Commending Toga’s Spirit

Lelaki itu, berjalan menyusuri rumah tinggalnya. Rumah tua yang ditempatinya turun-temurun dari buyutnya. Dia berdiri di halaman rumahnya. Menghadap jalan besar yang biasa dilewati para pebisnis kala itu. Dia sendiri. Beberapa orang masih menyapanya.

“Horas amang”

“Horas Lae”

“Horas Tulang”

Dia menatap barisan rumah sanak saudaranya di samping kiri – kanannya. Dimana istrinya? Konon, kekasihnya sudah lama berpulang. Dia kemudian menikah kedua kalinya.

Hari itu, hari terakhir pergantian tahun. Istri kedua dan anak-anaknya tidak bersamanya hari itu. Anak dari kekasihnya yang pertama, memilih menjadi “bandal”. Si Lomo, mungkin lari dari keluarga barunya yang tidak mengasihi dan dikenalnya. Dia asing dengan adik-adiknya walaupun satu bapak.

Lelaki, itu berwajah klimis. Wajahnya tenang. Dia memakai baju kemeja putih polos lengan panjang hari itu. Celana hitam dengan sepatu kulit hitam yang dibelinya dari onan di Tarutung. Sepatu pemberian kekasih pertamanya. Istri pertamanya. Meninggal entah kenapa? Lelaki ini tidak pernah bercerita pada Lomo. Lomo pun saat itu masih kecil ketika ditinggalkan Ibunya. Ditinggal mati.

Lelaki itu, bernama Toga. Toga pagi itu, mulai berjalan menuju arah keramaian di desa kecil yang bernama Lagoeboti. Ada persimpangan jalan yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Pusat keramaian untuk berdagang. Sayuran, makanan dan barang sehari-hari. Toga menikmati setiap langkah yang diarahkannya. Matanya merekam semua aktifitas. Semua senyum. Semua kecut. Semua mimik yang selama ini luput dari penglihatannya. Selesai dari sana, Toga berjalan kembali, dari rumah ke rumah orang-orang yang dikenalnya. Sanak saudaranya.

Tiap rumah diketuknya, jika tidak ditemuinya orang-orang yang tinggal di halaman rumahnya. Senda-gurau. Dia seperti mencoba menerima semua pesan, semua keluh yang ditemaninya bicara. Dia seperti akan menyampaikan keluh-kesah itu kepada orang yang bisa menyelesaikannya. Orang-orang yang dijumpainya pun menceritakan dengan lekas dan lepas.

Tidak terasa, hari sudah siang. Perut sudah kerongkongan meminta asupan. Dia berjalan menuju “lapo”, rumah makan khas Batak di dekat rumah tinggalnya.

“Horas tu amang i” sambut yang punya lapo.

Toga tersenyum dan membalas “horas”-nya.

Toga mengambil tempat duduk, di pojok lapo. Di posisi dia bisa melihat semua aktifitas di dalam lapo. Aktifitas di sepanjang jalan besar di Lagoeboti, karena posisi laponya terbuka.

Saksang, panggang, napinadar, sop babi, sayur singkong ulek.

Disajikan. Toga berdoa. Dia mulai makan, tiap gigitan makanan yang disajikan, dinikmati dengan sangat. Ada rasa syukur.

Selesai makan, Dia meletakkan sejumlah uang di meja tempat dia makan, sebagai bayarannya. Karena Dia tahu kalau menyerahkan langsung, pemilik lapo tidak akan mau menerimanya.

Toga kemudian kembali ke rumah. Tidak ada ditemuinya seorangpun di rumah. Istri kedua dan anak-anaknya tidak ada seorangpun di rumah.

Toga,  kemudian berjalan mengikuti lekuk rumah yang ditempatinya selama ini. Dia duduk sebentar di ruang depan. Masuk ke kamar yang dipisahkan sekat kelambu tipis. Dia lihat foto kekasih pertamanya. Foto anak-anaknya dari istri pertamanya. Lomo dan Tiamin. Dia tersenyum.

“Maaf” bisiknya lirih kepada dua anaknya itu. Entah kapan terakhir kali Dia bertemu dengan Lomo. Lomo lebih memilih tidak mau tinggal dengan ayahnya sejak menikah kedua kalinya. Lomo lebih banyak menghabiskan waktu di desa Tamboenan. Satu – dua jam perjalanan dari Lagoeboti. Di rumah neneknya. Di rumah Tulangnya.

Toga kemudian berjalan menyusuri gang rumahnya dengan rumah milik kakeknya menuju kebun di belakang. Rindang di belakang sana. Banyak pohon besar di sana. Pohon durian, kemiri, beringin dan pohon besar lainnya.

Sore itu jam tiga sore.

Toga sendirian di sana. Disaksikan makam ayah dan kakeknya.

Toga menitipkan jiwanya pada Sang Pemilik Jiwa.

Dia tidak melewati malam pergantian tahun itu dengan seorangpun keluarganya.

Lomo pulang malam itu. Dia tidak menemukan sesiapapun di rumah.

“Among… Among…”

Lomo tertidur di ranjang milik ayahnya. Lelah dia berjalan dari desa Tamboenan ke Lagoeboti seharian.

Besok paginya… Lagoeboti mencekam!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s