Pena (Hati) Multatuli & Pena (Ratio) Ngurah

Masa kolonialisme, orang Belanda yang datang dan bersikukuh menetap di Hindia (Indonesia) yang amat sangat berhasrat bermesraan dengan para feodal pribumi ningrat untuk meng – eksplorasi dan eksploitasi penduduk Hindia lemah dan miskin selama ratusan tahun lebih semata untuk kedigdayaan bangsa Belanda (menyokong dan menopang ekonomi mereka) dan meningkatkan kehormatan tuan dan nyonya bangsa Belanda di antara bangsa terhormat lainnya. Terjadi penindasan dan kesewenang – wenangan di Hindia tapi orang Hindia menerimanya dengan kesadaran dan moralitas yang sangat illahi. Terjemahan sifat orang Hindia adalah sebuah sifat legowo dan kesetiaan dan penghargaan pada para tuannya yang harus dihormati sebagaimana biasanya. Padahal pola penindasan tersebut adalah cikal – bakal sebuah perlawanan seperti yang selalu coba disampaikan Havelaar.

Semut diinjak akan menggigit” ini ramalan Haveelar.

Kolonialisme datang dengan wajah penaklukan yang disebut pembangunan dan modernisasi. Kerja paksa yang disebut partisipasi rakyat demi peningkatan ekonomi bangsa. Diam yang disebut kedamaian yang damai. Pemerkosaan keyakinan yang disebut tugas mulia penyelamatan orang berdosa. Begitulah Multatuli menggelitik raksasa kolonialis dengan tokoh Havelaar – nya. Sosok seorang Havelaar yang adil sejak dalam pikiran yang tampaknya mustahil ada.

Objek karya Multatuli adalah sebuah kesatuan daerah dan masyarakat Indonesia yang disebut Hindia yang (dipaksa) menyatu dengan Belanda – minus Papua – kala itu. Barat (Belanda) adalah kemajuan dan timur (Hindia) adalah ketertinggalan. Adalah sebuah kebenaran umum dan pantas untuk memaksa dan memeras si Hindia tertinggal dengan segala macam cara disertai justifikasi superioritas moral dan intelektualitas untuk menyokong peradaban si Barat yang maju.

Di suatu masa paska lepasnya Hindia (Indonesia) dari kolonialisme Belanda, ditemukan sebuah fakta akan sebuah gaya kolonialisme Indonesia di salah satu wilayah “de jure” mereka, Papua yang dikenal di dunia internasional sebagai West Papua. Seorang outsider papua – lokal Indonesia dari tanah Bali – bernama Ngurah menguliti struktur antropologi yang malu – malu mencoba menggerogoti keberpihakan hati untuk lebih “gentle” atau manusiawi menyikapi sebuah fakta antropologis ada sebuah kondisi terang identik penjajahan (oleh bangsa sendiri) di atas tanah Papua. Para Papua menyebutnya penjajahan karena ketimpangan pembangunan dan diskriminasi karena ke-papua-annya. Penjajahan ini ada dimana – mana bahkan di tanah mereka sendiri. Sejatinya ada pola kesamaan penjajahan Hindia – Belanda dengan Papua – Indonesia yaitu eksistensi para feodal (orang Papua sendiri) yang menggerogoti bangsanya sendiri dan pola pemerkosaan keyakinan dan budaya Papua melalui modernisasi ala Indonesia yang dibawa Barat. Pertanyaannya menilik kisah Havelaar :

Tidak adakah sosok Havelaar dari kalangan orang Papua yang melawan dan melakukan kritik dari dalam?”

Kalau melakukan perlawanan dengan mengambil kutub berseberangan secara frontal jelas sudah ada. Yang dijadikan tapol karena diduga separatis juga sudah banyak bahkan mati entah dibunuh, terbunuh atau bunuh diri. Lima ratus ribu manusia (orang Papua) konon telah menjadi korban cap separatisme ini. Nama pelawan paling mentereng masa ini adalah Benny Wenda. Perlawanannya elegan bertaraf internasional – hingga punya kantor perlawanan resmi di London – yang salah satunya lobi ke dunia internasional meminta refrendum atau penentuan pendapat rakyat (ulang) di tanah Papua.

Multatuli melawan dengan sastra dan Ngurah melawan dengan rasionalitas ilmu antropologi. Berdua, mereka adalah para pelawan terhadap dominasi – dominasi pendapat dan doktrin mayoritas. Tetapi, tetap butuh tokoh untuk mencapai tujuan hakiki perlawanan, seperti sosok Havelaar.

 

Advertisements

About this entry