yang baik dan benar dan saya yakin Yang Mulia Hakim juga demikian.

Kemudian, Apakah berlebihan jika saya meminta putusan bebas terhadap Yang Mulia Mejelis Hakim?

“Ya! Saya meminta dibebaskan dan dikembalikan nama baik saya seperti sedia kala! Tidak kurang dan tidak lebih baik – nya sebelum saya masuk tahanan pertama kali!”

Apabila penjelasan dan pembelaan yang saya sampaikan serta kebenaran yang muncul dalam sidang tidak bisa mengetuk pintu hati serta tidak dapat juga membuka mata hati Majelis Hakim Yang Mulia maka biarlah ketukan Tuhan yang memberikan kebijaksanaan untuk memberikan putusan yang seadil – adilnya.

Semoga Tuhan memberkati kita semua . . .

 Hormat saya,

Gindo Harahap

Demikian pledoi yang disusun dan dibuat dan direncanakan akan disampaikan tetapi sayang, karena sebuah pragmatisme pledoi ini hanya disimpan dalam map kuing usang yang akan busuk. Pragmatisme itu adalah negosiasi dan pertemuan kondisi : lama putusan dari majelis hakim ; lamanya masa penjara yang sudah dihadapi ; waktu tunggu tersita dalam minggu pledoi asumsi tidak ada penundaan ; dan kekalahan kebenaran dan keadilan dalam pragmatisme kegunaan dan kemanfaatan.

Empat bulan pidana yang dijatuhkan saat sidang putusan dengan melompati hak mengajukan pembelaan, yang berarti tersisa 1 (satu) minggu lagi dari total pidana yang telah dijalani.

Ini pragmatisme dan sebuah pledoi tentang kebenaran, yang kalah. Tentu banyak terjadi di daerah yang jauh dari sorotan kepentingan dan media, karena orang serakah dan egois banyak bermukim di waktu yang jahat ini.

Advertisements

About this entry