Ide dan Realita

Bahasa dewa sering saya dengar dalam setiap upaya membumikan ide dan teori pada tataran realita. Layak eksekusi. Ternyata tidak gampang.

Bahasa dewa yang saban hari kita temui kemudian adalah setiap kata demi kata yang menghiasi lembar per lembar kitab suci agama kita masing – masing. Bibel, saya mengakui sebagai pengikut kristus melalui masterpiece-nya dalam diri Jesus.

Setiap kata dan rangkaian kalimat dalam Bibel yang saban diperdengarkan para ahli kitab dan saya pernah baca, sungguh begitu dan bagai uantaian kata yang menjelma seperti benda keramat, bak awan putih tak bercela. Untaian kata yang sangat terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Bayang-an saya, begitu banyaknya pemikiran dan perkataan yang di-interpresentasi-kan para perwakilan Tuhan dalam setiap bab.

Manusia – manusia suci itu membawa atau mengemban label ke-Tuhan-an dalam setiap perkataan dan ujarannya. Firman. Patut disepakati dengan logika mereka “hanyalah” pembawa dan penulis berita di masanya. Para reporter di masanya. Keakuratan yang diberitakan tentunya akan dipengaruhi banyak pilar sebuah kebenaran berita.

Bahasa dewa yang ada dalam Bibel tersebut, jika kita jujur ada –dan mungkin banyak– tentunya akan saling tumpang – tindih dan saling berkontradiksi dalam satu dan lain hal. Seleksi pemilihan ayat – ayat untuk menghadapi masalah hidup menjadi seperti sebuah undian yang menjurus pada keganjilan. Dalam publikasi konsep wajah dari otoritas ke-kristen-an, sepertinya kita bisa memilih ayat – ayat yang cocok (sesuai) rupa Tuhan yang akan kita bawakan dihadapan khayalak.

Saya melihat ujaran dan ajaran “kasih” yang diagungkan dengan Jesus sebagai ujung tombaknya. Tetapi, ingatlah saat dia dengan (punya) amarah, memporak – porandakan dagangan orang – orang yang berjualan di dalam rumah Bapa-nya. Para pencari makan untuk bertahan hidup. Kasih yang diajarkan tentu akan menjadi kontradiksi dengan sikapnya kala itu. Ini contoh kritis kecil. Sudut pandang nya ada dua: Satu, ada ruang perlawanan untuk melawan hal yang tidak benar. Dua,kasih sepatutnya tidak mengenal merusak dan melawan dengan kasar dan secara fisik seperti orang tak berpendidikan. Bukan-kah begitu tafsirnya? Masih banyak tafsir lainnya, tetapi apapun pilihan tafsirnya, ada kubu yang dapat menguatkan dan melemahkan konsep kasih dan Jesus sebagai pelaku ajaran kasih.

Kemudian teringat sabda:

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”.

Apa yang akan dilakukan orang yang lapar dan haus akan kebenaran? Mereka sepatutnya akan melakukan segala upaya dengan taruhan yang tersisa demi sebuah tetes air dan potongan roti kebenaran. Harga diri, nama baik, sopan – santun dan sebagainya dalam ukuran kesopanan yang duniawi akan diabaikan. Mengorbankan segala yang mereka miliki karena lapar dan haus ini bisa membuat mereka mati. Ini tafsir lapar dan haus dengan pengalaman lapar dan haus perut. Mungkin rasa lapar dan haus akan kebenaran itu memang hanya bahasa dewa yang tidak ada dalam tataran realita.

Sebuah Mazmur Daud, tentang jawaban atas pertanyaan siapa yang akan tinggal dalam sanctuary Tuhan? Mereka adalah orang yang bersikap dan melakukan hal – hal seperti berikut:

He whose walk is blameless and who does what is righteous; He who speaks the truth from its heart; He who has no slander on his tongue; Who does his neighbor no wrong and casts no slur on his fellowman; Who despises the vile man but honors those who fear the Lord; Who keeps its oath even when it hurt; Who lend his money without usury and doesn’t accept a bribe against the innocent.”

Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama – lamanya. Pesan akan kokoh selama – lamanya ini sungguh sebuah candu di suatu titik. Itu seperti tes dalam hidup untuk mendapatkan kekokohan dari segala hal tetapi dengan beberapa sikap yang sangat absurd akan dapat dipenuhi. Semua manusia akan gagal tes. Akan goyah.

