Hiruk ke Pikuk

Baiklah, seperti semua kata – kata pengkhotbah di bible –di kitab suci umat kristen– yang sepertinya tetap relevan dari dahulu hingga sekarang. Lintas zaman, Pengkhotbah yang menuangkan pemikiran-Nya tentang keutamaan pengejaran hikmat dan kesiasia-an hidup termasuk pengejaran kekayaan dan kekuasaan.

Entahlah kalau di eranya ada almarhum motivator Maryono –yang almarhum profesi motivatornya bukan orangnya– tentulah “bahasa surga” Maryo tidak akan “dibeli” dan laris – manis di kala itu. Karena si pengkhotbah seorang penikmat realis dalam pemahaman idealis atau sebaliknya. Semua “khotbah” Maryono adalah kesiasia-an atau usaha menjaring angin mungkin begitu akan disampaikan si ecclesiates.

Sederhana, karena semua akan berakhir ketika mati. Menerawang jauh, ke zaman pengkhotbah, timbul tanya tentang “simplikasi” energi dan penggunaannya.

Adakah di zamannya Pengkhotbah memikirkan ketahanan energi (global atau parsial daerahnya) yang konon adalah pondasi ketahanan kemanusiaan? Entahlah. Energi yang di-zamannya dulu bisa jadi hanya matahari dan air dan api. Sekarang? Dunia bergerak, ketahanan energi bicaranya sudah tentang minyak bumi, panas bumi, batu bara dan lainnya yang dapat menghasilkan energi untuk menggerakkan industri dan semua itu ada harganya. Ada bumbu efek rumah kaca dan pengrusakan lingkungan yang seharusnya diperjuangkan oleh semua mahluk hidup yang berpikir.

Solar – water stream, wind, geothermal sumber energi saat ini dalam mencari alternatif energi untuk mengatasi ketergantungan kepada minyak bumi yang tidak dapat diperbaharui. Zaman dimana pengkhotbah ada, hal tersebut tentu sudah ada -yang berbeda mungkin teknologi pengelolaannya. Hiruk – pikuk ketersediaan energi ini seperti ajang lomba negara sendiri – sendiri, tidak secara bersama memikirkannya karena pada suatu titik ada kepentingan penguasaan dan ekonomi (baca:uang) dalam semua pengelolaan energi ini.

Dimana Indonesia saat ini? Pikuk di Indonesia masih dan masih sedang mempeributkan keyakinan dan ketakwaan tentang agama; menghakimi dan memenjarakan kebebasan dan kemanusiaan sesama anak bangsa yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsanyanya. Negara follower (baca: pengikut arus) dan terdikte (baca: tidak bisa membuat prioritas mandiri untuk hal prioritas).

Tetapi, benar kata si pengkhotbah, ujungnya hanya kematian, mau menjadi bodoh atau tidak tetap aja akan mati sama seperti nasib orang pintar lainnya. Menjadi mayoritas dan minoritas tidak jaminan membuat masuk surga, anggpan kalau surga benar ada. Mati, paling tidak satu-satunya yang pasti.

Mungkin Indonesia butuh dunia tanpa energi (gelap di malam ; gelap di mendung ; terang hanya di cerah ; memasak dengan pemantik api dari batu ; hal yang masuk kategori romantis lainnya) untuk membuat semakin dekat dengan penciptanya.

Kembali ke zaman pengkhotbah.

 

 

Advertisements

About this entry