Menulis Takdir

Hariara.

Mengeja nama – nama orang – orang yang dahulu dikenalnya masih keluarga. Ada kesumat dan iba sekaligus.

Keluarga yang malah menggugat ayahnya. Si tua yang sudah seharusnya menikmati masa tuanya. Semata karena serakah harta. Mereka yang berada di jalan setan, malah merasa benar. Mereka yang menindas malah jumawa. Tiada ketir dan takut. Dari ujung timur ke ujung barat dunia, semua setan ini berperilaku sama.

Mereka menyebut nama Tuhan dengan merdu dan sopannya. Adakah mereka sedang mencoba merayu? atau membodohi Tuhan sang maha? Sungguh aneh saat semua begitu berkebalikan. Yang jahat merasa baik. Membalut setiap busuk dengan kata santun dan menyelipkan nama Tuhan. Bagaimana bisa? Mereka menarik simpati manusia bukan Tuhan. Manusia yang dibodohi dan mabuk dengan polesan kata dan senyum manis. Sebodoh itukah manusia? Sebodoh itukah keadilan?

Tuhan mungkin sedang bermain. Atau Dia sedang terlelap sekejap. Tiada yang tahu. Hanya mereka yang di dunia yang mati atau di dunia para orang suci yang tahu. Meratap mungkin Dia melihat para satria yang diujinya.

“Bertahanlah!” mungkin ini bisiknya melalui senyum istri dan anaknya.

Dengan jalan panjang melelahkan dan menghina seperti ini dilalui ayahnya, Hariara bergumam pada malam.

“Tuhan tidak akan memainkan kami di akhir hari, saat panjangnya gelut dan kemelut yang dibawa para setan ini dihadapi dengan waras!”

Tuhan bisa saja menyentil mulut mereka atau menyentuh hatinya. Tuhan bisa saja memurka mereka atau memeluk mereka. Tapi, Dia tidak sedang akan mengakhiri gelut serakah ini sekarang. Di ujung hari Nya akan ada sebuah akhir. Besok mungkin. Besok dari besok. Besok seterusnya. Entah.

Mereka nyaman bisa membeli aparat penegak hukum mungkin. Membeli polisi, penegak hukum. Yang benar harus merasa takut di hadapan para penegak keadilan. Ini sangat meresahkan. Setan – setan itu bersaudara dengan para setan di instansi penegak hukum. Keadilan apa yang dapat didamba dari amis uang hantu yang dimakan setan?

Menegakkan keadilan memang pekerjaan Tuhan.

Menulis takdir adalah pekerjaan Tuhan.

Hariara berdiri menatap derai hujan di balik kaca rumah. Memorinya menuju kegelapan niat. Dunia yang memberikan ruang sukses bahagia bagi mereka yang menjabat tangan setan dalam memulai harinya. Apakah sebegitunya, dunia berjalan baik bagi mereka yang bajingan?!

Tuhan sedang lelap atau dia mungkin sedang menulis drama tragedi yang akan menghasilkan kisah sukses bagi jalan hidup seorang anak manusia. Dalam drama trgedi ini, Hariara dan ayahnya hanya figuran. Malaikat dan penghuni surga menonton di layar bioskop. Haru dan bahagia. Serapah dan caci sepanjang lakon.

Menanti seorang pahlawan. Pahlawan utusan takdir.

Drama masih berlanjut, para penonton sudah jenuh. Mereka meneriakkan, agar derita dicukupkan. Waktunya saat bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s