Begitu gampang diucapkan. Ide yang indah dalam tataran bacaan dan didengarkan. Suci! Atau Dongeng mungkin!

Realita – nya? Sangat mengecewakan. Bahkan orang – orang yang karena situasi dan kondisi ber-adaptasi memenuhi urusan perut dengan membawa Bibel dan gereja sebagai mata pencaharian, melakukan penyelewengan ajarannya. Konsep carilah dahulu kerajaan Allah maka yang lain akan ditambahkan bagimu sepertinya cukup sebagai justifikasi bagi para pencari nafkah dengan eksploitasi ajaran Bibel ini. Sungguh dangkal.

Realitanya, melakukan kesalahan demi kesalahan dengan berbagai alasan sepertinya hal yang wajar dan jadi aneh jika tidak. Melakukan yang adil? Harus disesuaikan dengan garda perut. Fitnah merajalela yang di-setir oleh kedengkian, keserakahan dan hal picik lainnya. Teman, tetangga, bahkan saudara disusahi dan dicelakakan. Semua orang hina dengan ukuran dan standar dunia di matanya. Tiada yang mulia kecuali seseorang yang datang membawa bongkahan emas dan uang dalam kantong – nya untuk diberikan padanya. Sumpah dan janji adalah sekedar kepandaian menipu dan membodohi, dan akan dipuji mereka yang ahli menipu. Untung dan janji bisa dilupakan seperti air ludah yang disemburkan dengan jijik. Riba? Hukum ekonomi, kebutuhan dan untung. Sepakat. Hukum manusia menyebutnya itikad baik, kenapa pula Mazmur Daud dulu menghukum yang “cerdik” memainkan hal riba akan goyah suatu waktu. Semua akan bersepakat dalam diam akan semua realita ini.

Orang yang tidak menerima suap melawan orang yang tidak bersalah. Hal seperti ini menjadi sangat mustahil dalam ladang nafkah semua orang hingga pejabat pemerintah yang diberi wewenang untuk memberikan hak dan merampas hak. Suap! Siapa yang tidak mencintai uang? Kekuasaan dan gemilang nama tenar? Suap ini bisa mewujudkan apa saja bagi pemberi dan penerimanya.

Realita pahit ini yang tiba – tiba memaksa, di suatu titik melirik kembali sabda bahagia tentang rasa lapar dan haus akan kebenaran. Matius menyebutkan bahwa Tuhan menjanjikan akan memuaskan orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Sudut pandang harus dipahami bahwa orang  yang lapar dan haus ini adalah orang yang bisa jadi amat sangat marah dan labil emosinya. Segala macam cara mungkin akan dilakukan untuk menemukan dan menunjukkan kebenaran itu. Orang yang lapar dan haus ini dalam suatu keadaan dan kondisi tidak akan sama dengan orang yang tidak perduli dengan kebenaran itu atau bahkan orang yang sudah penuh perut dan sudah hilang dahaganya akan kebenaran. Orang yang lapar dan haus ini bahkan adalah selalu orang yang tertindas dan kalah oleh keadaan dunia yang realistis.

Konsep bahagia akan rasa lapar dan haus akan kebenaran ini dengan janji akan dipuaskan seperti candu, bukan karena ada pilihan lain, tetapi karena bagi orang yang lapar dan haus ini, hanya inilah pilihan yang mereka punya. Mengejar kebenaran ini karena mereka percaya Tuhan akan dan harus campur tangan. Konsep pembalasan itu (mungkin) memang urusan Tuhan kembali sangat menggangu konsep keadilan di antara manusia. Kerinduan akan amarah – Nya yang sungguh sangat mengerikan dalam setiap hukuman bagi sesiapa bangsa apalagi terhadap mereka – mereka yang tidak kokoh, yang akan goyah ada waktunya. Inilah ujung rasa lapar dan haus akan kebenaran dari mereka yang tertindas. Pembalasan.

Widji Tukul melawan dan hilang, mungkin mati. Para tertindas bertanya: “Siapa yang akan membalasnya?” Widji itu gambaran dan contoh besarnya. Pencarian kebenaran versi Widji ini berlaku sama terhadap rasa pencarian kebenaran dalam hidup sehari – hari saya, kamu, dia, mereka dan yang lainnya.

Sabda berbahagialah jika masih kokoh mencari kebenaran dan menjadikannya sebagai rasa lapar dan haus, karena akan dipuaskan patut menjadi “candu“.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s