Tu(h)an Hakim

Dia (dan dia) bukan seorang yang mempunyai kekuatan super bak superman. Tidak punya kemampuan sakti – mandraguna. Hanya pendidikan hukum dari tingkat strata 1 dan mungkin hingga doktor atau strata dua hingga bisa jadi seorang profesor. Tetapi, nasib setiap orang yang ditindas dan menindas ada di tangannya. Biasanya mereka berjumlah ganjil. Minimal tiga, ternyata sekarang kemudian mereka berjumlah lima. Tetap ganjil.

Nasib manusia kadang memang diputuskan dengan melihat suara kuantitas bukan kualitas. Voting.

Dia adalah tu(h)an di sebuah ruangan yang di-keramatkan oleh hukum. Hukum yang harus dipatuhi seperti yang di-doktrin oleh Tuan Hobbes. Sebuah simbolisasi kepatuhan keberadaban manusia. Tidak perduli menyakitkan atau penuh tipunya putusan yang para tu(h)an hakim ketuk-palu-kan.

Tok . . . tok . . . tok!

Terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penistaan agama“.

Ini putusan yang sedang ditunggu oleh mereka. Ya mereka yang sedang menghitung uang dari si Tuan Polan, Pressinden Indonesick ke-6 atau mereka yang picik nyaman ber-jubah-kan identitas ketuhanan.

 

Advertisements

About this entry