Preambule : Sebuah Cerita tentang Borges

Ilmu pengetahuan ke-sastera-an ternyata kadang menimbulkan polemik tersendiri di kalangan ahli sastra (seni). Sastra ternyata tidak sesederhana sajak pantun dan rima khas melayu. Ada orang – orang yang bergerak dengan ideologi dalam Sastra Indoneisa. Ideologi sastra mereka kemudian menjadi anti mainstream (mengenai golongan mainstream di Indonesia secara vulgar disebut adalah Group Utan Kayu atau semacam itu). Kritik sastra yang digelontorkan berkali – kali menyerang para tokoh sastra yang dicap “kapitalis” atau tidak murni menyuarakan atau bergerak dalam sastra sebagai ilmu pengetahuan dan pembaharuan. Imu pengetahuan (seni) untuk memberitahukan permasalahan lingkungan dan masyarakat untuk dan demi sebuah perubahan. Bagi golongan mainstream, sastra hanya seperti alat romantisme bagi personal dan golongan tertentu untuk melanggengkan dan memuaskan nafsu pribadi dan golongan tersebut. Mewah dan “wow” di tataran permukaan –bahasa– tetapi tanpa kedalaman dan tujuan yang tiada guna dalam susbtansi.

Riak perlawanan yang cukup menyita perhatian tentunya adalah kisah seorang kritikus sastra bernama Saut Situmorang. Sastrawan yang mungkin (hanya mungkin) juga tak akan mau disebut sebagai tokoh sastra di Indonesia. Dia “arogan” dengan caranya sendiri dalam mempertahankan kemurnian dan progresifitas ilmu sastra baik dari ilmu dan kemurnian dan daya upaya tokohnya (secara personal). Kabar terakhir Saut dipidana 7 bulan dengan percobaan karena melakukan pencemaran nama baik kepada seseorang (bernama Fatin) atau beberapa orang karena aktivitas mereka yang oleh Saut dicap sebagai pencemaran nama baik kepada kesasteraan tanah air yang menurutnya masih sangat pantas untuk diperjuangkan. Kritiknya adalah kepada dugaan sebuah propoganda massive melalui pencantuman seorang bernama Denny J.A sebagai tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia -dalam sebuah buku.

Dia –Saut– kalap dan marah. “Bajingan!” adalah kata yang menjadi akibat dari aksi dugaan propaganda Fatin dan Denny yang -konon- dimulai dari ide sayembara penulisan puisi essai untuk meng – goal – kan penahbisan Denny sebagai tokoh sastra paling berpengaruh.

Preambule ini, sebenarnya seperti curahan hati kebuntuan. Ide cerita Si Borges yang berniat menjadi pahlawan dari sengkarut penistaan danau toba ini menjadi bersinggungan dengan cerita polemik sastra di tanah air seperti di atas. Karena -jujur- niat awal ketika ingin menuliskannya adalah karena sayembara puisi essai Denny J.A –puisi essai ini penjelasan singkatnya adalah tentang penulisan karya sastra bentuk puisi dengan pencantuman catatan kaki referensi faktual dalam karya puisi tersebut– yang dipublish untuk umum. Tetapi kemudian, mengalami pertentangan sendiri dalam gaya penulisan (belum lagi menemukan ritme penceritaan dan alur yang tepat) karena pada dasarnya Si Borges ini harapannya adalah sesuatu dalam seruak sastra untuk menggelitik polemik lingkungan dan masyarakat di sekitarnya –danau toba.

Tidak menyangka bahwa kemudian polemik tersebut menjadi batu kerikil sandungan penulisan kisah Si Borges. Idealisme Saut Situmorang sedikit menjadi penimbang. Mungkin. Persentasi kisah dengan model puisi essay sudah 70% dan akhirnya terpending.

Dilema tetap mengikuti gaya baru dalam literasi sastra Denny J.A yang –puisi dengan catatan kaki faktual– yang dicap tidak pantas menjadi tokoh sastra atau mencari jalan tengah antara penulisan novel dengan sisipan puisi di dalamnya. Ide penulisan karya sastra ini kemudian masih terkubur dalam ide gaya penulisan (dan belum lagi alur dan pengumpulan bahan). Paling tidak polemik si Saut dan Denny via Fatin ini memarkir ide. Proses pendewasaan sebuah literatur karya sastra di antara carut – marut kepantasan seseorang sebagai tokoh sastra ini meninggalkan ide yang tertunda.

Saya percaya, semangat sastra -walaupun sebatas bisikan- adalah untuk menyuarakan kebenaran bukan remeh-temeh semata ritual kultus idola dan penyebutan gelar mewah –dengan sebuah rekayasa– karena hal – hal yang demikian, tentulah dan biarlah sejarah sendiri yang akan menceritakan nama tenar dan pengaruh tersebut.

Di ujung pena di malam ini, si Borges masih menikmati jadi tukang parkir di persimpangan jalan.

Kiriii . . . kiriii . . . munduuur . . . munduuur . . . stoooop!!!” sesekali dihisapnya batang rokok disela jari manisnya di tengah aktivitasnya.

 

Advertisements

About this entry