Jadi Apa

Nanti kalau udah gede mau jadi apa?” ini pertanyaan yang saya tanyakan pada anak saya –keenan– usia 1 tahun 8 bulan.

Pertanyaan yang seharusnya masih sangat relevan ditujukan pada saya sendiri di usia kepala 3 di tahun ini. Ganjalan terbesar dalam hidup saya yakni untuk menemukan tujuan keberadaan saya ada dan dilahirkan. Mengenali diri sendiri dan jujur pada keinginan sepertinya amat sangat susah dilakukan. Masalah hukum -berlatar keserakahan dan pejabat polisi korup- datang “menyapa” orang tua dan keluarga “berdampingan” dengan kesibukan tanggungjawab pekerjaan menjadi pengalih perhatian. Perhatian dan fokus pikiran yang pecah, akan hasrat jiwa untuk membela yang benar dengan melaksanakan tanggungjawab pekerjaan.

Ada romantisme masa silam, ide di kepala dan hasrat di hati menjadi seorang pembela kebenaran bagi orang – orang yang tertindas, yang kini jauh bersemayam dalam pencilan hati, yang sangat rentan hilang dan jika semakin dibiarkan akan terkubur jauh hingga terlupakan.

Pribadi ini telah kehilangan visi dan misi hati. Jangan – jangan pribadi ini mungkin sedari dulu memang tidak ada visi dan misi di hati. Realita yang saya pahami, pribadi ini nyata terjebak dalam rutinitas seharian. Menyambung hidup. Pertanyaan – pertanyaan sederhana hidup yang konkrit bagai beban raksasa pertanyaan tentang hakikat hidup yang buntu. Tiada manfaat. Kesia-sia-an hidup.

“Apa yang telah saya lakukan selama hidup?” berkali – kali tanya ini datang singgah di pikiran.

Kehadiran yang tidak memberi pengaruh bahkan saat saya ada, dan pasti ketika mati tidak akan dicari. Ini sangat menakutkan.

Apa yang akan diingat dari saya? Kupandang sosok anak kecil yang sangat penuh rasa ingin tahu di hadapan saya. Darah daging saya. Sosok saya versi baru. Sedang memulai kehidupannya dari nol. Dia akan mencari jati dirinya. Mencari dengan gundah tujuan hidupnya. Bertemu ragam orang dan ragam lingkungan. Dia akan melihat saya sebagai contoh. Melihat saya sebagai sosok panutan. Apa yang akan dicontohnya dari saya? Apa yang harus saya ajarkan kepadanya? Bagaimana mebuatnya menjadi manusia yang melakukan apapun untuk menjadi dirinya yang sejati? Membantunya menjadi dirinya yang membuatnya bahagia? Bahagianya akankah menjadi bahagia sekitarnya? Bagaimana caranya? Menjadi apa?

Hari ini, terkejut kembali menapak silam puluhan tahun mencari hakikat dan tujuan hidup, dan saya rasa masih ada yang mengganjal yang ingin saya gapai. Pertanyaan kemarin kepada anak saya itu, membuat saya tersadar. Ada beban penciptaan akan tujuan dihadirkan di dunia ini. Beban untuk semua orang, termasuk saya dan anak saya. Menjadi apa?

Di titik ini, bantuan (kembali) tak berkesudahan dari Sang Pencipta agar menunjukkan jalan dan membimbing menjadi harga mati. Tuhan dimana?

Advertisements

About this entry